Interview lists in Bahasa Indonesia




WAWANCARA SYAYKH DENGAN BERBAGAI MEDIA



Ma’had Al-Zaytun tampil mengejutkan banyak pihak. Lembaga pendidikan ini melesat laksana ‘meteor’ yang sukar ditandingi kecepatan larinya. Tentu saja perjalanan Ma’had Al-Zaytun banyak menarik perhatian para wartawan baik media cetak dan elektronik. Satu persatu mereka datang untuk menyaksikan sendiri keberadaan Ma’had Al-Zaytun. Banyak berita yang ditulis mengenai Al-Zaytun. Mereka juga mewawancarai Pimpinan Ma’had Al-Zaytun Syaykh A.S. Panji Gumilang, baik dalam kapasitas wawancara khusus atau sekedar mengklarifikasi informasi.
Beberapa berita kemudian ditulis dengan porsi yang sedikit, tidak berimbang dan terasa “tidak adil”. Banyak sekali rekaman-rekaman wawancara tidak dimuat selengkapnya. Akibatnya, banyak berita-berita yang simpang siur alur ceritanya. Bahkan beberapa berita ditulis secara sensasional untuk memikat perhatian publik. Pemberitaan Ma’had Al-Zaytun terjadi sejak mulai berdiri pertengahan 1999 hingga mencapai puncaknya pada tahun 2002. Bagaimanapun, kemunculan Ma’had Al-Zaytun tidak bisa dilepaskan dari sosok pimpinannya Syaykh A.S. Panji Gumilang. Oleh karena itu jawaban-jawaban beliau kepada wartawan  terekam oleh tim Jurnal Harian Ma’had Al-Zaytun dan sekarang kita kumpulkan menjadi satu, sehingga menjadi kumpulan berita  yang menarik. 
Biasanya berita menghangat menjelang penerimaan murid baru, sehingga menjadi Isu untuk Tahun Ajaran Baru.  Oleh karena itu ketika diwawancara dikatakan, kalau ingin mengetahui siapa sebenarnya A.S. Panji Gumilang, maka “Tengok Padepokannya” di Al-Zaytun. Saking hebohnya pemberitaan, maka banyak wartawan yang malah khawatir akan masuk ke Ma’had Al-Zaytun, apa komentar TVRI? Di Ma’had Al-Zaytun Ternyata Tidak Terjadi Apa-Apa.
Terpaan angin kencang “puting beliung” informasi memang sangat dahsyatnya. Tapi dikesempatan itu Ma’had Al-Zaytun malah mampu memanaje terpaan menjadi keberuntungan, diibaratkan oleh Syaykh pada Majalah Kiblat Ummat: “Kalau Angin Kencang, Maka Pasang Layar Agar Sampai ke Pulau Idaman”.  Ma’had Al-Zaytun berprinsip, “Berjalan Seperti Awan dan Mengalir seperti Air”, tidak pernah memberikan tanggapan yang membuat orang tersinggung, tetapi tetap optimis. “Disana Laki-laki, disini juga laki-laki,” dijawab kepada Gatra. 
Ma’had Al-Zaytun didirikan ditengah-tengah krisis ekonomi dan moral yang melanda Indonesia, namun “Al-Zaytun Mewakili Indonesia yang Tidak Terpuruk”, oleh karena itu “Bangsa Indonesia Harus Optimis”. Optimisme itu penting dalam membuat bangsa Indonesia sebagai bangsa besar. Oleh karena itu “Kami Ingin Indonesia yang Kuat”, kata Syaykh dalam wawancara dengan Timothy Mapes, koresponden  The Wall Street Journal., yang datang ke Al-Zaytun untuk wawancara khusus.
 Untuk itulah semua para pendidik yang ada di Ma’had Al-Zaytun telah berkhidmat untuk memajukan pendidikan bangsa. Semuanya itu sebagaimana dikatakan oleh Pimpinan Ma’had kepada The Jakarta Post, karena  “Memikirkan Generasi yang Akan Datang”. Walhasil demi pendidikan, semua mereka yang  di Al-Zaytun telah bersungguh-sungguh mendidik untuk menghasilkan kader bangsa yang terbaik. Bahkan mereka telah “Berkorban Demi Kebangkitan Ummat”, seperti dijelaskannya kepada Metro TV.
Ma’had Al-Zaytun dibuat dengan semangat pesantren yang mandiri, cinta ilmu dan semangat belajar. Oleh karenanya tema yang ditetapkan di lembaga pendidikan ini adalah, “Pesantren Spirit but Modern Sistem”, semua hajat dipenuhi sendiri. Dengan semangat itu, maka “Jangan Pakai Tradisi, Gunakan Ilmu”.  Dengan ilmu nantinya kita bisa kembali membangun Indonesia. Darimana dananya? Kepada harian Metro Bandung telah dijelaskan: “Dananya Dari Ummat Islam Bangsa Indonesia” Artinya “Al-Zaytun Dibuat Dengan Keringat” bangsa sendiri, tanpa bantuan dari luar negeri.
Oleh karena itu siapa saja yang datang melihat Al-Zaytun, akan membuktikan, “Indonesia Tidak Kehabisan Stok Pemimpin”. Mengapa? Ma’had Al-Zaytun dipersiapkan untuk menjadikan bangsa Indonesia tumbuh terdidik menghadapi era globasilasi. Semuanya ini dibuat untuk “Menyambut Indonesia Tahun 2020”, ujar Syaykh kepada Majalah Tempo.
Tapi kemudian, “Apakah Indonesia akan Menjadi Republik Islam?” tanya Peter Milne dari Van Zorge Report. Itu serahkan kepada rakyat. Karena Indonesia “Ini Negara Demokrasi”. Yang jelas, ditengah krisis yang berkepanjangan seperti ini persiapan-persiapan perlu dilakukan, ibaratnya “Kalau Satu Kapal Tenggelam, Jangan Ikut Tenggelam”. Oleh karena itu jawaban kepada kepada ahli sejarah Timur Jauh Perancis, Dr. Andree Fillar yang juga Kepala EFEO Perancis, bahwa: “Al-Zaytun Dibangun untuk Menyambung Peradaban Manusia”. Untuk mencapai semuanya ini maka diperlukan generasi yang “Bajik Bijak Menguasai Sains dan Teknologi”. Semuanya ini memang merupakan mimpi yang sedang diwujudkan: sebagaimana dijawab oleh Pimpinan Ma’had Al-Zaytun kepada NOS-Television The Netherland, dalam tajuk: “Mimpi-Mimpi Syaykh AS Panji Gumilang” . Dan tentu, mimpi itu hanya bisa dimiliki oleh seorang dengan visi, cita-cita dan  dan jiwa yang besar.
I have a dream, I shall continue to work for that dream as long as life itself, if necessary I shall even die for that dream”-kata Dr. Martin Luther King.

- Editor /’Alim al-Shiddiqie






















BAB I


Wawancara-Wawancara

Dengan

Media Cetak








1. Wawancara The Asian Wall Street Journal dengan Syaykh al-Ma’had AS. Panji Gumilang:
“Kami Ingin Indonesia yang Kuat”

P
erkembangan Ma’had Al-Zaytun sejak awal berdirinya selalu menarik perhatian dari berbagai  kalangan, baik masyarakat, lembaga pemerintah mahupun media informasi, cetak mahupun elektronik. Ada yang melihat Ma’had sebagai lembaga pendidikan yang spektakuler karena berdiri di areal persawahan yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Terlebih dalam usianya yang masih muda sudah mempunyai santri dari berbagai provinsi di Indonesia, bahkan manca negara seperti Malaysia, Singapura dan Timor Timur.
Namun ada yang melihat Ma’had Al-Zaytun sebagai sebuah misteri, karena mampu membangun lembaga pendidikan yang menurut orang terbesar di Asia Tenggara padahal negara Indonesia sedang dilanda krisis. Jika dibandingkan dengan lembaga pendidikan khususnya pesantren yang kembang kempis mengahadapi imbas krisis multi dimensi di Indonesia. Berdasarkan rasa ketidakpercayaan terhadap lembaga pendidikan ini, banyak lembaga yang membentuk tim khusus dan mengirimnya ke Ma’had Al-Zaytun sebagai usaha investigatif.
Seperti juga insan pers. Senin (15/4/02), Ma’had Al-Zaytun menerima dua wartawan ‘The Asian Wall Street Journal’ yakni Rin Hindryati. P dan Timothy Mapes. Tujuan kedatangan dua wartawan ini, ingin berdialog dengan Syaykh al-Ma’had AS. Panji Gumilang sehubungan gencarnya berita tentang Al-Zaytun di Jakarta dan beberapa kota lainnya.
Berikut petikan wawancara The Asian Wall Street Journal dengan pimpinan Ma’had Al-Zaytun, AS. Panji Gumilang yang dilaksanakan di Restaurant wisma tamu Al-Ishlah, Senin (15/4) yang terekam oleh Al-Zaytun.
 Pada dasarnya kita tertarik melihat proyek Al-Zaytun ini karena  mungkin Pesantren paling modern di Indonesia yang pastinya kita ingin tahu latar belakangnya bagaimana Pak Panji Gumilang sampai pada ide ini. Apa tujuan sebenarnya yang ingin dicapai?
Latar belakang Ma’had Al-Zaytun ini didirikan dilatarbelakangi oleh perjalanan sejarah bangsa dan sejarah ummat manusia di dunia. Abad lalu abad 20 adalah abad yang perlu kita iktibari karena di dalamnya terjadi berbagai perang. Diawali perang dunia I, kemudian tidak lama dari itu terjadi perang dunia II, terjadi blok-blok besar, blok barat, blok timur sampai terjadilah perang dingin. Al-Zaytun tumbuh pada saat perang dingin berakhir. Perang blok barat, blok timur berakhir. Kami mengambil iktibar sejarah itu. Kedepan dunia tidak boleh terjadi lagi perang seperti abad yang lalu. Karena kami tinggal di Indonesia maka Indonesia harus damai. Diilhammi dari itu maka kami berfikir hanya satu cara menciptakan keseimbangan dunia itu hanya dengan keseimbangan intelektual. Keseimbangan intelektual itu dapat diwujudkan dengan menciptakan pendidikan yang baik. Dari itu diilhami dari keingianan untuk menciptakan perdamaian dunia, minimal terjadi di Indonesia, jadi Indonesia damai. Maka kami bercita-cita ingin menyumbangkan itu melalui pendidikan.

Kalau kita bandingkan dengan pesantren umum Al-Zaytun ada perbedaan, sebenarnya apa yang ditawarkan Al-Zaytun?
Kita sebenarnya tidak ada perbedaan, kalau kita berbicara pesantren. Maka motto kami disini “Pesantren Spirit But Modern Sistem”. Cuma sistem saja yang kita coba mengikuti jaman modern, karena sekarang adalah jaman modern yang harus punya visi, jaman yang harus punya organisasi yang baik, jaman yang harus mempunyai kecerdasan yang tinggi, jaman yang harus punya kerja kuat, jaman yang harus berdisiplin. Itulah yang kami simpulkan dalam makna modern tadi. Jadi, intinya sama pesantren spirit seperti yang ada di Indonesia ini tentang pesantren, mungkin yang membedakan modern sistem. Maka kami wajib menempuh modern sistem ini karena sesuatu cita-cita besar di jaman modern tidak didukung modern sistem dan sarana modern kita akan kesulitan mencapainya.kalau itu dikatakan sebuah perbedaan, tapi kami tidak merasa perbedaan.

Mungkin sedikit tentang spirit pesantren?
Spirit pesantren intinya adalah mandiri. Kehidupan pesantren itu mandiri, tidak ketergantungan kepada apapun dan itu yang akan kami tumbuhkan dalam pendidikan. Akibat dari pendidikan inilah kita ciptakan kemandirian. Itulah jiwa pesantren. Independen ini maknanya potitif bukan yang negatif. Satu contoh misalnya bagaimana kita dapat mendanai satu kegiatan tidak mengharap pertolongan dari siapapun, kita berusaha dengan cara yang baik untuk mencapai tujuan. Pesantren tidak mengenal tujuan menghalalkan segala cara. Output dari pesantren nantinya akan dapat mengangkat dirinya sendiri, tidak ketergantungan menjadi pegawai, tapi dia mampu menciptakan pekerjaan untuk lingkungan dan dirinya. Itu yang dimaknakan dengan pesantren spirit.

Apa yang diharapkan dari lulusan Al-Zaytun?
Kita harapkan  lulusan dari Al-Zaytun ini menjadi manusia yang dewasa. Ini yang kita garis bawahi kata dewasa itu. Di Indonesia ini penduduknya cepat tua lambat dewasa. Jadi kita inginkan lulusan Al-Zaytun ini menjadi menusia dewasa yang cerdas. Kemudian mempunyai satu semangat kalau bahasa kami: ‘Bajik’ dan ‘Bijak’. Cerdas, bajik, bijak dan menguasai sains dan teknologi. Yang selanjutnya dalam bernegara mereka cinta negara, mengerti tujuan bernegara dan cita-cita bernegara. Cita-cita dan tujuan hidup bernegara itu menjadi sikap hidup mereka selama menjadi warga bangsa Indonesia. Atau karena nanti bangsa-bangsa lain ada yang masuk kita ciptakan seperti itu di negerinya.

Ada nggak cita-cita dalam kancah politik barangkali Islam akan memainkan peran dalam negara Indonesia yang modern. Apakah  ditanamkan seperti itu?
Kita menanamkan satu pengertian secara global. Karena kita ingin pendidikan di Al-Zaytun ini Global Education. Global Education itu at-tafkir al-‘alami (global tinking), kemudian terjadi at-takaful al-‘alami(global solidarity), kemudian al-wadho al-‘alami (global setting). Arah itu lah yang kami ciptakan. Karena Islam dengan pendidikan yang global tadi mempunyai kesetaraan, dan kesamaan. Jadi kalau kita berbicara pendidikan antar bangsa dan global education itulah ultimated goal pendidikan dalam Islam. Kami tidak bisa membedakan global education atau Islam education kah, keduanya sama.

Kalau peran sendiri di Indonesia misalnya mengimplementasikan syariat Islam atau membentuk negara Islam, ada nggak tujuan seperti itu?
Kami menginginkan Indonesia masa depan adalah Indonesia yang strong, Indonesia yang kuat yang dapat berdiplomasi antar bangsa. Negara besar yang full stong katakanlah USA, Jepang, Jerman, Perancis, Gread Britain, Italy, China, India. Kita inginkan Indonesia seperti itu. Sehingga negara-negar besar kecuali cina tidak saling menyerang, kerna mereka punya satu kode etik yang dilaksanakan yaitu modern demokrasi. Maka terciptalah zone of peace democrasi. Kita inginkan Indonesia masuk ke dalam zona itu. Negara demokrasi yang baik tidak membatasi apapun yang akan terjadi di masa depan. Karena nasib negara dan bangsa tergantung bagaimana demokrasi yang berjalan.

Kalau melihat kemampuan Indonesia seharusnya sudah mampu tampil dikancah dunia, apa kira-kira yang menyebabkan Indonesia tersendat untuk maju?
Indonesia hampir sama nasibnya dengan Rusia setelah perang dingin. Rusia pecah di dalam, meskipun memiliki peralatan besar tapi kekuatan internalnya pecah. Setelah internalnya pecah tidak stabil, peralatannya hanya untuk devensif saja. Tidak bisa untuk berdiplomasi antar bangsa. Indonesia pun seperti itu. Pada jaman pembangunan yang lalu Indonesia dikatakan New Tiger of Asia, sekarang kesempatan itu hilang. Maka terjadilah ketidakstabilan politik. Sedangkan syarat mutlak kemajuan adalah stabilitas politik (power sharing) yang mangikutsertakan seluruh kekuatan yang ada di Indonesia, partisipasi dan segmen di Indonesia. Sekarang belum nampak itu.
Kemudian pembangunannya tidak mengarah kepada industrialisasi yang jelas. Industrialisasi ini dimulai dari dimulai dari pendidikan dan pembangunan masyarakat desa, lalu pemerataan kemakmuran atau kekayaan.

Dimana posisi dan peranan Islam dalam indutrialisasi?
Kita berbangsa dan bernegara jangan mengatakan peran Islam atau peran Yahudi, Nasrani, tapi peran bangsa. Karena mayoritas bangsa Indonesia ini adalah Islam di situ sudah include. Tidak bijak kalau kita berbicara peran Islam, mestinya peran bangsa. Tatkala berbicara peran bangsa maka kita berbicara stabilitas politik.

Karena Islam mayoritas apakah akan memasukkan unsur Islam kedalamnya, melihat semakin banyak tuntutan untuk memberlakukan syariat Islam?
Kita memaknai Islam: Islam is system of knowing, being and doing. Karena Islam itu cinta ilmu, maka penduduk yang mayoritas Islam harus dibawa kepada cinta ilmu. Learning, relearning and relearning  yang tidak putus-putus.
Islam adalah sebuah system of being (kehidupan) yang tidak membedakan antara suku dan macam-macam lainya. Dan Islam adalah sistem kerja (doing), maka kerja ini masuk dalam sistem modern juga harus diciptakan etos kerja yang tinggi. Kalau Islam diterjemahkan seperti itu maka nilai antara Islam dan nilai kebaikan, antara nilai Islam dan nilai kebaikan antar bangsa semuanya satu. Karena Islam itu adalah kepatuhan dan kedamaian. Kalau Indonesia sudah damai mungkin itu yang anda maksudkan dengan Negara Islam, kalau sudah damai?

Kalau begitu cita-cita politik itu tidak harus digabungkan dengan simbul agama, Negara Islam?
Itu serahkan pada yang mau. Tapi kalau anda bertanya kepada saya, seperti tadi jawaban saya. Jangan saya dipaksa untuk membenarkan pendapat orang atau menyalahkan pendapat orang. Sekarang kami sedang belajar berdemokrasi, menghormati   pendapat orang.

Kalau boleh minta pendapat Pak Panji tentang Abu Bakar Baasyir, beberapa bulan lalu mengedakan seminar tentang Amandemen Undang-undang Dasar’45 mengubah menjadi Negara Islam. Menurut Bapak apakah bijaksana?
Saya belum mengenal beliau secara pribadi, belum mengenal pendapat-pendapatnya. Adapaun kalau ada pendapat seperti itu sebagai seorang demokrat kita harus mendengarnya dan di Indonesia sudah mengarah kepada negara demokrasi atau kehidupan demokrasi. Kita serahkan yang menjadi hakim keputusan yakni rakyat, rakyat mengatakan apa nanti. Rakyat hari ini kita berikan didikan yang baik, maka apa nanti penerimaan mereka apakah akan menerima dengan baik atau menolak dengan baik, serahkan pada rakyat.

Beberapa hari ini rakyat banyak yang mengkritik, juga buku yang terbit banyak mendeskreditkan Al-Zaytun. Mengapa mereka mengeluarkan kritik semacam itu?
Pertama, kami sendiri tidak terlalu memahami kemauan orang-orang itu. Kedua, semua tulisan berbeda jauh bahkan bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Al-Zaytun. Ketiga, sangat mungkin Al-Zaytun ini mengejutkan masyarakat (social sock) atau (future sock) . Itu kemungkinan, karena bangsa Indonesia terbiasa tidak menghormati karya orang lain yang berkarya. Tapi sering terjadi kurang arif mengkritik ingin disamakan dengan keinginan mereka. Maka tatkala tidak ditemukan apa yang sama dengan kemauannya maka mereka membuat pembenaran-pembenaran bukan kebenaran. Saya yakin itu yang tejadi sekarang ini. Bila tidak akan lebih baik kalau melihat kemari, apa adanya disini. Mereka yang menulis belum pernah melihat apa yang ada di sini, kalau kata orang Arab: Killa wa.. Qolla (katanya-katanya..red).

Mungkin dari orang yang tidak sejalan dengan visi Al-Zaytun?
Kalau kita katakan tidak sejalan, mungkin kita sudah pernah berkumpul dan berdiskusi. Kita tidak kenal penulis-penulis itu dan tidak pernah berdiskusi, jadi kita tidak bisa menyimpulkan apa kemauan mereka.

Kalau kemauan politik mereka apa, ya Pak?
Itulah yang kami tidak paham.

Apakah Bapak tidak MUI membentuk tim khusus untuk investigasi ke Al-Zaytun?
Bagi kami tidak ada kecewa apapun. Kalau kecewa berarti ada setitik yand di ragukan itu di dalam lingkungan kita. Di sini terang benderang tidak pernah gelap gulita mengapa harus kecewa. Adapun Depag telah membuat tim investigasi, kami buka berhari-hari di sini. Tidak ada kekecewaan apapun.

Kalau mengenai ajarannya katanya sesat, karena ada pengaduan dari beberapa orang tua siswa?
Di sini yang dinamakan ajaran, kurikulumnya dari Departemen Agama (Depag) dan Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) yang dicobine menjadi satu. Kita juga adakan tambahan hafalan al-Qur’an. Kalau itu dikatakan ‘sesatkami tidak tahu harus merujuk kurikulum mana kalau dikatakan sesat? Toh, itu dilakukan di seluruh Indonesia. Kedua, aduan-aduan dari orang tua santri, satupun bukan orang tua santri Ma’had Al-Zaytun. Yang katanya 20 orang mengadu ke DPR, ke Polisi itu semua bukan murid Al-Zaytun.

Kalau yang mengadu ke MUI ?
Kalau yang di MUI kami belum paham. Kalau santri-santri yang keluar tentu ada, tapi dari jumlah 5.300 pelajar sekarang tinggal 5. 275 pelajar, itu sangat kecil sekali. Itu intinya yang keluar merupakan anak yang tidak kerasan (home sick),  kenakalan remaja. Kami inginkan orang tuanya mengambil karena di sini sudah tidak sanggup mendidik. Itu adalah hal yang wajar pada dunia pendidikan jika ada anak yang tidak kerasan dan adanya kenakan remaja yang tidak tertanggulangi. Semuanya itu kita diskusikan dengan wali murid.

Sumber kecurigaan itu adalah sumber dana. Al-Zaytun merupakan pesantren baru namun dapat membangun fasilitas modern dibandingkan pesantren lain yang kembang kempis membangun?
Kalau kita berkemauan membangun seperti ini karena kami punya kemauan, kemudian kami bekerja untuk menciptakan kemauan ini. Karena kami menginginkan pendidikan modern yang harus dibantu oleh sarana-sarana modern yang salah satunya menyediakan fasilitas-fasilitas seperti ini. Dan fasilitas seperti ini pasti memerlukan dana. Dan itu berasal dari kemauan kami. Kita serahkan kepada masyarakat yang menyetujui perjalanan misi pendidikan ini. Ternyata tidak sedikit ummat Islam mempunyai visi seperti ini, akhirnya mereka dengan suka rela memberikan sumbangan dana kepada Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) yang mendirikan Ma’had Al-Zaytun ini. Tapi sudah barang pasti diawali dari kami-kami yakni pengurus pesantren atau pengurus yayasan. Yang ada saja seperti Pak H. Syarwani, Ketua YPI, Pak AS. Panji Gumilang, dll. Sedikit-sedikit yang kita punya kita serahkan. Ibarat kita mencari ikan besar kita berkorban untuk mendapatkannya. Setelah kita bangun sedikit demi sedikit masyarakat mulai memberikan. Ini bukan dana yang besar yang diberikan masyarakat, tapi dana kecil yang di manage dengan baik. Tidak ada masyarakat yang memberikan sekaligus satu milyar, tidak ada.

Untuk awal pembagunan infrastruktur katanya ada dana sekitar 1,3 triltun dari orang-orang orde baru?
Tanya sama sumber informasinya.

Jadi itu tidak benar?
Lha, bagaimana wong sudah dikatakan bahwa dananya dari ummat Islam bangsa Indonesia. Dari seperak dua perak ini, nggak ada trilyun.

Biasanya lewat apa sumbangan itu?
Bisa lewat pribadi, ada yang datang langsung, ada yang masuk ke rekening kita. Ini hari-hari masuk dari sekian orang. Disamping dari uang yang diberikan wali murid, US$ 1,500/ orang pada waktu memasukkan anaknya kemari. Sekarang kita tetapkan US$ 2,000 dan kami minta di depan kemudian kami olah karena kami punya kegiatan ekonomi. Dari uang itu kita dapat bergerak di bidang industri, pertanian, perdagangan dan berbagai aktivitas kita buat. Karena kita akan membuat sesuatu yang besar maka kita harus membuat yang banyak.

Kalau dilihat dana pembangunan disini kan besar, bahkan lebih besar dari dana yang diberikan dari wali santri, orang-orang, dll?
Untuk murid itulah bentuk subsidi kami terhadap bangsa Indonesia. Subsidi dari YPI kepada putra-putri bangsa Indonesia sehingga mereka mampu belajar dengan baik dengan biaya yang ringan. Memang ini irasional kalau dihitung secara ekonomis, tapi itu kebajikan yang dapat kami buat untuk bangsa Indonesia. Mengenai pendanaan-pendanaan yang lain anda melihat hari ini sudah besar, sehingga dihitung. Sebenarnya ini awalnya kecil. Kami tanam, kami inves, kami bangun menjadi besar baru orang terkejut. Semua dapat berbuat ini kalau yakin, kalau mau, kalau jujur, kalau tidak korup. Sebab  bangsa Indonesia ini sangat bajik kalau diajak berbuat kebajikan bila ada yang mengajak, bila ada yang memanage, bila ada yang dipercaya.
Ma’had ini dibangun tahun 1995/1996 dan sangat lama berdirinya. Setelah berdiri satu bangunan pendidikan dan satu asrama baru kita buka pembelajaran (1 Juli 1999) dan diresmikan Presiden Habibie pada 27 Agustus 1999. hari pendidikan Al-Zaytun baru berusia 2 tahun 10 bulan.

Kalau rata-rata satu tahun dapat berapa sumbangan?
Satu tahun kami membangun satu gedung pembelajaran  (18.000 m2) dan satu gedung asrama (22.500 m2). Kalau kita kalkulasikan 1 m2 seharga RP500.000 semuanya 25 milyar dan disini semua dijalankan sendiri sehingga sangat murah. Kalau di Jakaarta membangun 100 milyar disini paling tinggi 25 milyar bisa jadi.
Bagaimana hubungan ICMI dengan pesantren ini?
Sama halnya hubungan kami dengan organisasi yang lain. Ada pun Pak Habibie meresmikan karena beliau presiden pada jamannya, andainya pada waktu itu Pak Harto mungkin Pak Harto yang meresmikan.

Banyak pesantren tapi mengapa Pak Habibie datang ke sini, mungkin ada kedekatan politik?
Kami minta, kami mengundang beliau. Pak, ini kami punya pesantren sudah dibuka 1 Juli tolong resmikan. Sebagai bangsa Indonesia beliau pimpinan kami rakyat, kalau pimpinan dekat dengan rakyat harus dicurigai?

Mungkin ada alasan khusus sehingga beliau mudah datang ke sini?
Bukan dengan mudah. Kami mengundang presiden itu tidak mudah. Kami tidak yakin beliau mau datang. Pak Habibie ke pesantren yang nggak dikenal orang pun datang. Bukan satu-satunya ini. Bahkan kami iri, yang lain diresmikan kok yang Al-Zaytun nggak?

Ide darimana Pak Panji membangun pesantren ini. Atau karena diilhami sesuatu?
Awal tadi sudah kami terangkan. Juga kami mendapat ajaran dari kitab kami harus banyak berjalan dan belajar. Kalau kami ke Eropa, Australia, New Zeland bukan untuk shoping tapi kami mengunjungi pendidikan yang baik. Kami ke Timur Tengah juga seperti itu, ke Indonesia juga kami melihat mana kelebihan mana kekurangan. Jadi dari belajar membaca apa yang ada di dunia ini.

Menemukan tempat ini?
Kami tidak menemukan tempat ini, kami sudah mencari ke seluruh Indonesia tempat yang luas, yang baik, yang murah. Inginnya di Jakarta tapi uang tidak cukup. Tatkala kami berjalan menemukan tempat ini, harganya dapat dijangkau, cukup luas maka kami mulai membangun.

Murah karena apa?
Kami tidak tahu. Di Indonesia tidak ada yang mahal kecuali di Jakarta dan kota-kota besar. Sekarang banyak orang membicarakan di sini strategis karena sudah dibangun.

Kalau backgroound Pak Panji sendiri apakah pernah dipenjara?
Saya tidak pernah dipenjara, cuma pernah ditahan. Kalau orang dipenjara sudah dihukum.

Berapa lama?
Saya tidak ingat tapi cukup membuat saya untuk merenung dan bercita-cita.

Diahan karena apa?
Sudahlah itu masa lalu nggak usah diinga-ingat, sekarang kita sedang membangun bangsa.

Mungkin sebagai pengetahuan saja?
Dijaman orde baru. Orde baru menahan karena waktu itu banyak hal yang kalau tidak sesuai harus ditahan. Sudahlah jangan diungkit-ungkit sekarang kita sedang membangun, bagaimana kita menata bangsa ini. Masa lalu adalah masa lalu kita tengok pakai mata hati, masa depan kita tengok dengan mata kepala.

Ide ini munculnya pada waktu ditahan atau bagaimana?
Sebelum ditahan. Jadi agar bisa dibedakan. Di Indonesia ada dua, ditahan dan dihukum. Kami tidak pernah dihukum karena kami tidak pernah diadili.

Kami hanya ingin tahu sebab banyak orang yang pernah ditahan menceritakan apa adanya. Kalau Pak Panji Gumilang apakah tidak sopan atau tidak ingin menceritakannya?
Sopan juga. Itu justru bagus. Tapi kita tidak detailkan politik masa itu. Siapa yang tidak disukai akan ditahan. Waktu itu kami termasuk pemuda yang suka bergerak, suka berbicara, suka memberikan koreksi-koreksi, itu saja.

Kira-kira kapan?
Tahun 1978-1979.  Ya begitulah dua tahun tak sampai satu tahun lebih.

Mungkin ingin belajar dari kesalahan kemudian memperbaikinya?
Kalau saya dihukum saya akan belajar. Tapi saya tidak dihukum. Jadi harus belajar dari apa yang pernah dihukum. Saya hanya disuruh berhenti dari kegiatan dan ditempatkan disuatu tempat. Itu tidak perlu dijadikan pelajaran. Dan hidup saya dari kecil konsis di pendidikan. Dari sejak sekolah, tamat sekolah, mengajar sampai dengan hari ini.

Pernah di pesantren?
Di Jawa Timur, namanya Gontor, pernah di IAIN Jakarta dan jalan-jalan keluar negeri pengen tahu pendidikan di luar negeri.

Kalau orang tua?
Kalau orang tua menjadi pendidik langsung tidak. Tapi di pemimpin desa dari sejak jaman Belanda samapi Orde baru hingga wafat. Tapi beliau punya sekolahan. Dari situlah jiwa pendidikan muncul. Kemudian sekolah diserahkan kepada yayasan dan kami disekolahkan agak jauh dari desa. Kami minta ijin untuk menjadi pendidik bukan menjadi kepala desa, dan diijinkan.

Kapan memutuskan terjun kedunia pendidikan?
Sejak SD tatkala orang tua mempunyai sekolah namanya ‘sekolah Arab (Madrasah). Cita-cita itu tumbuh bahwa saya nanti akan memimpin sekolah yang didirikan orang tua saya. Ternyata sekolah itu diserahkan kepada yayasan yang lain. Ketika kami bertanya mengapa sekolah diserahkan kepada yayasan, orang tua bilang “kamu nanti akan tahu sesudah dewasa”.

 Kapan lahir?
Kalau dicatat kami ini sudah diatas 50 tahun tepatnya lahir tahun 1946.

Melihat kondisi sekarang banyak teroris, perang, bagaimana Al-Zaytun menyikapi ini semua?
Seperti kami katakan tadi. Kita harus menciptakan keseimbangan intelektual. Sehingga tidak akan terjadi clash. Juga akan membuat satu zone of peace dan demokrasi. Maka kita harus memasukkan seluruh kekuatan kita ini hidup berdemokrasi yang modern yang baik, sehingga antara negara demokrasi ini tidak akan saling menyerang. Maka terjadilah peace dan demokrasi dalam lingkungan yang sama dan kita tidak saling menyerang. Antara barat dan timur sekarang mulai menyatu dan akan tumbuh nanti utara, selatan. Itu yang diprediksi orang bahwa akan ada clasification.  Tapi antara utara yang nota benenya barat belajar dari Islam dan Islam pun belajar dari barat, mengapa harus ada klash. Kita sama belajar saja, masing-masing take anda give, aman dunia.
Maka disini semboyannya:
Ma’had Al-Zaytun
Pusat Pendidikan Dan Pengembangan
Budaya Toleransi Serta Pengembangan
Budaya Perdamaian

Nama Al-Zaytun diambil dari mana?
Dari al-Qur’an yang berbunyi ‘wa tiin wa al-zaytun’. Di dalam sebuah hadist at-tiin merupaka simbol dari nabi Isa, wa al-turisinina merupakan simbol dari nabi Musa dan hadza al-balad al-amin simbol dari Nabi Muhammad, disatukan. Kami akan ciptakan manusia yang terbaik. Al-Zaytun merupakan pohon yang umurnya panjang, manfaatnya banyak dan tidak ada yang terbuang dari pohon itu. Juga simbol perdamaian adalah tangkai Al-Zaytun yang dibawa oleh merpati putih.

Kalau kayu jati juga ditanam di sini juga?
Ya. Sengaja kita tanam. Karena jati merupakan kayu termahal di dunia, makanya kita tanam dan umurnya panjang. Kita baru tanam 300 ribu.

Mungkin ada yang akan disampaikan lepas dari wawancara kita?
Kami persilakan anda mau tahu apa saja. Kata orang di sini tertutup buktikan benar tertutup atau tidak. Silakan mau melihat mana saja silakan. 

Katanya ada gedung yang dinamai atas nama donaturnya, seperti Al-Akbar?
Nggak. Ini banyak prasangka-prasangka. Akbar Tanjung datang kesini dan kami ajak untuk mendirikan tiang pancang. Kan Akbar Tanjung Ketua DPR, layak toh pimpinan bangsa Indonesia. Sebentar lagi kita namakan Gedung Soekarno penyambung lidah rakyat Indonesia. Atau jenderal besar Soeharto, kan pemimpin bangsa Indonesia..

 Katanya akan membangun sebuah masjid terbesar di Asia Tenggara?
Kita tidak pernah merencanakan membangun masjid terbesar di Asia Tenggara, hanya membangun masjid yang dapat menampung siswa di sini, orang tuanya, dsb sekaligus muat. Jadi nggak usah dibandingkan terbesar, hanya kapasitas 100 ribu saja.
Sebab tahun 2015 pelajar di Al-Zaytun 25.000, kalau kumpul dengan orang tuanya sekitar 75.000 kalau tidak ditampung disebuah masjid nanti shalat dimana-mana. Kita rencanakan dapat dipergunakan dalam tempo 1000 hari. Muslim di Indonesia 200 juta, kalau cuma 100 ribu apa artinya.

Apakah bangunan yang besar juga akan menjadi simbol dari pesantren ini?
Kami niatkan tempat untuk shalat dan kami nyatakan pada bangsa Indonesia bahwa tanpa hutang kami dapat membangun. Dan kita katakan dijaman krisis kata orang tidak ada pembangunan tapi Indonesia tetap membangun, adanya di Al-Zaytun.

Apakah ada pertanyaan tentang dana pembangunan Ma’had Al-Zaytun sendiri, mungkin ada hubungan dengan teroris?
Kalau membangun lembaga pendidikan lantas dihubungkan dengan teroris, irasional. Amerika pun rasional, tidak akan bertanya danamu dari al-Qaeda atau darimana. Kami  pendidik yang membangun pendidikan, kecuali kalau kami teroris, boleh ditanya. Sebab, antara pendidik dan teroris jauh berbeda.

Kalau dari lembaga resmi negara mungkin pernah menanyakan seperti itu?
Al-Zaytun ini didirikan oleh satu lembaga pendidikan yang resmi bagi pemerintah Indonesia dan diberi kewenangan untuk mencari, menggali, menggunakan dana yang didapat. Sangat irarional kalau pemerintah lantas intervensi, karena ini badan hukum yang dikeluarkan oleh negara. Kami  membayar pajak dan dari pajak itu dapat diketahui berapa incame kami dan kekayaan kami.
Kalau nama Abu Toto, seperti yang ditulis di buku?
Silakan tanya pada yang memberi nama. Nama saya A.S. Panji Gumilang.

Apa artinya A.S?
A.S akan saya uraikan waktu meresmikan masjid Rahmatan lil’alamin.

Kalau Panji Gumilang?
Itu nama orang tua saya. Orang tua saya namanya banyak. Pada jaman perjuangan harus ganti nama, katanya. Kalau tidak, akan ditangkap Belanda.

Kalau keluarga?
Anak saya ada enam, paling kecil sekolah di sini. Dua perempuan dan empat laki-laki. z



***


2. Wawancara the Jakarta Post kepada Syaykh al-Ma’had:

“Saya Memikirkan Generasi yang Akan Datang”

W
artawan The Jakarta Post Mohammad Nafik bersama seorang fotograper dan staff dokumentasi berkunjung ke Ma’had Al-Zaytun, Kamis hingga Jum’at (25-26/4). Selama berada di MAZ, Nafik dan kawan-kawan berkeliling ke seluruh kompleks MAZ. Setelah shalat maghrib Dia mengamati santri sedang tahfizd al-Qur’an. Setelah itu shalat Isya berjamaah, kemudian menyaksikan suasana makan santri di kantin. Beberapa santri diajak berdialog dalam bahasa Inggris dan Arab. Tentu saja wartawan yang alumni Pondok Modern Gontor ini bersemangat. Ditengah keriuhan santri Nafik terkadang –saking asyiknya tidak mendengar kalau dipanggil. Tapi, beberapa kali kami panggil dengan gelar “Ustazd” langsung saja dia menoleh. Artinya wartawan kelahiran Lamongan satu ini memang orang pesantren tulen. Berikut ini adalah rekaman dialog  wartawan harian berbahasa Inggris itu dengan Syaykh AS. Panji Gumilang di Wisma Al-Ishlah, Ma’had Al-Zaytun, yang direkam oleh team Jurnal Harian Al-Zaytun:

Kebetulan ada hal-hal yang aneh diluar?
Kebetulan apa  beneran  dengar…?

Kebetulan saja, soalnya kami tidak menciptakan isu-isu?
Kalau kebetulan tidak usah ditanya kecuali aksiden. Kenapa harus diseriusi orang barang kebetulan, sedangkan  Allah menciptakan sesuatau tanpa kebetulan Qollusyaein biqadla  jadi kalu secara kebetulan tidak ada hukumnya tidak ada nilainya kenapa harus didalami.

Sudah menjadi kekuatan juga?

Kalau kebetulan tidak ada nilainya by product, by eccident tidak ada nilainya

Bapak mengamati bagaimana?

Tidak ada apa-apa ciptaan orang, kalau ciptaan orang besok berubah, kalau ciptaan Allah…Mengapa saya katakan tidak ada apa-apa buktinya masyarakat masih menerima, dari tahun ketahun peminat yang masuk (Ma’had Al-Zaytun) bertambah, jumlahnya signifikan. Di jadikan indikasi munculnya hal-hal begini karena apa? Mesti ditanya kepada yang mengisukan, jangan ditanya kesini disini hanya membangun-membangun, mendidik dan mendidik.

Tapi kira-kira apa yang meresahkan?

Tidak ada. Disini framenya jelas mendidik ada kurikulum, kurikulumnya jelas, sah ada Departemen Pendidikan dan Depag dan muatan lokal, muatan lokalnya juga bukan murahan al-Qur’an dihafalkan.


Lalau diluar ada kekuatan apa sehingga muncul yang sebenarnya meresahkan masyarakat dan wali murid, apa ada wali murid yang tidak tahu sini?

Kalau wali murid harus tahu sini, kalau yang tidak tahu sini itu wali murid bohong tidak ada seorang wali murid pun yang tidak tahu sini. Sebab, sistem penerimaan disini wajhan biwajhim natanaffas kita berdiskusi langsung mengapa memasukan  anak sekolah disini dan kita pakai tanda tangan didepan notaries. Jadi diluar rasional kalau ada wali murid yang tidak tahu sini. Sini pakai akte notaries, tanda tangan  wali murid.

Aneh juga..

Ya bukan aneh, tidak terjadi.

Mengapa bapak tidak menanggapi baik secara informal maupun formal?
Itu tadi yang dikatakan informasi yang tidak jelas. Anda sendiri menemukannya kebetulan, kenapa harus ditanggapi. Memikirkan kader 5300 ini sesuatu yang harus diurus,  menanggapi berita rubbish  itu  untuk apa? Nanti kita jadi rubbish juga dong.  Konsentrasi kita diganggu seperti itu sayang. Betapa bangganya bangsa Indonesia kalau 5300 itu jadi. Jangan banyak-banyak 200% saja jadi alangkah hebatnya bangsa Indoneisa ini kedepan. Karena kami punya kehendak, keinginan, Indonesia must be strong in the future time kita harus konsentrasi full kepada anak-anak didik kita. Lha, kok menanggapi yang rubbish.

Sampai polisi menanggapi serius?
Tidak ada polisi yang menanggapi yang serius .

Tapi datang kemari?
Datang …

Dari mana saja?

Ya dari mana-mana yang namanya polisi, anak-anak kita (santri Al-Zaytun) hari –hari dilatih oleh polisi.

Datang, apa yang menjadi laporan?

Ya datang tengok tidak ada apa-apa disini.

Bicara juga sama bapak?

Ya berbicara, ya kalau tidak bicara namanya bukan tamu dong, seperti anda ini terhormat bicara.

Mengapa Mentri Agama begitu tidak terus terang mengungkapkan masalah ini?
Itu harus ditanyakan disana, mentri agama sudah mengirim tim kemari sudah diterima, sudah selesai, tidak gentlemen tidak mau mengumumkan, diumumkan kalau memang gentlemen berani meneliti berani mengumumkan.

Mereka sampai sekarang tidak berani mengumumkan?

Tidak paham, nyatanya sampai sekarang tidak diumumkan, disini terbuka mau diteliti-teliti.

Kapan terakhir mereka selesai?

Mestinya sudah lama selsesai cuma meneliti segini saja. Apa  susahnya tidak ada susahnya. Lebaran (Ied al Fithri-red) sudah, santri ada, wali murid ada, guru ada, pimpinan ada, ketua yayasan ada, semua serba terbuka kenapa tidak terus disimpulkan. Mau shalat ada tempat shalat, anak-anak shalat mereka bisa teliti.

Orang banyak bertanya tentang pak Panji itu siapa?

Orang! Iya apa susahnya, kecuali yang ditelevisi Panji Koming (Kartun di Kompas-red) yang tidak ada orangnya. Ini Panji Gumilang ada orangnya ada alamatnya, padepokanya pun ada silah datang any time dibuka waktu, dibuka pintu. Kalau tidak mau menginap di al-Islah di mesjid bisa.

Itulah teki-teki orang yang ingin tahu?

Teka-teki itu susah ditebak. Disini gampang ditebak, datang ketemu Assalamualaikum, Wa’alaikum Salam, kalau tidak mau salam duluan, saya salam duluan tidak susah. Saya yakin you terkontaminasi waktu mau masuk sini “susah-susah” susah tidak disini?

 “Tidak susah”
Iya makanya you sebelum datang kesini wah ini nanti susah anda susah tidak?

Karena informasi itu kan tidak didapatkan hanya satu sumber ada beberapa sumber yang mengatakan kebetulan sama ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi ?
Memang sumber kalau anda mencarinya dipinggir laut memang susah mencari air tawar, carilah di gunung kalau ingin air tawar tidak asin di gunung. Di sini air gunung di sana air laut.

Sebenarnya konsep pendidikan disini  tujuan utamanya apa?

Itu semua sama dengan yang lain-lain, hanya kami ingin menciptakan anak bangsa yang kita didik ini menjadi anak yang cerdas  bangsa yang bajik dan bijak yang menguasai sains dan teknologi mengerti akan ihwal negrinya dan dia ikut serta dalam negara itu memikirkan dan memakmurkan negaranya sama dengan pendidikan yang lain.

Metode sistemnya yang beda?
Kalau metode sistemnya mungkin. Mungkin itu juga, tapi belum diyakini beda, karena kita ingin hidup dalam zaman modern ini segalanya harus pakai citra modern. Punya visi, punya organisasi yang baik, kita punya etos kerja yang baik dan disiplin. Disiplin  dan juga pakai prosedural.

Ini kan sedang ramai pembahasan UUD anda sebagai pemimpin Islam apa lagi pemiMpin pesantren terbesar di asia tenggara bagaimana?
Disini biasa-biasa saja tidak besar dan terbesar.

Kira-kira apa yang bapak pikirkan dalam kaitan hidup bernegara ini, karena ini membentuk sebuah UUD itu penting untuk masa depan bangsa bapak punya pikiran apa dalam UUD itu?
Kita hidup dalam demokrasi serahkan kepada yang punya hak, kita haknya disini mendidik anak bangsa dan disana sudah ada yang punya hak dan punya kewajiban untuk membincangkan. Negara ini tidak titik, dan tidak pernah ada titik dalam bernegara itu hari ini mereka menempatkan itu, generasi yang akan datang belum tentu, dirombak lagi dan terus begitu dan itulah  sebuah negara dinamis namanya.

Kira-kira pemikiran apa yang bisa bapak ungkapkan?
Anda bertanya memikirkan apa? Saya memikirkan ini yang akan menjadi generasi yang akan datang  ini yang terpenting. Sebab disana gampang sudah ada generasi yang sudah berbuat. Disini yang dipikirkan sehingga nanti melanjutkan kelestarian Indonesia ini bisa terus berjalan tanpa ada halangan.

Konsep bernegara yang mana?
Konsep bernegara yang bagus, yang demokratis, yang  aman, yang pembangunannya itu didalamnya memacu kepada perhatian terhadap masyarakat desa. Kemakmuran yang merata itu saja semua itu sama bangsa ini inginya seperti itu.

Selama ini bangsa kita, ada yang  kekurangan?

O, banyak kalau namanya bicara kekurangan

Kita bernegara fokusnya dimana kesalahan itu muncul?
Jangan dicari kesalahan, sebab kalau kita cari kesalahan tidak akan menemukan kebenaran, yang sudah ya sudah… sekarang kita jalan unsur yang ada hari ini.

Negara Islam Indonesia, NII itu yang ingin kami dengar dari bapak ini apakah bapak kenal sehingga orang menokohkan, itu yang kami ingin tahu?
Silahkan bertanya kepada yang menokohkan, kalau ada orang yang berkeinginan. Ini negara-negara demokrasi jangan kita pernah menolak jangan pernah kita menerima. Serahkan saja pada bangsa ini. Bangsa ini menerima kenapa tidak, bangsa ini menolak kenapa dipaksakan. Kita ini negara berdemokrasi jangan diserahkan kepada orang perorang nanti kultus individu. Hari ini sudah dibuka zaman demokrasi kita berikan haknya bangsa ini, ingin apa bangsa ini.

Jadi tidak ada sebenarnya yang disebut NII dengan pesantren ini?
Disini pusat pendidikan, pusat organisasi pendidikan, bukan yang lain-lainya perlu dicatat itu.

Sebab masyarakat sudah terlanjur?
Ooh ndak, masyarakat tidak pernah terlanjur masyarakat itu diprovokasi, dan masyarakat tidak pernah terlanjur. Ada yang benci banyak yang cinta, dalam kehidupan ini tidak sedih dari orang yang suka lalu memuji dan orang yang benci selalu mencaci itu kehidupan yang wajar di dunia ini mengapa harus dipusingkan jangan pernah pusing dengan yang begitu-begitu hadapi anak didik kita. Kita ini professional saja bagian politik ya politik. Bagian pendidikan, pendidikan, stabil negara.

Selama ini nanti begitu terus pak?
Ya jangan  berbicara terus begitu, kan dulu tidak ada  titiknya.
Bisa berubah?
Bukan bisa berubah, kan bagaimana kehendak zamannya. Abad 20 saja yang baru kemaren jauh berbeda dengan abad 21  tapi tidak terpikirkan bahwa Indonesia seperti ini tatkala kita hidup diabad 20 kemaren.

Tiga tahun resmi predikat ini berlangsung seperti inilah sampai orang lihat juga kayanya itu tidak percaya sebenarnya apa yang bisa membuat semua ini?
Dua tahun 10 bulan, atas seijin Allah tanpa seijin di atas tidak ada apa-apanya.

Tapi kan ada tangan yang bergerak?
Oo, iya yang namanya manusia disitulah ada kemauan, kemauan yang sungguh-sungguh kemudian kita tawarkan kepada bangsa Indonesia yang kaya raya. Ini ada yang nyambut dan ada yang tidak nyambut. Yang nyambut mari ikut bersama-sama yang tidak nyambut menunggu enteng saja tidak ada yang berat.

Biasa-biasa saja?
Biasa-biasa saja bangsa Indonesia ini kaya, Indonesia ini kaya tinggal pilih siapa yang memenej kalau ada yang memenej jadi tinggal memilih siapa yang dipercaya kalau ada yang dipercaya ini jadi gampang. Yang susah memilih orang yang dipercaya, kalu sudah dipercaya sana-sini memberi. Kami ini kewalahan dikasih orang, kami sendiri terkejut dan heran, dikasih orang kata al-Qur’an: ya bijj zurro, penanamnya sendiri terkejut begini respon bangsa luar biasa.

Disitu mungkin?
Lebih di 99,9 bangsa sendiri yang mendanai. Cuma koma sekian saja dari kawan-kawan luar negri.

Apa yang membuat mereka tertarik?

Ya tanyakan kepada mereka toh, yang begitu ditanyakan.

Bapak kan bisa…?
Ya ini kan seperti cinta toh, jangan ditanyakan kepada yang dicintai tapi tanya yang  mencintai.  Anda kok cinta kepada Al-Zaytun kenapa begitu?. Kalau kita yang ditanya tidak tahu toh dia kan percaya.

Biasanya dalam hal yang menyangkut dana besar itu tidak mungkin kalau bukan tangan-tangan yang punya kekuasaan saja?

Baru kali ini Anda datang, tapi tidak pernah datang enam tahun yang lalu tatkala kami macul disini. Kami ini macul dan manggul besi yang beratnya 400 kilo, dari ujung sana (Gantar) yang empat kilo kami panggul jam 12 malam Anda tidak tahu itu tahu-tahu sudah jadi begini awalnya seteng.


Enam tahun itu singkat sekali pak?
Enam tahun sangat banyak sekali. Allah menciptakan dunia seisinya enam hari. Lha iya panjang enam tahun itu. Kami tidak merasa menderita walapun capek setelah terkumpul semua jadi melihat kok begini. Lha, melihatnya sekarang dulu orang  tidak melihat sebelah matapun untuk melihat ini tidak mau. Alhamdulillah dengan Anda menyebutkan kebetulan-kebetulan tadi to banyak yang lihar syukuri saja dan dimenej saja semua isu. Anda datang kemari membawa berkah.

Pertama kali saya dengar Al-Zaytun lengket dengan Pak Habibie?

Anda bisa mengatakan lengket itu dari mana…? 

Dulu waktu tahun ‘95-an?

ICMI kenal Al-Zaytun itu baru 2001 dan saya mengingatkan kepada kawan-kawan jangan sering-sering menghujat Pak Soeharto, Pak Soeharto itu sudah selesai.

 

Kenapa itu pak?

Waktu itu banyak yang menghujat, kita dekat dengan ICMI tatkala mengingatkan jangan terlalau dihujat Pak Soeharto sudah selesai tugasnya.

ICMI tidak terlalu menghujat, justru yang umum?

Ya kita sampaikan saja kepada umum, kepada khjalayak.

Iya masyarakat mengenalnya awal pembangunan itu?

 Tidak  ada, yang meresmikan baru Pak Habibie

Meresmikan…?
Meresmikan Ma’had ini tahun pada 27 Agustus 1999 itu sebagai Presiden, ma’had ini dibuka pembelajaranya pada 1- Juli 1999 itu yang kemudian kita minta Presiden Habibie untuk meresmikan. Sebelum itu boro-boro bisa dikenal Pak Habibie, saya katakan tadi memandang sebelah mata juga sudah bagus.

Dari pada tidak sama sekali?
Iya kita ini dipandang sebelah mata sudah bersyukur waktu itu. Dan tidak ada yang melihat orang macul. Saat macul-macul ini kita belum punya alat berat, yang ada hanya  cangkul dan gancu.

Mulai betul-betul ini tahun berapa?
Ya tidak pakai dihitung jalan saja Allah peritahnya I’malu (bekerjalah) fasyarallahu ‘amalakum warasuluhu wa almu’minun..  itu di al-Qur’an : Bekerjalah kamu, nanti Allah akan melihat, Rasul pun melihat dan para mumin pun akan melihat. Termasuk the Jakarta Post pun melihat kan begitu toh.  
           
Kami juga bicara dengan wali murid, mereka menertawakan juga, kami juga kaget, kenapa justru ditingkat atas yang bermain, bahkan mentri agama pun mengatakan tidak berani?

Bukan tidak berani belum diumumkan.

Bahkan dia mengatakan seandainya itu terbukti akan kami tutup, itu pernyataan seorang mentri yang cukup keras?

Tidak keras tidak apa itu biasa-biasa saja baru segitu saja keras beliau itu orang bijak, orang bijak, cerdas, pinter dan dia tamatan mana-mana dia sekolahnya tinggi. Kalau tindakannya tidak bijak itu biasanya orang agak kaget. Beliau katanya pendidikan tidak mungkin  bertindak tidak bijak itu jadi sekedar omongan.

Iya tapi cukup meresahkan?
Iya makanya anda tanya kesana “Pak cukup meresahkan?” jangan tanya kesini salah alamat dong.

Kita sudah menayakan itu, dan jawabanya ya kita masih telitilah?

Nah itu makanya, jadi bandingkan saja ungkapan beliau dengan rakyat disini..

Jadi semua pendidikan disistemkan begini?

Oo iya yang namanya mendidik.

Saya tanyakan juga kepada wali murid tadi dengan 2000 dolar bukan uang sedikit bagi rakyat kecil?
Jangan berpikir rakyat kecil, kalau rakyat kecil kurang mampu sumbang dong rakyat kecil kami ini sudah memberikan subsidi yang faer, bayangkan 2000 dolar cuma berapa kalau kali Rp10.000 ribu hanya 20 juta. Disini hidup, satu juta sebulan. Cuma 20 bulan toh, sedangkan disini enam tahun tidak dipungut apapun U$2000 saja kok berat. Sedangkan diluar ada uang pangkal.

Mungkin cara berfikir mereka belum..?

Bukan tidak ada yang merasa berat buktinya mereka mendaftar semua banyak, kewalahan menerima disini, Cuma 1500 yang diterima, paling tinggi yang mendaftar 3000 tidak merasa berat rakyat hari ini tidak merasa berat, di Jakarta uang pangkalnya 25 juta satu bulannya satu juta tidak ada yang ngritik kenapa disini dikritik, cuma 2000 dolar untuk enam tahun, jangan berfikir negatif dong.

Memang sangat murah sekali untuk pikirannya orang  bisnis, untuk membawa uang 2000 dolar?
Jangan dibayangkan begitu bangsa Indonesia, bangsa Indonesia sudah cerdas berfikir dan berani memilih menyekolahkan keluar negri yang satu bulan 10.000 ribu dolar saja gampang kok. Lha mengapa dibuang keluar negri? Disini Cuma 2000 USD untuk enam tahun semua fasilitas dikasih mengapa sih kalau ada bangsa yang berbuat begitu dicurigai mengirimkan ke Amerika ayo seakan-akan paling bergengsi, ini terbalik…

Selain tadi itu sangat kecil sekali kalau dalam membeda, nah subsidi ini diambil dati mana?
Ooh banyak sekali jangan susah kalau ngasih subsidi bangsa ini.

Contoh konkritnya?
Ooh banyak sekali kita ini punya usaha besar. Kami ini punya usaha bukan gelandangan, kami punya pabrik-pabrik, punya sawah, banyak, kami punya tambak gede sekitar sini.

Diluar banyak, maksudnya diluar kompleks ini?

Ya banyak


Kira-kira jangka panjang minimalnya berapa tahun bisa melihat bahwa ada keberhasilan?
Kalau mendidik jangan pernah pakai jangka, didiklah anakmu didiklah generasimu sampai pada zamannya, dan zaman dia bukan zaman kita jangan disamakan tunggu saja dia nanti pada zamannya. Dia akan hidup pada zamannya dan kita hidup pada zaman kita begitu kalau mendidik kalau tidak begiti kecewa kita. Anak kita mau dijadikan kita… ohh, salah!! Z



3. Van Zorge Report, Jakarta:

Apakah Indonesia akan Menjadi Republik Islam?


P
eter Milne dan Sugianto Tandra, Wartawan Van Zorge Report, sebuah jurnal yang menganalisis perkembangan politik di Indonesia, datang ke Ma’had Al-Zaytun. Ahad (3/03/2002) Kedua orang ini ingin membuat laporan investigasi mengenai Ma’had Al-Zaytun yang berkembang akhir-akhir ini.
“Kami kemari ingin tahu tentang adanya pesantren terbesar di Asia Tenggara. Karena ini penting juga bagi orang luar negeri mengetahui tentang apa yang terjadi disini,” ujar Mr. Milne yang juga Managing Editor jurnal berbahasa Inggris itu. Dia juga mendengar mengenai suara kontroversi tentang latar belakang Al-Zaytun, untuk itulah mereka datang untuk membuktikan sendiri. Van Zorge Report dibaca oleh kalangan elit politik termasuk diplomat, duta-duta besar dan para investor. Serta  pengamat politik Indonesia.
Dalam kesempatan berkeliling sejak sore Ahad hingga Pagi dan Siang hari Senin (04/03), kedua orang ini diajak oleh KH Syarwani untuk melihat seluruh isi MAZ. Tidak ada yang tertinggal, menurut mereka –kunjungan ini paling lengkap dibanding tamu-tamu yang lain. Kepada wartawan Al-Zaytun, yang turua mendampingi mereka, Milne mengatakan, “Kalau ada seribu pesantren semacam ini, maka Amerika, harus hati-hati,” Milne menuturkan bahwa hal semacam ini bisa menggugah bangasa Indonesai tentang potensi tanah dan sumberdaya yang ada pada mereka sendiri.
Mr. Milne juga diajak meninjau kelas IIIBA2 di gedung Abu Bakar Al-Shiddiq dan berdialog dengan seorang santri asal Banjarmasin dalam bahasa Inggris. Mr. Milne terlihat masgul, ketika ditanyakan santri itu “what is your motivation to come to Al-Zaytun?”, Milne menjawab ingin tahu lebih dekat mengenai pesantren yang terbesar di Asia Tenggara ini.
Hal yang disebutkan oleh Milne adalah kekhawatiran orang-orang di luar negeri yang mengatakan khawatir Indonesia ada “Islam Fundamentalis”, sehingga banyak orang berfikir salah mengenai Indonesia.
Berikut ini dialog sekaligus wawancara Peter Milne dengan Syaykh al-Ma’had yang dilakukan Senin (03/03) di gedung Abu Bakar Al-Shiddiq:

Managing Editor Van Zorge Report, Mr. Peter Milne (tengah) dan Sugianto Tandra (kiri) sedang memperhatikan maket site plan Ma’had Al-Zaytun yang dijelaskan oleh Syaykh A.S. Panji Gumilang, usai melakukan wawancara di gedung Abu Bakar Shiddiq

Saya terkesan sekali dan saya lihat  sejak saya datang kemaren. Saya sudah enam tahun di Indonesia. Tapi setelah datang saya lihat ini adalah suatu yang tidak mungkin ada di Indonesia. Jadi saya heran sekali. Dan saya lihat budaya Islam dan perilaku orang yang  saya tidak lihat dimanapun di Indonesia. Dan bagi saya, Al-Zaytun penting sekali kalau ada di seluruh Indonesia. Dapatkan Anda menjelaskan sedikit filosofi dan visi untuk masa depan dari institusi pendidikan ini untuk Negara Indonesia. Pada saat Indonesia yang begini susah?

Kami berterimakasih atas kedatangan Anda semua kesini untuk mengenal Al-Zaytun. Sebenarnya visi dan filosofi Ma’had Al-Zaytun hampir sama dengan visi dan misi perguruan yang didirikan di seluruh dunia. Ingin menyumbangkan suatu pemikiran dan satu usaha untuk kader-kader bangsa dan mencerdaskannya, sehingga kelak mereka menjadi manusia yang mengenal dirinya sendiri untuk ikut bersama penduduk yang lain. Menata negaranya dengan baik. Sehingga kedepan khususnya Al-Zaytun ini mampu ikut bekerjasama dengan rakyat lainnya, dengan bangsa Indonesia secara keseluruhan, menata Indonesia dengan baik. Dan karena MAZ ini adalah pendidikan Islam, kita juga ingin mengatakan pada dunia dan masyarakat Indonesia, bahwa Islam itu adalah satu agama yang mampu untuk hidup dengan baik, berdampingan di seluruh warga bangsa. Untuk itu kami berikan bentuk pendidikan yang semacam ini. Jadi akhir kedepannya nanti, anak didik Al-Zaytun ini ikut menata Indonesia supaya, mampu berdiri sama tinggi dengan masyarakat luar di dunia dan mampu duduk sama rendah dengan masyarakat di dunia, mempunyai pemikiran untuk bangsa, mempunyai solidaritas   antar bangsa, dan mempunyai tatanan hidup antar bangsa. Untuk Islam sebenarnya, mampu hidup toleran, secara damai. Dan dalam hidupnya selalu mengejar ilmu yang tumbuh. Inilah visi dan misi Ma’had Al-Zaytun.

Jadi kenapa ada perbedaan jauh, dari pesantren-pesantren yang lain?
            Disini kita mempunyai motto : “Pesantren  Sepirit But Modern System” jadi mungkin perbedaanya  sistem. Dengan modern system inilah kita mampu mengikuti pendidikan antar bangsa itu. Jadi kita tidak mengambil perbedaanya, tapi megambil persamaanya saja, yaitu pesantren. Dimana pesantren adalah Masyarakat yang berjiwa mandiri. Tapi systemnya kita ambil sistem yang modern, yang terkini terorganisir secara rapi mempunyai visi yang jelas, punya disiplin yang tinggi. Punya etos kerja keras. Itulah yang diterapkan sebagai system modern. Sehingga kalau ada perbedaan bisa dikatakan sedemikian tapi pada hakekatnya ada kesamaan. Intinya sama.

Ini semua menurut saya baik sekali. Tapi ada kontradiksi karena Al-Zaytun menarik kontraversi dari kelompok-kelompok di luar, mengapa ada banyak isu-isu diluar?  
Kalau isu pendidikan kepada Al-Zaytun, tidak ada jalan sebenarnya. Pendidikan yang laksanakan di MAZ ini adalah pendidikan yang oleh dunia internasional di anggap biasa dan kami juga mempunyai patnership sekali di lauar negri dari Inggris, Amerika, Australia, dan lai-lain  dunia.
Adapun sisi politik mungkin memandangnaya  Ma’had Al-Zaytun ini dipandang suatu kekuatan tersendiri, padahal MAZ adalah sebagaian dari kekuatan bangsa Indonesia. Itupun sebenarnya tidak masuk akal kalau di sini harus diberikan suatu kontradiksi. Seharusnya, setiap usaha pendidikan seperti MAZ ini mendapatkan dukungan, karena inilah yang nanti memcerdaskan bangsa. Akan membawa bangsa ini menjadi toleran dan juga menjadi cinta damai. Jadi kami punya penilaian, tidak ada jalan mereka untuk mengkritik Al-Zaytun. Nah Al-Zaytun ini dipersiapkan untuk bangsa Indonesia dan juga bangsa Indonesia yang majemuk, kalau satu suku bangsa atau organisasi bergerak dengan frame atau pigura yang benar mengapa diragukan? Jadi kalau ingin tahu Al-Zaytun mestinya harus tahu filosofinya, visinya dan setelah mengenal visinya, mengapa kita tidak diberikan applaus, salut dan sebagainya supaya bangsa yang sedang menjalankan usaha pendidikan ini tidak berhenti di tengah jalan…

Bagainamana kerjasama antara Al-Zaytun dengan pesantren lain termasuk Badan Kerjasama Seluruh Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI) & Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) ?

Tentang BKSPPI  itu sebuah organisasi yang mengkoordinir  pesantren-pesantren seluruh Indonesia, kemudian juga RMI yang mengkoordinir lembaga pesantren yang ada di Indonesia kami tidak ada di dalam dua-duanaya itu.

Jadi di Indonesai tidak harus masuk?
Tidak harus. Itu kemauan masing-masing. Kami tidak ada di dalam organisasi itu kemandirian kami salah satunya  diantaranya adalah seperti ini. Kami tidak masuk di dalam organisasi seperti itu. Tapi kami baik dengan organisasi itu, berhubungan baik.

Yang penting Al-Zaytun mandiri?

Mandiri dalam segala bidang. Sebab kalau kita berada di sebuah organisasi, ini akan terjadi persaingan juga. Lebih baik kita berada di dua-duanya sambil tidak berada di dalam organisasai itu kita bersikap baik saja.

Bisakah diceritakan sedikit sebelum Al-Zaytun mulai. Dari ide-ide Al-Zaytun mulai bagaimana MAZ punya motivasi kuat untuk dan menghasilkan visi yang begitu besar?

Baik, kita rasakan awalnya bukan lima tahun lagi, puluhan tahun. Kita menengok dan kita rasakan pada saat itu lingkungan bangsa Indonesia ini ada kehidupan yang masih ditata. Yaitu sikap toleransinya belum tebal, sikap perdamainya belum tebal. Dan sikap itu tidak bisa dieleminir tanpa melalui pendidikan. Pendidikan yang kita tengok, belum sepenuhnya diarahkan kehidupan yang toleran dan kehidupan yang cinta damai. Disana sini masih kita lihat kekerasan-kekerasan, kita lihat kurang tolerannya seseorang baik antar agama atau sesama agama. Membaca situasi seperti itu kita berfikir: Indonesia tidak bisa diselesaikan melalui kekuatan politik prasktis, Indonesia harus ditata kembali melalui penataan pendidikan  yang baik. Maka kami mulai menggagas. Kami pergi ke berbagai tempat pendidikan yang baik, kami simpulkan. Jadilah sebuah khayal dan visi, kemudian kami tata dan gambar visi itu, setelah itu kami kerjakan. Pada tahun 1996, kami membangun tempat ini dan 1998, mulai dibuka pendidikan ini.

Ini menarik waktu itu jaman Soeharto, sedangkan kita tahu Soeharto pasti tidak nyaman dengan orang yang telah mandiri, apakah waktu itu ada masalah?

Justru itu kita tidak ada masalah, adanya isu-isu yang tumbuh adalah pada saat setelah pemerintahan Soeharto, setelah pemerintahan Soeharto baru ada isu yang macam-macam yang dilimpahkan kepada Al-Zaytun. Pada zaman Soeharto tidak ada. Mungkin karena belum melihat dengan jelas tentang Al-Zaytun. Karena Al-Zaytun sedang membangun, belum memahami pendidikan. Kita baru mulai Juli 1999.

Ada isu Al-Zaytun didalam kelompok DI/NII dan MAZ adalah tempat komandemen wilayah sembilan. Isu ini dari mana?
Isu itu kami tidak tahu diawali dari mana, tapi itu sudah menjadi isi isu. Seharusnya orang-orang harus membedakan kalau mereka ada di dalam Al-Zaytun ini. Kita selalu dibiasakan untuk terbiasa mendengar, lantas diyakini di lingkungan kita bangsa ini bukan mendengar terus kemudian cheking-recheking baru disikapi. Al-Zaytun ini lembaga pendidikan yang didirikan oleh Yayasan Pesantren Indonesia dan disebut Darul Islam ( D.I.) itu suatu kehidupan masa lalu, perjuangan bangsa Indonesia juga masa lalu, merupakan perjuangan bangsa Indonesia, Darul Islam itu dimasa lalu. Kemudian dengan kehidupan hari ini dengan Al-Zaytun yang mandiri ini mungkin dibawalah isu itu seperti itu. Focus pendidikan Al-Zaytun pendidikan tidak ada lain. Yang mendirikan Al-Zaytun bukan siapa-siapa tetapi Yayasan Pesantren Indonesia.

Mungkin yang menarik juga visinya, terus menghindari politik masuk bahwa ini pendidikan?
Jadi ini visi politik pendidikan. Adapun kedepan anak-anak ini menjadi dirinya itu urusan dia karena memang harus jadi dirinya.


Apakah disini ada pertukaran dengan sekolah Islam yang lain?

Bukan sekedar Islam saja. Sekolah umum, kami ada pertukaran dan kerjasama. Anda bisa lihat (sambil menuju dinding-red)) daftar perguruan di luar Indonesia dimana kami selalu berhubungan dengan pengembangan  kurikulum,  pengembangan guru, masa depan. Jadi kami bukan eksklusif Islam saja, bukan…

Bagaimana kalau anak-anak orang Kristen, kalau mereka cukup pantas apakah bisa masuk kesini?

Kami kembali bertanya, adakah yang seperti itu ada? Orang non Islam mau menyekolahkan kemari (MAZ)  kalau ada kenapa tidak diterima? Disini terbuka. Kalau orang Islam sekolah di Kristen sudah banyak… tapi adakah di luar Islam sekolah disekolah Islam? Andaikan ada diterima.

Kalau kita lihat Indonesia saat ini banyak masalah etnik adan agama, mungkin ada banyak kami kulasi kelompok agama. Al-Zaytun tempat pendidikan bagaimana Anda melihat masa depan luar 15 tahun 20 tahun Indonesia, sewaktu santri MAZ masuk kedalam masyarakat bangsa Indonesia.

Kami mempunyai suatu pandangan masa depan tatkala MAZ sudah berumur 15 tahun. Kami yakin masalah ini sudah sampai pada strata tertinggi dalam pendidikan doktor  dan sebagainya. Karena ini sudah mempunyai suatu basis kehidupan yang toleran dan damai maka mereka akan mampu menata kehidupan di Indonesia ini. Menjadi dunia yang lain di bandingakan hari ini. Indonesia yang tidak toleran, tidak mampu hidup rukun, tidak mampu damai, 15 tahun yang akan datang akan ditata oleh anak-anak didik yang penuh toleransi. Dan masadepan Indonesia kita akan bawa pada budaya cinta ilmu.

Anda tidak pernah khawatir karena MAZ lebih besar dari sekarang kemudian ada bahaya dari luar yang memudian ingin memasuk Al-Zaytun?

Kami tidak khawatir, karena semakin besar nanti, kader-kader yang terdidik ini akan mempunyai jiwa yang semakin tebal yang toleran. Maka menuju damainya semakin tebal. Makin banyak kader yang terdidik dengan jiwa yang toleran dan damai semakin jaya Indonesia semakin tebal rasa cinta dan damai dan toleransi semakin kokoh Indonesia. Tidak ada lagi yang ingin memisahkan diri dari Indonbesia. Tumbuhnya ingin pisah dari Indonesia karena tidak ada toleran dan cinta damai. Kalau itu dipertebal dan kader seperti itu semakin banyak Indonesia akan semakin besar  semakin kokoh. 15 tahun yang akan datang Indonesia ditata dengan toleran dan damai: akan lebih makmur dari sekarang karena mampu untuk menggunakan lingkungannya dengan baik. Mampu menata lingkungannya, ekonominya dengan baik, terbebas dari sikap-sikap yang tercela.

Bisa dijelaskan rencana Al-Zaytun kedepan mempunyai 324 cabang di Indonesia, selama ini berapa lama apakah sudah memulai  atau belum?
Kita, setiap membuat suatu rencana tidak targetkan berapa lama, tapi berdasarkan kemampuan pendanaan, memang lebih cepat lebih baik. Tapi kadang-kadang terlalu cepat juga kurang baik. Jadi kita ukur kekuatan pendanaan kita. Namun tidak akan sampai 15 tahun yang akan datang, karena sekarang sudah kita mulai. Kalau dimulai satu akan kedua, akan ketiga dan seterusnya. Dan kami yakin dalam tempo 10 tahun semua pendidikan Al-Zaytun sudah ada di sebuah Indonesia.

Ada satu yang harus dicatat, harus sabar, sabar dan kita baca tadi ada ditulis dengan cara reformasi gradual. (Di majalah Al-Zaytun yang terbaru). Sehingga untuk system yang baik tidak bisa langsung, harus mampunyai kesabaran dan pengayatan. Karena kala terlalu  cepat tidak menghasilkan.

Perlahan tapi pasti...

Saya tadi melihat masjid besar dan saya pikir ini pasti, tapi pelan tidak buru-buru.

Wah…. Iya ha..ha..ha, tidak buru-buru, karena kakinya cuma dua.

Orang pikir, dia punya empat 
Kalau punya empat malah tidak kuat, jatuh …

Ini soal kekuatan kelembagaan. Kita pernah bicara dengan Pak Sarwono Kusumatmaja, dia mengatakan figur Pimpinan Al-Zaytun mengigatkan Dia pada Almarhum Ki Hajar Dewantara. Cuma salahnya, ketika figur meninggal mulai hilang. Bagaimana visi yayasan supaya tidak terjadi hal itu?
Itu kita semua sama terus, disini tidak pernah menampilkan “ana” (aku) kalau aku hilang, hilang semua. Tapi yang di tampilkan “kita” (kekitaan) inilah yang menjawab kekuatan Pak Sarwono dan banyak orang juga. Kita telah jawab dari awal, di sini yang tampil bukan aku tapi kita. Kita tidak akan hilang karena kita isinya adalah aku, aku, aku, yang menggabung dalam kesatuan, maka jadilah kita. Dan disini sudah menata dari sejak “start” kekitaan. Bukan keakuan, kalau tadi di contohkan seperti Ki Hajar Dewantara, juga aku. Tokoh-tokoh pesantren yang lain, juga aku. Itu sudah kita baca dari sejak dini disini. Maka kita hari ini tampil “kita”.
Kalau di luar negeri, yang kita baca sebenarnya, negara-negara maju itu, kita “Tengok saja Amerika” begitu hebatnya antara partai demokrat dengan republik. Sampai-sampai Al-Gore beda sedikit dengan Bush dan mengklaim menang. Tatkala di lihat ini untuk kita Amerika. Kan, mendahulukan kekitaan dari pada keakuan.  Jika hal itu terjadi di Indonesia tidak tampil presiden baru. Nah mengapa? Banyak contoh yang seperti ini. Kita artinya Amerika. Di  sini juga kita Indonesia, maka kita semua, anda-anda termasuk kita di sini.

Mengenai Indonesia sekarang tergantung luar negri. Disini bumi diolah?
Sebenarnya apa yang ada katakan itu sama dengan kami. Kami ini ingin mengatakan kepada Indonesia ini. Indonesia ini mampu hidup tanpa ketergantungan 99.9, pada di luar. Ma’nanya tentang pendanaan. Karena Indonesia ini kaya. Sekarang, memperkaya kecerdasan, ini yang ingin kami sampaikan, tapi tidak dengan mulut, karena ini mollen, hilang. Scripta dalam bentuk verbal. Bangunan-bangunan ini sekarang sedang menjawab yang mengatakan bahwa Indonesia krisis. Jadi sudah di jawab…tidak….! Yang krisis bukan Indonesia tapi yang  memimpin diatas itu krisis. Rakyatmu wahai Indonesia tidak kena krisis. Masih mampu jalan. Kami ingin mengatakan itu sebenarnya. Dalam kata bentuk kerja nyata.

Ini berita bagus. Biasanya kalau berita bagus tidak tampil di media.
Jadi selama ini menuduh ABCD…ketika sudah lunglai kita katakana Indonesia tidak krisis yang krisis yang memegang kekuasaan Indonesia.

Ini memang harus memperlihatkan visi tidak terlalu menjawab tetapi dengan terus bekerja ini lebih baik jalan dari pada banyak omong.

Itu yang sedang kami lakukan di sini. You kan setuju juga dengan itu toh? sama. Disini tidak bisa diadu domba dengan agama lain, tidak ada jalan. Disini orang toleran. Di adu domba lagi dengan sesama Islam. Kami stop ah tidak mau sesama agama. Untuk apa bertempur atas nama agama.

Masalahnya mungkin hari ini, karena ada Press yang cenderung sensasional memuat citra yang kita kenal dan yang kita lihat orang yang terlalu sering hanya yang membuat masalah. Al-Zaytun lebih nyata dan mengatakan ada jalan yang lebih baik di Indonesia yaitu usaha pendidikan. Untuk memperbaiki kehidupan di Indonesia, ini Perspective saya. Karena laporan  kita ini dibaca oleh para duta-duta besar.
Ya, itu tolong sampaikan, bahwa Indonesia itu tidak seperti yang diramalkan orang. Ada miniatur Indonesia Cantik, Toleran dan Damai, itulah Al-Zaytun.

Saya bicara dengan analis lama, lulusan Universitas Harvard. Dan sudah lama disini dan kemaren dia bilang Indonesia pasti menjadi Republik Islam, mungkin tahun depan, pasti akan menerapkan syari’ah jadi ini pandangan orang yang sudah lama disini dan bekerja untuk analisis di Indonesia. Bagaimana menurut Anda?
Jadi Indonesia akan menjadi republik yang bagus, karena Islam itu ingin bagus. Antara yang bagus dan Islam itu sama, karena agama yang lain itu juga ingin bagus maka antara bagus dan Kristen itu sama. Jadi kedepan kita inginkan Indonesia menjadi republik yang bagus, ha.ha… kalau tadi ada analis yang mengatakan Republik Islam. Islam itu kan bagus juga, kalau di tata dengan bagus. Kita katakana saja republik bagus.

 Mungkin kekawatiran orang, karena takut bercampur politik dan agama. Disini tempat pendidikan, tidak ada percampuran. Murni, di luar masyarakat mencampur adukkan ini masalahnya..
Kalau campur itu suatu kehidupan yang wajar. Maka dibekali dengan sifat toleran sehingga mampu mentolerir, dan supaya diingat Indonesia ini penduduknya mayoritas muslim. Jadi kalu Republik Indonesia berarti Republik Muslim. Itu saja tidak lain.

Tapi persepsi barat, bila Republik Muslim itu seperti Afganistan. Republik yang pakai hukum Syariat?

 Oh, tidak harus Afganistan. Ma’na Republik adalah negara yang didalamnya memperhatikan suara  masyarakatnya. Di sini orang muslim. Jadi tidak usah di khawatirkan yang macam –macam. Jadi harus dilandasi nanti ini yang keluar (sambil menunjukan ma’had) yang Toleran dan Damai. Bangsa Indonesia 15 tahun yang akan datang adalah Indonesia yang toleran dan damai. Jangan khawatir kita bisa diskusi panjang unruk hal itu, yang Toleran dan Damai. Apa yang diajarkan Islam Toleran dan Damai agama lain juga Toleran dan Damai. Dan ini yang harus ditanamkan oleh setiap pemeluk agama sehingga tumbuh nanti keder baru di abad-abad 21 ini di umurnya yang ke 20-ke 15, 25, menjadi suatu tatanan dunia baru yang toleran dan damai. Tapi kerja lama, harus sabar tidak “ret” selesai. Dunia ini tidak bisa di bangun dalam satu malam. Kata orang Inggris, Roma tidak dibangun dalam satu malam.

Iya orang Inggris bilang Rome isn’t built  in one night..?

 Indonesia tidak bisa di bangun dalam satu malam. Sabar bukan berarti menerima apa adanya. Bekerja tidak pernah berhenti. Semut  pun bekerja, sabar tidak pernah berhenti dia 1mampu  mengatasi banjir, semut walau kebanjiran tidak mati. Tidak minta bala bantuan tidak minta sumbangan. Z




4. Dr. Andree Fillard Kepala Lembaga Penelitian Timur Jauh Perancis  (EFEO) di Jakarta:

“Al-Zaytun Dibangun untuk Menyambung Peradaban Manusia”

D
r. Andree Fillard serta putranya Gwen Fillard berkunjung ke MAZ selama dua hari Jum’at hingga Sabtu ( 28-29/3). Menurut peneliti berkebangsaan Perancis ini, kedatangannya ke MAZ adalah dalam rangka mengikuti perkembangan ormas-ormas Islam yang berkembang akhir-akhir ini di Indonesia.
Menurut doktor yang tesisnya mengenai NU ini, sekarang banyak bermunculan ormas-ormas baru dalam peta Islam di Indonesia. Oleh karena itu sebagai peneliti, dia ingin  mengamati sejauh mana perkembangan ini akan terjadi.  Sebagai sejarawan, dia ingin terus mengikuti perkembangan Islam di Indonesia, “Ini bagi saya merupakan suatu masa yang sangat menarik sebagai peneliti,” katanya.  Dr. Fillard juga ingin melihat bagaimana jawaban NU dan Muhammadiyah terhadap Al-Zaytun. Menurutnya hal ini penting karena Al-Zaytun merupakan organisasi yang tidak bisa dianggap kecil:  “dalam situasi dimana segala sesuatu menjadi mungkin, di era reformasi ini. Reformasi akan berjalan terus semua mencari bentuk yang paling enak yang bisa membuat kokoh Indonesia,” tambahnya lagi.
 Dr. Fillard pernah menjadi wartawan AFP dan dalam umur 39 tahun , kembali ke Perancis untuk meneruskan kuliah untuk S3 di Universitas Paris. Setelah selesai doktoralnya dia dipercaya untuk menjadi Kepala EFEO-Indonesia, (French Research School of the Far East) Lembaga Penelitian untuk Timur Jauh, Perancis. Lembaga ini bertugas mengumpulkan manuskrip lama dan data-data sejarah agar khasanah sejarah Indonesia itu tidak hilang. Beberapa buku diserahkan untuk perpustakaan Al-Zaytun, antara lain buku sejarah Islam ditulis Abdur Rauf Singkel, Catatan dari Kerajaan Bima, Koleksi Naskah Kuno Jawa Barat, 25 tahun kerjasama Perancis dan Indonesia;
.
Berikut Rekaman Dialog Dr. Andree Fillard dengan Syaykh Ma’had Al-Zaytun, AS. Panji Gumilang, Jum’at (28/3/2003) di wisma tamu Al-Islah:


Andree: Al-Zaytun sangat mengesankan, baru tahun 1999 tapi sudah jadi begini, lima tahun lagi seperti apa?
Syaykh:: ini kita bangun sejak tahun 1996, sejak itu kami mulai membebaskan lahan di sini. Minta pada rakyat disini yang mau berpartisipasi untuk pendidikan, waktu itu orde baru masih berjalan dengan baik. Pelan –pelan kita kumpulkan sehingga menjadi seperti yang ada ini. Kita mulai bangun bulan Juli 1996. Tiga tahun baru kita punya Gedung Abu Bakar kemudian Asrama Al-Mustafha. Baru kami memberanikan diri membuka pembelajaran 1 Juli 1999. Supaya resmi kami minta Presiden Habiebie, dan meresmikannya, lalu diresmikan beliau 27 Agustus 1999. Merangkak, sedikit demi sedikit dan baru menjadi seperti hari ini. Belum banyak yang kami buat.

Munculnya idenya membuat ini mungkin bisa diceritakan?
Ini ide ummat manusia yang menginginkan peradaban ini tidak putus-putusnya. Kami ambil dari ide bangsa-bangsa yang ada di dunia ini. Ternyata menyimpulkan ide itu bahwa peradaban tidak boleh putus. Peradaban akan berkesinambungan bila ditata melalui pendidikan, bukan melalui peperangan. Pendidikanlah yang akan mampu melestarikan peradaban ummat manusia yang positif. Itu saja intinya, tidak terlalu muluk-muluk.

Muncul ide itu pertama kali bagaimana munkin bisa diceritakan sedikit?
Ummat manusia ini selamanya punya ide, sejak dia sadar menjadi dirinya itu punya ide. Kemudian didagangkan kepada sahabat. Sahabat pun sebenarnya sudah punya ide, ide sama dan berjalan bersama-sama. Kalau sendiri saja jatuh kita.

Bapak keluaran dari IAIN?
Pernah belajar disana sejak tahun 1966/67. Saat pemberontakan komunis, saya masih berada di Gontor. Setelah lulus Gontor, Saya masuk fakultas adab. Lalu setelah selesai disitu  melanglang buana kemana saja yang kita ingin tahu. Yang ada dalam pemikiran, kita jalan untuk menyambung peradaban ummat manusia ini. Berdiskusi dengan orang, alam dan juga  buku-buku. Empat  tahun saya di IAIN dan waktu itu rektornya Prof. Soenadjo, rektor pertama. Saat Prof Harun Nasution menjadi rektor, saya sudah lulus. Dekannya adalah Prof. Bustami Abdul Ghani dan salah satu guru yang mengajar adalah Prof Nabila Lubis. Belakangan ini saya diminta menjadi Ketua Alumni UIN/ IAIN. Kemudian kita sekarang menerbitkan Tsaqafah yang diterbitkan oleh Ikatan Alumni UIN/IAIN.
Saya sebelumnya sekolah di Gontor, sekolah dasar di SR dan juga sekolah Arab (belajar agama sore hari), belajar agama waktu kecil dari orang tua dan sekolah Arab itu. Saya lahir di Gresik tahun 1946. Masuk ke PP Darussalam Gontor, saat umur 13 tahun. Hasyim  Muzadi adalah kakak kelas saya, juga Nurcholis Majid. Saya masuk Gontor, Nurcholis Madjid sudah tamat (selesai). Berbeda satu angkatan.  Kurikulum Gontor dari dulu hingga hari ini sama, tidak berubah. Keluar Gontor sekitar berumur 19 tahun.

Setelah IAIN lalu kemana lagi?
Mengembara, kemana-mana. Menjadi guru, berkeluarga. Saya juga jalan-jalan ke luar negeri. Lama di Malaysia Timur. Kota Kinabalu, dulu sebagai utusan Rabithan ‘Alam Islami. (Mabuts Rabithah ‘alam Islami). Waktu bertugas di Malaysia 1990 awal masuk Indonesia berdiskusi tentang pelaksanaan pendidikan dan terealisir tahun 1999.

Apakah Anda kenal Pak Natsir?
Beliau yang mengutus saya sewaktu menjadi utusan Rabithah ‘Alam Islami. Saya diutus waktu itu September 1980 ke Malaysia. Saya kenal Pak Natsir sejak masih muda, karena Ayah saya adalah orang Masyumi. Jadi tokoh yang diidolakan adalah Pak Natsir, juga Pak Prawoto, Mr. Muhammad Rum.  Ayah saya adalah  kepala desa, tapi beliau memimpin gerakan Masyumi dan Syarikat Islam.

Siapa nama beliau ?
Namanya banyak sekali, tapi yang dikenal orang ada tiga. Waktu jaman revolusi, dikenal dengan  Mukarrib, artinya orang yang dekat dengan kawan dan Tuhannya. Kemudian  dikeanal juga Rasyidi, dikenal juga Panji, dikenal juga Gumilang.

Gumilang itu apa artinya?
 Artinya bendera yang sedang berkibar. Maka saya ambil satu diantara nama beliau Panji Gumilang. Jadi nama saya adalah nama yang di sematkan untuk menghormati Ayah saya. Sebab waktu jaman perang beliau tukang membawa bendera untuk mendirikannya di patok-patok dalam melawan Belanda. Maka dia dikatakan Panji.

Waktu dengan Pak Natsir apakah sudah membicarakan mengenai Zaytun?
Oh, belum. Kita hanya bicara pendidikan saja. Zaytun ini namanya belakangan, begitu berdiri, yayasan ditanyakan oleh Departemen Pendidikan apa nama sekolahnya? “Lalu kita namakan Al-Zaytun.” Yang artinya Olive, simbol perdamaian. Karena di Al-Qur’an ada satu ayat namanya surat Attin. Yang disebut Attin dan Azzaytun. Tatkala mau menciptakan manusia dengan baik, Tuhan menyebut tin dan zaytun. Tin itu adalah “Fig”. Karena Soeharto sudah menamakan masjidnya yang di Taman Mini Attin. Maka kita namakan saja disini Al-Zaytun.

Waktu dengan Pak Natsir itu bagaimana?
Oh, kita bicara pendidikan-pendidikan dan pendidikan.

Kembali dari Malaysia setelah itu bertemu lagi dengan Pak Natsir?
Waktu itu Pak Natsir sudah agak sakit-sakitan. Kita bertemu seperti biasa saja, saya bertemu dan kita ceritakan mengenai pendidikan, beliau bilang: “Silahkan. Saya do’akan.” Waktu itu kami berhenti dari Rabithah ‘Alam Islami dan mau mendirikan pendidikan di Indonesia.

Lalu permulaannya bagaima, ada berapa orang?
Waktu permulaan itu mudah, meletakkan batu, tinggal melanjutkan yang susah. Ada sekitar 35 orang sahabat kami yang sekarang masih ada semua disini (MAZ), kecuali ada juga satu orang yang sudah wafat. Insiyur yang kami ajak juga masih ada, sekarang mereka menyelesaikan S3 di ITB Bandung. Itu semua kawan-kawan dari mana-mana, bahkan ada yang tidak kita kenal sama sekali. Kita jabat tangan, kita kenalkan konsep pendidikan, dan diajak untuk bergerak. Semuanya yang kita punya dikumpulkan, kita beli tanah. Kita ajak juga bangsa ini dan mereka menyambut dengan baik. Mulai dari 16 ha, lalu 60 ha, kemudian lebih banyak.
Sebenarnya kita mencari tempat sejak awal 1990 untuk mencari tempat. Ke Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan tidak dapat. Dulu mestinya dapat dekat Jakarta, dekat dengan Texmaco (Subang), tapi harganya di ubah. Lalu kami jalan terus ke Timur, jalannya sangat sulit tidak ada jembatan dan kami turun ke sungai. Lalu bertemu jalan Haurgeulis (yang artinya: Bambu yang Cantik). Kami ingin tahu dan bertemu Gantar. Anda jangan bayangkan jalannya seperti hari ini. Jalannya sangat jelek, lumpurnya hingga selutut. Ketika bertemu Gantar, asosiasi kami, mengingat Gontor (karena orang Jawa sukanya hurup ‘o’). Lalu ada orang datang menawarkan tanah.

Mengenai model-model yang terdapat disini, inspirasinya dari mana?
Namanya hidup terinspirasi dari pengalaman hidup yang dipersatukan. Kita ingin membuat pendidikan terpadu yang didasari oleh gerakan ekonomi. Ekonomi yang mengarah pendidikan dan pendidikan yang mengarah pada perkembangan ekonomi. Maka kita buat kegiatan ekonomi, kita punya pabrik beras, pabrik kayu, tambak ikan di berbagai tempat. Dari sana mendukung pendidikan ini. Di kompleks ini semua dibuat sebuah laboratorium alam.

Jadi konsep pertamanya, ekonomi dulu atau bagaimana?
Berjalan bersama-sama. Karena kami ini awalnya bergerak di bidang ekonomi. Ada yang awalnya pengusaha, direktur perusahaan sendiri. Lalu kita kumpulkan dari pada maju tidak, mundur tidak mau. Kita ajak bergerak bersama-sama.

Apakah pernah melihat model seperti ini di negara lain?
Kita belum menemukan, tapi kegiatan pendidikan yang ada di sebuah negara kita amati. Kita lihat di Kairo, Saudi, juga negara Eropa, termasuk Spanyol, Prancis, Amerika, kita padukan. Kita cantumkan semuanya dan ini adalah model khusus. Campuran dari peradaban manusia yang kita ambil.

Apakah waktu jaman orde baru tidak ada kesulitan dalam membangun Ma’had ini?
Sampai hari ini tidak ada kesulitan. Orde baru tidak sulit sekarang pun tidak sulit. Sulit karena kita meletakkan pada posisi sulit. Kalau kita letakkan diri kita pada posisi lancar, ya lancar.
Hubungan dengan dewan da’wah masih ada. Apakah ada orang dewan da’wah datang kesini?
Secara resmi setelah berdiri Al-Zaytun belum pernah kesini. Dan setelah berdiri Al-Zaytun ini, kita sibuk disini terus, tidak boleh ditinggal. Bersama anak-anak (santri).

Kalau dalam pelajaran cenderung ke NU atau Muhammadiyah. Atau dari yang lain?
Kita tidak mengatakan NU atau Muhammadiyah, apa yang diajarkan agama (Islam) itu yang diajarkan. Mirip NU ada, juga mirip Muhammadiyah dan Dewan Da’wah, semuanya ada. Anak-anak yang ada disini pun berasal dari berbagai kalangan, ada orang NU juga banyak disini. Dan murid ini berasal dari berbagai propinsi di Indonesia.

Untuk masa depan bagaimana. Apakah akan dibangun Al-Zaytun yang lain, di seluruh Indonesia?
Kita berharap seperti itu. Di Pulau lain juga ada. Insya Allah Sulawesi Tenggara, Bengkalis. Ada 340 daerah pelan –pelan kita bangun.  Di daerah pendidikan dasar dan di propinsi sekolah menengah dan disini (Indramayu) nanti perguruan tinggi.

Terus modelnya nanti apakah sama seperti disini?
Kita harapkan seperti itu. Sebab dengan cara seperti ini, kita harapkan nanti santri mampu menjadi enterpreneur, sebab Indonesia kurang manusia yang berjiwa enterpreneur. Maunya hanya menjadi pegawai saja. Sedangkan pegawai cuma diperlukan sedikit.

Kalau berbicara ekonomi pesantren atau ekonomi Islam, dari segi mana Al-Zaytun menjalankannya?
Sebenarnya kalau berbicara ekonomi, jangan dikatakan ekonomi Islam atau non Islam. Didalam ajaran seluruh agama, ekonomi adalah gerakan usaha untuk memenuhi hajat hidup dirinya bersama-sama manusia lainnya dan lingkungannya. Kalau seorang yang beragama adalah sarana untuk mengabdi kepada Tuhannya. Jadi tidak boleh dibatasi dengan Islam dan bukan, nanti terlalu sempit. Nanti  tidak mau yang lain nanti. Karena semuanya perlu makan. Islam, Kristen, Budha. Jadi yang penting adalah jiwanya untuk apa.



Tokoh masyumi lama yang menjadi model siapa?
Semuanya sudah wafat dan ketika beliau bergerak belum memberi contoh, hanya pembicaraan saja. Masyumi itu gerakannya telalu sebentar. Yang kita ikuti adalah akhlaq orang per orang, dan Masyumi belum pernah mencontohkan membuat pendidikan  seperti ini.

Bagaimana dengan Sarekat Islam?
Jiwanya. Jiwa membangun enterpreneur, bukan sebagai pegawai tetapi sebagai pengusaha, itu kita suka. Syarikat Islam juga belum memikirkan betul mengenai pendidikan seperti ini. Dan semua bangsa Indonesia pada akhir penjajahan sampai awal kemerdekaan hingga awal orde baru, belum mempunyai bentuk yang pasti. Maka dari situlah maka kami membuat bentuk seperti ini. Sumbangan anak bangsa kepada bangsanya dan ummat manusia. Maka kita buat tema pendidikan disini: “Ma’had Al-Zaytun Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi serta Perdamaian.”

Dulu di Masyumi juga ada toleransi antar agama kan?
Oh. Iya ada. Semuanya ada cita-cita seperti itu tentu ada tapi realisasinya belum terealisir dengan baik. Maka kita tidak usah menyimpulkan seperti X, semuanya masih dalam proses perjalanan. Al-Zaytun tidak berpartai, dan bukan organisasi massa, tapi merupakan gerakan pendidikan. Tidak punya anggota. Hanya punya pelajar saja.

***
Dr. Andree Fillard (baju putih) didampingi anaknya Gwen Fillard, ketika mengadakan wawancara dengan Syaykh A.S. Panji Gumilang di Wisma Al-Ishlah.

‘Da’wah Bil Hal’

Kalau lembaga da’wah?
Ini adalah da’wah. Mendidik inilah adalah da’wah, aktifitas da’wah itu mendidik. Jadi ini da’wah. Sebab da’wah kalau diungkap dengan mulut, akan bertanding mulut. Sebab kalau bertanding mulut, akan bertanding selain mulut. Maka pergerakan inilah yang namanya da’wah dalam praktek. Dalam bahasa Islamnya: “da’wah bil hal”.

 Apa cita-cita dari pendirian pendidikan ini?
Kami ingin ikut mencerdaskan bangsa dan mengantarkan bangsa ini mempunyai kemahiran dalam bidang sains dan tekologi dan mencintai negerinya. Seperti bangsa Perancis terhadap negerinya. Ini semuanya cita-cita. Dan cita-cita itu akan dicapai melalui pendidikan. Orang terdidik akan menjadi orang yang santun. Kalau berbicara didasari pada akal fikiran yang rasional, saling toleran karena semua pakai ilmu.

Apa yang diharapkan nantinya dari para santri yang ada disini, kembali ke daerah masing-masing atau bagaimana?
Kita serahkan kepada anak itu sendiri, karena zaman anak nanti bukan zaman kita. Kita hanya memberikan bekal. Dan zaman kita 10 tahun mendatang berubah sama sekali. Untuk rencana jumlah santri kita terus membangun jangan berhenti sebanyak-banyaknya. Bahkan nanti akan didirikan air port dan nantinya akan didirikan universitas antar bangsa. Siapa tahu nanti ada kerjasama dengan Perancis, sehingga negara Afrika yang pernah dekat dengan Perancis akan memasukkan anaknya ke Al-Zaytun.

Sewaktu ke Perancis apa yang paling mengesankan bagi Bapak?
Disana orangnya sopan-sopan. Bilang mercy vient. Kalau masuk ke Jerman orangnya keras-keras.
Kalau Inggris, apa yang bisa diambil dari Inggris?
Anak saya sekolah disana, tentu Inggris tidak bisa kita kecilkan. Sekalipun Inggris menyerang Irak, kita tidak boleh kecilkan karena Inggris punya sejarah.
Amerika bagaimana?
Kita mau membuat kerjasama pendidikan. Kita tidak lihat Amerika George Bush, tapi lihat Amerika sebagai Amerika, mereka punya Abraham Lincon, George Washington, Henry Ford yang gagah. Kalau sekarang punya GW Bush itu biasa, dunia ini dalam perjalanan.
Kalau timur tengah bagaimana?
Timur tengah cukup dengan semangat Rasullullah sebagai pembawa risalah Islam.
Mesir bagaimana?
Oh, mesti dilihat
Saudi Arabia?
Karena Ka’bah ada disana, kita hormati. Kalau tidak dihormati—karena Ka’bah ada disana-- tidak elok juga kan... Ambil segi positif tinggalkan yang negatif dan jangan pernah dicela.
Positifnya dari Iraq yang sekuler berbeda dengan Saudi Arabia?
Sebetulnya antara  yang sekuler berjalan di Iraq dan yang religius yang ada di Saudi Arabia, kita tidak terlalu membedakan. Kita juga tidak memegang kepada mazhab-mazhab keagamaan. Nanti kalau kita berpegang pada mazhab keagamaan langkah kita semakin sempit.
Tapi disini mayoritas Syafi’i?
Itupun hanya kata orang. Orang yang mengatakan Syafii belum mengenal ajaran Syafii. Yang dipesantren pun tidak seberapa kenal hanya ikut-ikut saja yang penting sudah Islam.
Tapi di Gontor semua mazhab diajari kan?
Itu pun tidak seperti itu, yang penting belajar Islam. Kalau diambil dari pendapat pulan itu namanya perjalanan mempelajari ajaran Islam.
Fiqih itu masih penting atau tidak untuk Indonesia ini?
Fiqih itu dalam bahasa Indonesianya adalah Faham. Berfaham itu perlu. Jadi kita memahami keagamaan itu perlu.
Apakah bisa diharapkan dengan penerapan syariat di Indonesia bisa membawa Indonesia keluar dari krisis?
Krisis sekarang itu bukan masalah penanganan Ideologi dan sebagainya, sekarang kembalikan kepada pendidikan yang bagus. Tata ekonomi yang bagus, itu nanti akan keluar dengan sendirinya dari krisis. Karena penyebab krisis itu adalah manusia itu sendiri. Jadi masalahnya adalah pendidikan.
Apakah pendidikan zaman orde baru masih kurang?
Belum karena arah pendidikanya kurang jelas. Yang selama ini ditemukan sama sekali tidak mengarahkan out-putnya pada menjadi manusia yang siap bergerak. Siap  mandiri dan siap menjadi enterpreneur. Semuanya diarahkan untuk menjadi pegawai. Maka belum mampu menjawab tantangan jaman akhirnya. Keluar sekolah bawa map. Minta kerja. Belum ada yang keluar sekolah, simpan ijazah di lemari dan dikunci, dan membuat lapangan kerja.

Jadi seperti syariah yang dikatakan oleh beberapa orang mengatakan, sudah tentu atau bagaimana?
Belum, bukan tidak tentu. Kalau tidak tentu, tertutup pintu toh. Belum pasti. Karena itu sekedar ucapan, nanti kita tanya seperti apa. Kita juga ingin tahu.

Tapi di Aceh sudah diterapkan?
Itu pun kita belum tahu jelas. Ia masih meraba-raba. Dari sisi apa disana diterapkan, paling paling disana: perempuan pakai kerudung.

Jadi menurut Bapak syariat bagaimana?
Kita tidak bicara syariat dulu. Kita bicara, krisis harus dibongkar melalui pendidikan. Pendidikan arahnya kemandirian.

Pendidikan selama ini bagaimana?
Bangsa Indonesia dulu itu terjajah. Waktu itu penjajah menginginkan pegawai dari bangsa jajahannya. Jadi bangsa Belanda dulu mendidik tercapai, menjadi pegawai. Tapi sampai sekarang juga pendidikannya masih seperti itu. Bukan dirombak sebagai bansa merdeka yang menata diri sendiri, yang bisa memenuhi hajat dirinya dan untuk orang lain. Nah, sekarang kita baru mulai. Kita yakin.
Sekarang bagaimana sikap pemerintah, apakah mereka menghormati seluruh pekerjaan dan usaha Bapak?
Kalau saya yang mengatakan. Itu relatif, jadi saya yang harus tanya kepada Anda. Usaha yang begini menurut Anda sudah dihormati atau belum oleh pemerintah Indonesia. Sebab kami tidak pernah merasakan dilarang. Atau dipuji. Jalan saja terus.
***

‘Ada Orang Mengatakan NII ?’
Mengenai ada orang yang kemaren mengatakan  NII itu dari mana?
Anda sendiri sudah baca buku. Buku yang ditulis orang kan Anda baca.

Bagaimana itu, darimana itu sebenarnya?
Itu jangan ditanya kesini. Kan tadi --saat shalat Jum’at –kita bilang, Pak Tentara yang shalat di depan. “Pak tentara, jawab itu”. (Sewaktu Tausiyah Jum’at di masjid ada Kapten Cadirah, Komandan Koramil Haurgeulis  yang ikut shalat berjamaah di masjid Al-Hayat Ma’had Al-Zaytun –red)

Apa karena orang iri hati atau bagaimana?
Saya pun tidak bisa menyimpulkan. Orang tidak suka dengan yang ada disini atau person di Al-Zaytun ini jangan ditanya kemari. Tanyakan pada yang tidak suka itu. Nanti anda dapat jawaban. Kalau disini ditanya, nanti Anda dapat jawaban: Wah..Bla.bla.bla terlalu banyak Anda menulis. Dan akhlaq kita sebagai seorang manusia: jangan terlalu diambil perduli.. kita terkadang benci hari ini, siapa tahu besok jadi sahabat kita. Siapa tahu ? Tuhan itu punya peranan dalam diri kita ummat manusia ini. Kami pun awalnya tidak kenal Anda kecuali di buku-buku saja. Sekarang jadi sahabat tho..?

Sudah banyak  orang asing datang kemari?
Oh banyak. Diantaranya atase politik Amerika  sudah datang kemari. Mr. John Rath. Masa anda tidak kenal?

Saya baru beberapa bulan yang lalu tugas di Indonesia. Sekarang saya diutus oleh EFEO, semacam LIPInya Perancis yang bertugas di Indonesia yang menghimpun data-data sejarah supaya dapat dibaca oleh orang-orang di Indonesia..

Nah itu perlu sekali. Sejarah Indonesia supaya bisa dibaca oleh orang Indonesia. Sejarah Indonesia dibawa oleh sahabat kita dari Perancis.. luar biasa. Ini namanya usaha kemanusiaan yang paling tinggi nilainya.

Dulu waktu Masyumi dibubarkan, bapak masih ingat?
Oh. Saya itu anak seorang Masyumi yang tokoh-tokoh Masyumi kalau datang ke Jawa Timur, menginapnya di tempat Orang tua itu. Jadi saya kenal satu persatu.

Waktu Masyumi dilarang sikap Bapak bagaimana?
Waktu itu –dalam hati—hanya betanya-tanya. Mengapa suatu partai kok bisa dibubarkan oleh seorang Presiden. Waktu itu hanya bertanya dalam hati saja, karena waktu masih sekolah.

Kemudian setelah itu Bapak memilih partai apa?
Tidak pernah berpartai sampai hari ini.
Kemudian Ayahnya?
Oh. Masuk Golkar. Karena kepala desa jadi tokoh terus.
Sedangkan Pak Panji waktu itu masuk apa?
Tidak pernah berpartai. Jadi kalau tidak pernah masuk Golkar nanti, masuk partai lain. Tapi saya tidak pernah berpartai. Partainya Panji Gumilang ini adalah Pendidikan. Siapa yang mendirikan pendidikan kita datang. Kita suka.
Jadi siapa yang punya pesantren Anda datang?
Bukan pesantren, tapi pendididikan.
Disini bukan pesantren?
Kita namakan ini Ma’had. Artinya sebuah college besar. Didalamnya ada boarding school. Jadi maksudnya, kalau orang mendirikan pesantren kita datang. Orang mendirikan sekolah kita tadatang, kita senang sekali.
Sewaktu di Malaysia bagaimana, senang atau tidak?
Yang mananya tempat kita berpijak, kita harus senang. Karena kita kerja disitu harus senang sehingga kita leluasa bergaul.
Orang tua dari Masyumi. Kemudian dikirim oleh Pak Natsir ke Malaysia itu bagaimana?
Orang tua kita dengan Pak Natsir—walaupun beliau di Golkar—tapi bagus-bagus saja. Karena tadinya Masyumi.
Apakah waktu itu Pak Natsir sendiri yang mengirim ke Malaysia.
Waktu itu beliau tahun 1980an yang mengirim ke Malaysia. Karena waktu itu Malaysia meminta tenaga da’i. Lalu dikirimkan dari Indonesia beberapa orang, satu diantaranya adalah saya.
Malaysia waktu itu kekurangan orang atau bagaimana?
Iya, seperti itu. Waktu itu Malaysia kekurangan tenaga da’i. Jadi saya dikirim sebagai da’i. Guru dan lain-lain. Kadang-kadang kita juga mengajar.
Jadi pekerjaanya apa saja?
Waktu itu duduk di Majlis Ugama Islam, yang mengadakan penelitian-penelitian, mana daerah yang harus dibantu dan lainnya. Waktu itu banyak tenaga Indonesia yang dikirim kesana karena Malaysia kekurangan tenaga. Mahathir banyak mengambil langkah pendididikan dan ekonomi.

‘Tanggapan Mengenai Malaysia’

Malaysia dibawah Mahathir lumayan?
Saya termasuk yang mengagumi langkah-langkah Mahathir. Karena dia masuk pada perbaikan pendidikan dan ekonomi.
Tapi di Malaysia ada keluhan bahwa orang Melayu terlalu dimanja. Seperti di sekolah-sekolah mereka malas belajar dan mereka tahu kalau Melayu akan lulus.
Begini. Setiap perkembangan sebuah bangsa dan negara, takala mulai mapan, pasti ada yang ingin berubah. Amerika juga ada yang mengatakan: generasi mudanya manja.
Bagaimana Malaysia dibawah Mahathir?
Dia Oke. Buktinya dia mampu menjawab tantangan krisis..
Kalau Anwar  Ibrahim, bagaimana?
Anwar kan sedang di penjara. Apa yang bisa dibuat orang kalau dipenjara..ha..ha..ha.
Terlalu cepat dia ingin berkuasa?
Sebenarnya orang dipenjara itu kata orang bagus. Tapi kata Tuhan, kalau orang di penjara tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi yang bagus bisa berbuat apa-apa. Karena yang dinilai itu perbuatannya, kalau dipenjara apa perbuatannya? Sayang. Semestinya dia bisa membuat sesuatu.
Dia salah langkah?
Saya tidak bisa katakan salah langkah. Karena masuk penjara itu kadang-kadang disengaja oleh lawan-lawan politiknya. Saya tidak mengatakan dia salah.
Tapi Mahathir banyak dapat serangan sekarang ini?
Kita tengok, Mahathir mampu bertahan sampai ujung. Dan sekarang membuat putra mahkota. Artinya alih generasinya bagus.
Sudah pernah ketemu Ahmad Badawi dan Mahathir?
Alhamdulillah, sudah...
Katanya Badawi orangnya pintar?
Saya rasa orang yang ditampilkan dalam politik itu punya kepintaran. Tidak mungkin sebuah bangsa besar menampilkan tokoh yang tidak pintar.

Kalau antara Anwar dan Badawi, mana yang lebih pintar?
Dua-duanya belum pernah tampil sebagai orang pertama. Kalau sudah tampil sebagai orang pertama baru boleh dibanding. Dan sebagai pemimpin itu bukan dinilai pintar dan tidak pintarnya. Tapi kemampuan  mereka untuk mampu membawa sebuah bangsa untuk mampu sampai pada cita-cita bangsa itu. Banyak orang pintar yang tidak mampu menjadi pemimpin.

Seperti Gus Dur?
Kita tidak boleh mencontohkan...

Pernah ketemu Gus Dur?
Saya suka sama Gus Dur, sebagaimana suka kepada Megawati, sebagaimana suka kepada Habibie, sebagaimana suka kepada Pak Harto dan Pak Karno. Itu semua pemimpin bangsa, tidak boleh dipatah-patahkan. Kita belajar kepada bangsa Perancis, Amerika yang menghormati seluruhan pemimpinnya. He..he...he.

***

“Baru Ditanam Sudah Menghasilkan”

Al-Zaytun mampu membiayai sediri, ini otonom secara keuangan juga?
Kita bergerak sendiri dan keuangan dicari sendiri.
Tapi ada subsisi dari pemerintah?
Kalau dikasih kita terima, tapi sampai sekarang belum dikasih. Tapi kita tidak pernah minta.
Dengan cara otonom ekonomi disini bisa berjalan?
Sekarang lancar ..
Jadi sumber pendapatan dari murid dan orang tua bagaimana?
Ada 10 %, kebanyakan dari usaha kita. Kita kumpulkan sedikit demi sedikit dikumpulkan menjadi bukit. Dari perdagangan hasil pertanian, hasil hutan, perikanan masing-masing 10 persen, kumpulkan hingga 100 persen.
Kita juga menanam pohon, tapi belum menghasilkan sudah dibayar. Jadi jati yang kita tanam sudah dibayar,  dan berhasil. Dengan syarat jangan dipotong. Maka alamnya hijau terus.
Jati paling cepat umur berapa tahun bisa menghasilkan?
Minimal 15 tahun. Siapa yang mau beli silahkan, dengan syarat jangan dipotong. Dia beli kemudian pohon itu diberi nama. Pohon itu milik si pulan...dan kita yang menjaga.
Kalau 15 tahun lagi ...
Kita katakan, jangan dipotong karena ini adalah wakaf, milik orang..tidak boleh diwariskan. Dengan seperti itu Indonesia ini hijau lagi. Karena bangsa Indonesia selama ini mau memotong tetapi tidak mau menanam. Kita mau menanam tetapi tidak mau memotong.
Bagaimana menghindari orang luar yang akan memotong?
Tidak ada orang luar yang akan memotong disini. Orang sini baik-baik. Kita punya maksud baik kita kenalkan kepada mereka, mereka baik-baik. Tidak pernah ada yang mencuri. Kita berusaha anak didik pun kita berusaha, jangan kau sentuh, jangan konci lemarimu. Mengapa? Hormati hartamu dan harta kawanmu. /Z

1.      Kunjungan wartawan Die tageszeitung (Harian Jerman) Sven Hansen:

Tidak Melihat Ada Krisis di Al-Zaytun


Rupaya konsep Al-Zaytun tentang Qiradl dan penggunaan standar emas dalam mengatur perekonomian sudah mulai dikenal di masyarakat luas.  Salah satunya adalah wartawan Jerman die tageszeitung datang ke Ma’had Selasa (7/8/01).  Yang ingin mengetahui implementasi Al-Zaytun itu. Mr. Sven Hansen adalah  Editor untuk Asia Pasific dengan latar belakang political science dari University of Berlin, dia  juga belajar bahasa Spanyol di Universitas Peru in Lima. Die tageszaitung  mempunyai oplah 600.000 sehari terbit dalam bahasa Jerman. Mempunyai 60-70 editor dan ada juga koresponsden freelance dan di seluruh dunia. Setelah dibawa berkeliling oleh Imam Prawoto dan Abd Nasir Abd. Qadir juga didampingi Ust. H. Abd. Jabbar. Wartawan Al-Zaytun mengadakan wawancara, petikannya:

Darimana Anda pertama kali mengetahui Al-Zaytun?
Saya mengetahui Al-Zaytun pertama kali karena tertarik dengan perkembaangan e-dinar. Dan saya ingin memahami  mengenai hal itu:  ada di Al-Zaytun makanya saya kesini.  Sesampai disini saya sangat kagum dengan komunitas yang ada disini. Walaupun ini Anda bilang sekolah tetapi saya kira ini lebih dari sekedar sebuah sekolah bahkan ini sebuah Universitas. Saya sangat tertarik dengan semua upanya memadukan petanian, perikanan dan lingkungan yang ada di MAZ ini.

Apa yang melatar belakangi Kedatangan Anda ke Al-Zaytun?
Ceritanya panjang. Saya sebenarnya ingin mempelajari mengenai e-dinar. Ketika saya mempelajari e-dinar saya ingin mempelajari dinar emas kemudian saya mengetahui pendekatan yang berbeda di Indonesia  tentang pendekatan ekonomi dan saya ingin mempelajari  banggaimana membangun sebuah komunitas Islami dan saya datang kesini mempelajari tentang Al-Zaytun dan saya diberitahu bahwa disini tertarik dengan dinar emas dan e-dinar. Saya sudah mendapatkan gambaran mengenai hal itu di Jakarta tetapi terlalu abstrak, saya hanya diceritakan oleh beberap invidividu. Dan saya diberikan sebuah contoh penerapan mengenai dinar itu disini dengan pembangunan yang lain dan komunitas yang lain, kalau begitu lebih baik saya datang kesini untuk lebih dekat mengetahui. Dan saya datang ke Al-Zaytun kesini dan sejauh dengan proses panjang sebuah riset yang saya pelajari. Memulai dari perdagangan secara Islami (Islamic e-commerce) kemudian akan menjadi  mata uang Islam dan mereka akan menjadi  aspek lebih luas dalam pembangunan Islami.

Apa yang anda jumpai disini?
Saya pikir disini yang saya temukan adalah orang-orang yang pernuh dedikasi, sebuah komunitas yang termanaje dengan baik, berdisiplin, bekerja keras, dan saya pelajari ketika datang kesini saya lihat hamparan sawah, sangat mengesankan dengan sekolahnya –ini sebenarnya tidak bisa disebut hanya sebuah sekolah bahkan terlalu besar untuk sekolah mungkin universitas. Sangat  mengesankan.

Apakah anda menemukan implementasi e-dinar disini?
Belum saya sudah banyak bertemu dengan orang-orang yang terlibat dengan e-dinar dan saya bertemu dengan pencetak e-dinar yang dicetak di Indonesia dan saya kira saya akan mendapatkan diskusi dengan syaykh al-Ma’had mengenai hal yang lebih konkrit.


Anda jumpai sebuah komunitas dengan sekolah disini?
Tapi ini lebih daripada hanya sebuah sekolah, disini ada kemandirian, semuanya menarik tentu saja ini semua berjalan karena banyaknya donasi dari orang-orang Islam tetapi mereka menggunakan uang tersebut dengan sangat pintar, dan jalan yang sangat baik.  Ini semuanya kembali ke masyarakat. Saya sebenarnya datang dari masyarakat barat yang tidak terlalu kenal dengan kami mempunyai nilai dan sejarah berbeda, maka sangat sulit bagi saya untuk memberikan justifikasi. Dan saya dapat terima bahwa anda telah lebih maju, sangat mengesankan sulit dibayangkan ditengah tengah krisis di Asia bahwa Anda disini dapat berbuat sesuatu untuk membangun sebuah kota.

Indonesia dikatakan ada krisis ekonomi dan politik tapi bagaimana dengan Al-Zaytun?
Ketika saya datang ke Al-Zaytun Saya tidak melihat ada krisis.  Krisis berada diluar Al-Zaytun. Kelihatannya  Anda disini tidak mempunyai masalah dengan adanya kriminal, damai dan seperti sebuah komunitas yang tidak ada masalah dengan finansial. Bagi saya hal ini sangat mengesankan.

Di Jerman dapat berkembang dalam 25 tahun dengan kerja keras..?
Saya tidak tahu apakah hal ini dapat dibandingkan. Jerman telah sedikit berkembang setelah  dia hancur dan Jerman hancur karena kebodohan kekuasaan Hitler. Itu struktur fasis. Sehingga sangat relatif mudah dibangun kembali, memang itu dengan kerja keras. Tapi otak dan pengetahun sudah ada disana. Tapi disini Anda mengembangkan sendiri, itu yang sangat mengesankan. Maka sekarang anda  juga menghadapi krisis finansial. Banyak perubahan pemimpin politik, dan Anda juga berusaha untuk mengubah system politik dan ekonomi, dan ini suatu proses yang sulit  karena keadaannya disekeliling Anda sebenarnya tidak begitu potitif. Ekonomi dunia tidak tumbuh dengan tinggi. Tidak seperti pada jaman Suharto, dimana semuanya tumbuh dengan baik dan Anda mendapat pemasukan. Tapi sekarang tidak ada yang meningkat dan berkembang. Jadi keadaannya sangat sulit.





Anda (Jerman)  mulai dengan ilmu dasar dan melihat disini kami mengembangkan juga pertanian bagaimana komentar anda?
Saya menyaksikan petani di Thailand dan Philipina. Dibandingkan disini saya lihat memang lebih maju dan berkembang baik, dan manajemen pertanian terpadu dan dapat dikelola dengan baik. Itu juga sangat mengesankan.

Dapatkah dibandingkan hal ini dengan suatu kebangkitan sebuah bangsa mengambil contoh seperti bangsa Jerman yang juga tadinya hancur?
Jerman bangkit tentunya ketika Hitler berkuasa dia bilang Jeman bangkit. Jika  Anda membicarakan kebangkitan Jerman artinya membicarakan hal itu. Saya rasa itu terlalu sulit dikatakan. Dan juga ingat ketika Suharto memimpin orde baru. Jadi jangan lagi berbicara itu. Lebih baik lakukan pekerjaan anda dengan baik. Anda mengerjakan sesuatu disini dengan baik sekali dan ini sangat mengesankan. Sejauh ini  mungkin masyarakat disini dapat menjadi sebuah model yang berpotensial mungkin  merubah masyarakat dalam ekonomi dan mungkin sutau saat Anda dapat bangkin atau apa. Mungkin Anda dapat meningkatkan kualitas kehidupan. Tapi itu memang sebuah jalan yang panjang, untuk itu para pelajar dapat belajar disini untuk kehidupan mereka. Dan kebiasaan yang Anda lakukan disini merupakan suatu terobosan (achievement.)

Kenapa Anda sangat  tertarik dengan e-dinar?
Pertama karena saya seorang wartawan. Mencari berita cerita yang menarik. Saya melihat bahwa system finansial yang ada sekarang ini tidak perfect. Maka krisis di Asia merupakan mengindikasikan masalah manajemen institusi finansial, financial market. Di Eropa sekarang ini tengah banyak kritik dan perdebatan tentang globalisasi. Maka ada suatu minat besar untuk mencari alternatif solusinya. E-dinar adalah suatu konsep, dan dinar emas adalah suatu konsep dimana didiskusikan oleh muslim diseluruh dunia. Dan seperti alamnya sebagai seorang melihat secara dekat. Tentang apakah hal tersebut dan ingin mengetahui secara mendalam, berbincang dengan orang terkait. Itu yang saya lakukan. Saya tidak hanya ingin memahami secara teori tapi juga ingin menyaksikan jika ada yang telah menggunakannya.  Saya sebenarnya tidak begitu tertarik dengan teori tetapi hanya pada tertarik pada aspek praktis bila ada yang melaksanakannya. Saya ikut presentasi e-dinar di Jerman, dan membicarakan dalam term teoritis. (Alim al-Shiddiqie)

5.Wawancara “die tageszaitung” dengan Syaykh Al-Ma’had:

Al-Zaytun Menyelamatkan Assetnya dengan Emas


(Sven Hansen): Saya sudah mempelajari mengenai e-dinar di Eropa belum menemui ada implementasi yang konkrit mengenai hal itu. Saya dengar disini telah menerapkannya...
(Syayk al Ma’had):Karena seperti itu, maka kita sampaikan. Di Al-Zaytun untuk mengamankan dana-dana yang dimiliki itu selalu dikonversi kepada emas (gold). Untuk pengamanan dana yang dimiliki karena posisi rupiah di Indonesia itu sangat lemah. Jadi kita untuk mengamankan,  tidak memilih ponds sterling  atau USD tapi kita amankan dengan emas. Tatkala ada e-dinar maka kita sedang mempersamakan persepsi menghitung antara e-dinar dengan emas yang kita punyai. Sehingga nanti pengamanan antara e-dinar dan emas yang kita punyai ini ada keseimbangan.

Bagaimana Anda cara mengamankan dana tersebut, bila sudah berjalan emas itu ada  dan disimpan dimana. Apakah di bank atau kita punya bunker?
Dana-dana seperti itu tentunya di perbankkan yang legal. Kalau kita berbicara emas bukan mempunyai fisik emas, semua emas itu kita konversi dengan harga setiap hari. Kalau kita menyimpan umpama satu gram emas, berarti kita harus membayar sekian rupiah. Pada bank itu dan di bank itulah emas kita ditukar.

Sudahkah ada penggunaan e-dinar?
E-dinar itu sekedar untuk pengamanan saja. Jadi hanya di bank bukan untuk transaksi.

Bagaimana cara memanfaatkan emas yang ada. Apa yang dilakukan dengan dinar emas selama ini?
Kalau dengan e-dinar kita belum secara aktif menggunakan jasa e-dinar, kita mengarah kesana tapi dinar emas yang kita punyai sangat besar manfaatnya, karena kita mengukur setiap transaksi memakai standar emas. Sehingga pembanyaran kalau kita memberi kredit kepada komuniti kita, nanti kembalinya adalah dalam ukuran emas yang berlaku. Dan kalau kita membeli barang barangpun kita ukur dengan harga emas. Tenyata setelah Indonesia terkena krisis semacam ini perimbangan emas itu lebih menguntungkan. Karena rupiah naik turun,  sehingga kita tidak terkena kerugian dari nilai rupiah itu. Untuk dinar dalam e-dinar masih dalam pemikiran dan masih dipelajari dengan mendalam. Yang dipejari adalah efek peredaran dinar itu sendiri di masyarakat di Indonsia. Apakah sudah diakui umum oleh masyarkat Indonesia. Bila belum diakui penuh maka emas murni itu lebih menguntungkan daripada dinar. Kalau semua nanti dinar kita akui dalam pembayaran sehari-hari di Indonesia maka kita akan pakai e-dinar. Kalau e-dinar sudah seperti USD sudah dikenal oleh masyarakat maka kita akan menggunakannya.

Apakah investasi Anda ada di luar negeri atau di dalam negeri?
Kalau bab investasi bisa bicara dana itu masih di Indonesia. Kalau dana-dana itu kita terbangkan ke luar berarti mempertebal krisis yang ada di negeri sendiri. Kalau hari ini kita menghindari krisis lantas setiap orang meyimpan dananya diluar negeri  maka Indonesia akan hancur.  Itu sudah lama, sewaktu-waktu kita investasi dalam bentuk emas, sewaktu-waktu juga USD untuk menghindari fluktuasi nilai rupiah dan itu sudah berjalan lama, sejak kita mempersiapkan proyek ini. Kita sudah membaca bahwa nanti Indonesia akan kena krisis. Maka kita ambil cara seperti tadi, tapi di negara Indonesia. Mengapa kita yakin senjak beberapa tahun yang lalu Indonesia akan krisis? Karena berbicara mengatur ekonomi Indonesia tidak jelas. Ada banyak korupsi.

Apakah ada perubahan dalam menkonveriskan antar USD dan emas, apakah sama atau lebih banyak dollar atau emas?
Berimbang. Bila nilai tukar rupiah menguntungkan terhadap USD kita ambil USD, begitu sebaliknya.Tergantung dengan situasinya.

Mungkin anda tidak akan menjawab pertanyaan saya, berapa jumlah dana yang diinvestasikan dalam USD dan emas untuk proyek ini? Boleh dijawab atau tidak..
Itu dapat Anda hitung sendiri, kalau kita dapat membangun ini tanpa terkena krisis, jadi dana yang kita himpun dan amankan  adalah ini. He..he..he..(‘alim)


Wawancara Syaykh al Ma’had dengan Peneliti dari Singapura.


“Membuktikan dengan Kerja Sebagai Amal Nyata”


Ahad, 24 April 2005 agenda tamu yang berkunjung ke Ma’had Al-Zaytun lumayan padat. Saat itu Syaykh A.S. Panji Gumilang berada di kamar 518 di Wisma Tamu Al-Ishlah yang sedang diwawancarai oleh Rohaiza peneliti dari Singapura, kelahiran tahun 1982 yang ditemani oleh Noor Huda Ismail dan Aisyah di Meeting Room Wisma Tamu Al-Ishlah pun sudah ditunggu oleh tamu dari Universitas Advent Indonesia (UNAI) Bandung. Sudah kesekian kalinya Syaykh al-ma’had diwawancarai oleh peneliti dan wartawan luar negeri, sebut saja Hasenah Kayakuty (Singapura), Stevan (Belanda) dan lain-lain. Apa saja yang ditanyakan oleh Rohaiza peneliti dari Singapura itu, berikut ini kita simak wawancara selengkapnya.

Kami ingin silaturahim pada Pak Panji.
Apa makna silaturrahmi terangkan pada saya. Kadang-kadang bilangnya silaturahmi, tapi setelah sampai di sana lain pula yang dikatakan, cerita macam-macam nanti. kalau silaturrahim haqiqi bolehlah sebab hari ini banyak macam berita khususnya pada Zaytun, kalau silaturrahim dengan arti yang benar bolehlah. Namun bila tidak, boleh juga itu namanya terbuka, terus apa yang boleh saya sampaikan dalam silaturrahim ini atau barangkali anda mau bertanya.

Saya mau mendengar pendapat Syaykh Panji tentang gerakan Islam atau perkembangan Islam di Indonesia?
Memang ada gerak ? yang gerak itu muslim, Islamnya tidak, Islam sebuah agama Dari zaman nabi Adam sampai sekarang gerak, kalau  bergerak habis itu. Muslim yang bergerak atau gerakan muslim nanti kalau gerakan Islam bisa salah itu. Islamnya tidak apa-apa dikatakan bergerak macam-macam itu salah banyak orang bicara gerakan Islam, jadi yang bergerak itu muslim. Muslim itu bisa penuh bisa kurang (bisa salah bisa benar) karena manusia muslim itu bukan Agama. Manusia selalu bisa salah bisa benar. Jadi kalau Islamnya dikatakan salah atau benar wah itu bisa rusak, hanya muslim ada yang kena penjara khan? Islam tidak boleh. Supaya Anda nanti meneliti Islam dan Muslim bisa meletakkan pada letaknya masing-masing.
Segala permasalahan, defenisinya harus jelas?
Ya kalau defenisinya tidak jelas nanti anda simpulkan akan rusak semua. Sekarang defenisinya meneliti Islam atau meneliti muslim?
Gerakan muslim. Kalau menurut Syaykh, gerakan muslim di Indonesia sekarang ini bagaimana?
Saya tidak pernah menilai, saya seorang pendidik mempersiapkan muslim yang baik. Kalau yang muslim, karena di sini pendidikan yang terbuka untuk manusia, kalau ada nanti Nasrani masuk kesini nasrani yang baik.
Kho bisa ya ?
Lho Anda ini bagaimana? Pendidikan kok pakai bisa.
Berarti Al-Zaytun menerima non muslim untuk masuk sini?
Tidak ada istilah non muslim, manusia yang diterima di sini, manusia macam macam agamanya.
Nanti kalau misalnya ada yang non Islam masuk sini diterima?
Jangan dikalaukan, hantarkan ke sini saya terima. Nanti kalau, kalaunya tidak ya jadinya tidak ada. Anda hantar sini dari Singapura yang Budha juga kami terima. Kami tidak menyekolahkan anak kami di tempat Nasrani, di London ada nggak sekolah bagi orang muslim yang ternama khan belum ada, jika sudah ada kita titipkan pada masyarakat London di sana. Mengapa tidak kita terima? tapi kalau masih kalau, jangan. Anda hantar sini masuk pembukaan tanggal 15 juni, kalau masih kalau, tidak bakal dihantar. Hantar saja ke sini tidak usah pakai kalau.
Kalau sejarah Al-Zaytun sendiri diawali seperti apa  Syaykh?
Tidak pakai sejarah, sudah berjalan. Nanti kalau sudah berjalan panjang ditulis barulah itu sejarah. Cerita angan-angan waktu itu ingin mendidik manusia supaya mempunyai budaya yang baik, toleran, damai, setelah menjadi manusia itu jadi manusia yang bajik dan bijak, yang mengusai sains dan teknologi, manusia yang cinta pada negaranya dan yang mampu bergaul antar bangsa, cuma itu dimana-mana sama.
Apa yang ditanamkan oleh  Syaykh sehingga bisa menggerakkan sekian ribu,  mulai eksponen, karyawan  maupun santri  yang begitu  banyak?
Kalau ditanamkan itu jadinya cuma satu. Syaykh tanam jagung tidak akan tumbuh padi. Di sini diajak bersama yang mempunyai ide-ide dibebaskan berbuat, kalau saya menanamkan ini bisa kayu jati semua khan tidak boleh, jadi kita membimbing saja. Rosul saja tidak boleh mendoktrin, tapi membawakan ajaran yang baik. Kita tidak ingin itu menanamkan satu kemauan kita, sebab kita pendidik, mengahntarkan kemauan anak-anak ini kepada yang baik itu saja. Baik itu untuk ukuran bersama, manusia apapun predikatnya menginginkan baik, tidak usah dibatasi.
Menurut Syaykh, mengapa sih kok timbul fitnah terhadap MAZ yang Syaykh pimpin ini?
Jangan bertanya ke sini, tanyakan pada yang membuat isu. Mengapa mereka membuat isu seperti itu. Nah kalau anda bertanya pada mereka baru anda obyektif namanya, kalau kami jawab nanti anda bisa bilang, ah itu kan Syaykh yang cakap, yang bincang. Maka lebih baik pertanyaan itu anda tanyakan ke mereka, kemudian ajak orang itu untuk berdiskusi dengan Syaykh, kan asyik kalau begitu.
Sampai sekarang belum ada diskusi dengan mereka?
            Diskusi itu kan berhadapan seperti ini, anda sama saya sedang berdiskusi. Kami di sini tidak terbiasa berdiskusi seperti di koran, karena ngomong di koran tidak akan pernah selesai. Anda yang datang ke sini yang katanya peneliti dan berdiskusi kan asyik bukan? Sebelum berdiskusi kadang-kadang kita kaget, mengapa ini tiba-tiba datang peneliti. Tapi setelah berdiskusi semua kan jadi asyik. Yang dari Singapura faham tidak kalau saya catat di sini, nanti salah tangkap lagi sampai di Singapura saya bilang begini dimaknai lain. Dulu ada Hasena Kayakuty  (Reporter Singapura) perempuan yang seperti India yang datang malam-malam kita hanya diskusi tapi tidak tahu apa yang diceritakan di sana. Kita ini Khusnuzon, baik sangka saja apa nak dibuat orang buatlah yang penting di sini berbuat baik.
Syaykh boleh cakap  Melayu,  lama di Malaysia ya ?
Memangnya Indonesia bukan melayu? Melayu juga. Andainya Indonesia tidak melayu sudah bahasa Jawa yang digunakan. Maka jadilah satu nusa satu bangsa satu bahasa Indonesia, rumpun melayu Johor Melaka dan Riau macam itulah Indonesia. Jadi jangan bicara Indonesia dan melayu tidak boleh. Semua persoalan harus selesai karena kita tak ada pisah.
Kalau permasalahan tadi kan menanamkan semuanya untuk bisa berekspresi terus penekanan Al-Zaytun sendiri?
Tidak ada yang ditekankan, jadilah orang baik nanti anda akan jadi diri anda bukan dirinya Syaykh. Mulai dini kita ajak seperti itu, nanti kalau semua jadi Syaykh gimana? jadilah dirimu sendiri apa nak engkau cari, seperti itu. Hanya sebelum jadi dirinya sendiri dikasihlah unsur-unsur yang bisa membuka pintu dunia.
Kita kalau misal gerakan muslim itu kalau diberi sejarah itu kan bisa dilepaskan dari berbagai macam bentuk, bentuk keragaman Islaman ada yang lewat partai, ada yang tidak lewat partai, ada yang gerakan bawah tanah dan ada yang tidak bawah tanah, pandangan Syaykh seperti apa?
Kalau contohnya diambil Al-Zaytun anda nilai seperti apa?
Terbuka.
 Sudah itu saja Syaykh tidak bisa melukiskan siapa-siapa yang lain nanti salah terka. Melihat sesuatu seperti Al-Zaytun ini bersama kawan-kawan untuk tujuan seperti yang sudah disampaikan tadi dan begitulah gerakan muslim yang bernaung di dalam pendidikan Al-Zaytun  ini. Nanti kalau saya cerita yang lain-lain belum tentu pas.
Tapi bagaimana penilaian internasional terhadap pesantren di Indonesia itu kan seperti itu?
Bukan, antarbangsa tidak menilai seperti itu.
Tapi kan banyak seperti yang ditulis di koran.
Ya itu kan sebagian wartawan yang melaporkan, antarbangsa menilai Indonesia baik, apalagi kalau mau melihat Al-Zaytun. Jangan kalau ada yang di Washington berbicara seperti itu lalu semua bangsa di dunia seperti itu, tidak begitu.
Kebetulan saya memunculkan resume gerakan Darul Islam (DI). Gerakan DI ini sebagian orang mengatakan sudah selesai sebagian lagi ada yang mengatakan sebagian masih ada sebagian yang terlibat DI kemudian terinspirasi dengan gerakan DI dan membuat inspirasi itu lebih baik dan beberapa wawancara saya itu memberikan contoh Al-Zaytun bahwa dengan spirit DI tapi menciptakan jadi lebih terbuka?
Baca, majalah Al-Zaytun di situ kan ada semboyan pesantren spirit but modern system.  Kalau anda meneliti DI buat bukunya kirim pada Syaykh saya baca. Kalau ingin tahu Al-Zaytun, pesantren spirit but modern system, You know?
Iya pasti. Jadi memang tidak ada anggapan orang terhadap  hubungan antara  gerakan DI dan Al-Zaytun?
Saya meniru penilaian orang itu dalam bentuk buku yang saya baca. Anda menulis baik-baik atau jelek-jelek boleh sampaikan pada saya, saya baca. Jangan tanyakan pada saya, saya bukan penulis, saya pendidik.
Ada sebagian orang yang saya minta klarifikasi tentang tulisan orang mengenai Al-Zaytun, sebelum saya datang silaturahmi ke sini.
Anda boleh percaya boleh tidak. Dan saya tidak menjawab di luar,  hanya apa yang saya kerjakan mendidik di sini, pesantren spirit dan modern system kalau nanti saya jawab panjang lagi saya mendidik di sini. Atau nanti orang menilai arti shiddiq itu hak semua orang di sini, semua manusia Indonesia punya hak. Namun tugas saya dan kawan-kawan mendidik di institusi Al-Zaytun, modelnya pesantren spirit but modern system.
Maksudnya spirit pesantren itu?
Ya pesantren, spirit pesantren yaitu mandiri. Tegak mandiri yang baik itu spirit pesantren suka mengikuti yang baik, meniru yang baik, dan haus akan ilmu itu ciri-ciri pesantren.
Syaykh dulu pernah di Gontor?
Kalau sudah paham, ya sudah.
Ini konfirmasi.
Umpama anda sudah faham ya tulis saja.
Saya tiga tahun jadi wartawan, saya tidak boleh percaya apapun, meskipun  itu sudah ngomong saya mesti konfirmasi.
Iya, makanya tulis saja berarti anda sudah tahu. Itu jawaban saya selalu tidak pernah membenarkan tidak pernah menyalahkan, anda sudah tahu silahkan tulis.
Syaykh masih mengajar di sini?
Bagaimana tidak mengajar saya menjadi orang tua di sini, kalau tidak mengajar namanya kurang ajar.
Mendidik khusus?
Mendidik kepribadian.
Di kelas atau...?
Ya di mana-mana. Ketemu di jalan ada pribadi, ini kurang baik nak kamu ini calon pemimpin perbaiki itu. Ketemu di kamar nak kamu calon pemimpin atur kamarmu yang baik, ketemu di kelas juga begitu.
Jadi tidak spesifik  materi pelajarannya?
Spesifik, kepribadian itu spesifik semua, untuk semua kelas I – VI sampai nanti S3 dibentuk kepribadiannya.
Luas MAZ 1200 hektare itu luar biasa ini megaproyek.
Lebih luas Singapura, ini tidak mega tidak apa. Orang-orang punya 50 ribu hektare tidak dianggap mega. Nanam kelapa sawit 100 ribu hektare, 200 ribu hekatre orang tidak pernah mengatakan megaproyek. Nah di sini 1200 hektare hanya untuk manusia lha kok megaproyek. Orang pelihara ayam di Serpong sana 5000 hektare lha itu untuk pelihara ayam, di sini untuk manusia cuma 1200 hektare dikatakan megaproyek Anda ini bagaimana?
Luas di sini 1200 hektare bagaimana dengan target selesainya?
Jangan pernah mentargetkan ini swasta kok ditargetkan. Kalau pak Susilo Bambang Yudhoyono boleh mentargetkan, dia punya target, dia punya pertamina, dia yang menanam hotel luar negeri, di sini swasta kalau anda ingin kasih dana ya dipercepat. Mungkin begitu nulis Lee Kwan Yu mau dengar ingin bantu Al-Zaytun ya dipercepat. Lha namanya juga swasta, anda ini kok menilai saya presiden Indonesia bagaiamana. Lha kalau Presiden Indonesia sekali sreet saja selesai besok, ini Al-Zaytun jangan dipaksa cepat-cepat menyelesaikan.
Kalau tadi yang disampaikan bahwa mendidik adalah moralitas kepribadian, di sini jadi sorotan juga bahwa dunia Islam Indonesia dikatakan teroris apa tanggapan Syaykh?
Saya tidak sepakat dengan pendapat itu.
Model seperti apa pendidikan yang dikembangkan oleh Al-Zaytun?
Ya seperti yang anda tengok sejak dari awal tadi. Adakah anda dilempari batu oleh anak-anak?
Tidak ada.
Misalnya intifadah, wah ini dari Singapura saya lempari saya ini dari intifadah. Ini kan tidak ada. Seperti ini harus dikembangkan maka di sini pendidikannya at-tarbiyah al’alamiah, atau internasional education, supaya at-tafkir al ‘alamin supaya pemikiran mengglobal yang internasional. Al-takaful al ‘alami mempunyai solidaritas internasional, kemudian al-wazha al ‘alamin mempunyai setting internasional. Kalau begitu kan sama, jangan dibedakan. Bukan karena beda agama terus beda, tidak. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan, Karomna Bani Adam (Aku muliakan semua anak adam) lha kita mau milah-milah bagaimana, namanya melebihi Tuhan, kalau melebihi Tuhan siapa itu? Karena Tuhan hanya Karomna Bani Adam (Aku muliakan seluruh anak Adam).
kalau pendaftaran rata-rata tiap tahun berapa?
Pendaftaran kita melihat asrama, kalau mencukupi ya kita tambah, kemarin sedikit karena asramanya baru bisa menampung 600 santri. Maka yang diterima hanya 635 santri dari seribu yang mendaftar.
Apakah Al-Zaytun ini semacam ramuan dari seluruh pesantren yang pernah Syakh kunjungi?
Kalau diramu itu kan ada sebagian yang salah makanya diramu, jangan diramu. Kita membuat untuk kepentingan saat ini dan besok. Adapun yang mirip namanya dunia ini tak ada yang tak mirip selalu ada kemiripan. Hidup ini tak boleh berhenti belajar. Saya tidak pernah mengatakan sistem ini kurang cerdas, namun kita harus membuat sesuatu yang sesuai dengan zamannya.
Syaykh sekarang ini kan banyak orang yang menulis tentang Islam tapi bukan termasuk orang Islam.
Iya makanya silahkan tulis dan bawa kesini nanti kalau bagus kita katakan bagus kalau tidak bagus pun kita katakan bagus.
Seperti Ngruki saya wawancara sendiri Beliau, kita tidak tahu apakah ada hubungannya dengan Darul Islam tapi sejarah kan tidak bisa lepas. Saya wawancara beberapa orang petugas membai’at misalnya masih satu rantai tapi mengambil security yang jelas. Apakah bacaan saya terhadap Al-Zaytun itu salah atau benar, saya minta penjelasan Syaykh bahwa Syaykh punya masa lalu dalam perjalanan hidup bersama gerakan Islam kemudian belajar kemudain memilih jalur ini?
Bangsa Indonesia yang belum lahir saja yang tidak kenal Darul Islam, karena diajarkan dalam sejarah. Yang belum lahir dan yang sudah wafat tidak bisa bicara, tapi yang namanya bangsa Indonesia dan bersekolah pasti bicara karena sejarah ditulis semua orang kenal.
Saya sebenarnya membaca seperti yang di Ngruki semua orang mengerti teroris.
Berarti anda teroris, kalau anda berfikiran seperti itu, artinya tidak semua orang itu menilai baik. Ada yang menilai wah ini MAZ itu proses belajar dari pendirinya dari pengalaman beliau di Darul Islam.
Saya tidak percaya apa penilaian orang tentang Syaykh atas semua itu.
Andainya anda percaya pun tidak harus bilang kepada saya, anda punya hak punya kewajiban untuk melihat apa yang ada di Al-Zaytun ini sebab ini milik bangsa Indonesia silakan tengok. Malah dijelaskan lagi bangsa-bangsa lain yang sepakat dengan ini karena internasional education seperti ini.
Kalkulasi keuangan untuk perhari rata-rata berapa?
Sehari saya tidak bisa menilai berapa, saya cuma menandatangani cek tiap harinya milyaran, karena membangun di sini tidak berhenti. PPN kami ke Negara cukup besar yaitu 10% kalau dikalikan sekian milyar untuk dibelanjakan diambil 10% nya itu sudah berapa besarnya.
Saya melihat sistem di sini kan sangat terbuka masalah keuangan, seperti 1 muharam kemarin dijelaskan pendapatannya sekian, kalau saya boleh berbagi kira-kira rata-rata pertahun itu berapa trilyun?
Membangun begini kok pakai berhitung jauh dibanding Singapura. Kalau Jum’at itu tidak bisa di mana-mana karena disamping jaga Masjid, juga jaga cek, karena Jum’at, Sabtu dan Ahad libur lumayan dua hari, harus bayar hari Jum’at dapatnya hari senin itu salah satu cara, kalau kita minta diskon tidak boleh, ya saya bayar hari Jum’at diambilnya hari senin.
Tapi yang saya tangkap ini pemanfaatan semuanya ini.
Yang namanya swasta lantas sombong dan tak mau memanfaatkan, omong besar sudah swasta cari sendiri, sisa-sisa yang masih bisa dibawa pulang ya dipulangkan, juga sampah, kan banyak orang mati ketimpa sampah. Jangan pernah disia-siakan supaya tidak menimpa kita.
Biasanya dipesantren kan ada idiologinya dan beberapa supportingnya kalau di MAZ seperti apa?
Di sini ada yayasan, lalu yayasan itu berdiri oleh eksponen yayasan. Jadi yang mendirika Al-Zaytun itu Yayasan Pesantren Indonesia. YPI itu membuat proyek-proyek satu diantaranya pendidikan, seluruh provinsi itu dinamakan Al-Zaytun. bangun peternakan Al-Zaytun, Perikanan Al-Zaytun, bangun pendidikan insan, pendidikan Al-Zaytun.
Mengapa membangun pendidikan Al-Zaytun?
Sama saja, Tuhan kok memilih Al-Zaytun tatkala mau menciptakan manusia. Mengapa kita mengatakan tidak boleh. Tadinya mau At-Tiin tapi sudah diambil Pak Harto, maka kita gandengkan dengan Al-Zaytun. Ternyata Tuhan juga wamaa holaknal insana fi akhsani taqwim. Ah sudah ini saja berarti ada makna di balik itu semua ternyata setelah kita pelajari Al-Zaytun simbol perdamaian, maka kita masukkan pusat pendidikan, pusat pengembangan budaya toleransi dan perdamaian simbolnya Al-Zaytun, sudah itu saja tidak terlalu muluk-muluk gampang disebut. Rano Karno waktu anak betawi itu kan artis ganteng namanya juga Al-Zaytun itu. Aslinya Rano Karno itu Zaytun paling tersohor at-tiin. Ini yang nanam pohon Al-Zaytun itu ada supaya tahu dong.
Dari mana?
Dari Palestina yang membawa sahabat kita yang bernama Abu Maliki.
Syaykh asli sini (Indonesia)?
Asli Indonesia lahir di Gresik 7 Juli 1946.
Saya kagum denga Lee Kwan Yu.
Saya pengagum juga, karena Lee Kwan Yu itu mampu membayangkan 2060 tatkala umurnya tinggal beberapa tahun saja. 2060 Singapura sudah tidak menginport air, bukankah itu manusia hebat sedangkan umurnya 84 tahun, sama denga Pak Harto, masih berteriak seperti itu baru sekali datang seperti apa sih kok teriakannya keras seperti itu. Kita harus banyak belajar, kita tengok ke sana di water treatmen saya tidak mau bilang akan saya tarik ke Al-Zaytun ini sedikit-sedikit sudah mulai. Sebab apa ? dulu yang menciptakan Singapura itu Raffles, Indonesia pun yang menciptakan Raffles, yang menciptakan demokrasi di Indonesia juga Raffles sama-sama membangun desa oleh rakyat Singapura dan Raffles terus membangun jadilah desa-desa besar Singapura hingga menjadi kota besar. Indonesia ditinggal Raffles diganti Deandels dikasih macam-macam. Saya belajar peternakan bukan dari Eropa bukan dari Jepang tapi dari Singapura. Berkali-kali datang ke Singapura untuk belajar tentang peternakan.
Kalau Syaykh  mau berbicara berbagai konsep pendidikan dan pendukungnya?
Segala sesuatunya kita harus mandiri, kalau tidak nanti kalau kita dijegal orang tidak bisa berbuat apa-apa. Antara ekonomi dan pendidikan tidak boleh terpisahkan. Ini keberhasilannya baru bisa ditengok setelah beberapa tahun berjalan, dan kita ini memberi subsidi. Bayangkan enam tahun terakhir tahun ini dikenakan 3500 dollar; makan, minum, seragam, buku-buku, asrama, dll. Di Indonesia kalau dihitung itu hanya cukup untuk  dua semester saja, sedangkan di sini untuk enam tahun dari uang yang diserahkan di muka. Dari gerakan ekonomi itulah untuk mendukungnya juga karena wali santri membayar di muka begitu diterima wajib membayar jika belum maka tidak boleh. Beberapa waktu lalu kita ikut ta’aruf pendidikan di Malaysia dan merupakan wakil pesantren di Indonesia. Sekarang anda sudah datang tolong sampaikan, kalau anda cinta apa yang dilakukan muslim Indonesia di Al-Zaytun tolong sampaikan ; Pak Cik di sana ada Al-Zaytun biar Pak Cik tahu dan datang ke sini. Silaturrahim tidak mesti dengan omongan dengan senyum saja sudah bisa. Jangan pernah dibatasi hanya omongan, kalau dibatasi dengan omongan dunia ini akan kacau. Roem Van Royen menyelesaikan di Den Haq  (Belanda) sana dengan senyuman maka Mr. Muh. Roem berkenan bisa menurunkan keputusan.
Saya lihat di televisi pemilu di sini memobilisasi massa?
Kalau pemilu semua memobilisasi massa, sekarang tinggal mobilisasi itu diletakkan di mana berlandaskan hukum apa. Landasan hukumnya ada kan bisa, apa buktinya datang ke sini dan betul. Kemudian menjadi tidak betul ada tekanan, orang yang tidak tahan akhirnya kualat, tidak ada apa-apa masuk, tidak ada persoalan apa-apa, apa iya tidak ada persoalan? Siang bolong tidak ada hujan tidak ada angin ribut tahu-tahu masuk apa itu susah diterjemahkan dalam bahasa kualat itu tidak ada defenisi. A.S. Panji Gumilang yang tinggal di tengah hutan ini masa iya bisa memobilisasi orang, kalau tidak ada kekuatan hukumnya. Mestinya ditanya mengapa kamu kasih surat panggilan. Pemilu di Indonesia yang teraman di sini (Al-Zaytun) karena pemilunya di Masjid orang tidak berani berbuat macam-macam. Tidak sah itu kan resah ; ketok sah, dua pekan lagi ketok jadi tidak sah dunia apa itu namanya ? karena sah tidak sah diukur dengan tekanan, maka hari ini kualat. Jangan khawatir kita dikorek-korek, besok mereka yang mengorek-ngorek itu yang akan dikorek-korek, itulah yang namanya kualat. Dulu MAZ yang meresmikan Pak Habibie, begitu Pak Habibie jatuh kita tidak ikut jatuh, karena kita tidak menggantungkan pada Pak Habibie yang kecil hanya seorang, di sini punya banyak orang. Habibie bisa dijatuhkan hanya dengan 500 orang anggota DPR, di sini tidak tergantung pada seseorang tapi pada institusi besar sebuah negara ini. Kenapa diresmikan Habibie karena Soeharto tersingkir andainya masih ya Pak Harto yang meresmikan. Mengapa tidak Abdurrahman Wahid, karena saat diresmikan presidennya bukan Gus Dur tapi Habibie.
Mengapa ada bangunan gedung Soeharto?
 Itu hanya nama, kalau kita kasih nama Abu Bakar kenapa tidak ada yang bertanya. Itu nama pemimpin Indonesia, Soekarno juga sedang dibangun, di depannya. Mengapa pak Karno kok belakangan, karena yang memberi izin kasihnya belakangan. Dulu waktu minta ijin ke keluarganya kurang ditanggapi, sedangkan Soeharto langsung ditanggapi. Waktu kami minta ijin ke Pak Harto, waktu itu Pak Harto juga bilang, “Mengapa bukan pak Karno duluan?” kata Pak Harto. Ya kita jawab, waktu kita minta ijin ke Bu Mega belum ada tanggapan, sedangkan bangunan ini harus berdiri.
Siapa yang meresmikan?
Yang meresmikan di sini  ya Syaykh al Ma’had, masa nunggu siapa-siapa adapun nanti Pak Harto datang itu namanya kehormatan.
Atau Syaykh mengundang Pak Harto?
Di sini tidak pernah mengundang siapa-siapa kalau peresmian itu, tidak seperti diluar gunting pita, anak-anak mari kita resmikan kamu kelas tertinggi buka, asyik khan, nanti kalau mengundang pasukan Paspampresnya repot, tanyakan pada Kolonel, kalau mengundang kirim dulu Kolonelnya itu repot banyak Kolonel bertebaran disini. Ini merepotkan lha tempat pendidikan dikerubuti banyak Kolonel. Lha kalau begini kan enak Kolonelnya sama-sama wali santri. Jadi kita harus mikir sendiri.
Kalau nama resmi Syaykh sendiri siapa?
Kok pakai nama resmi, You ini bagaimana?
Abu Toto, dan lain-lainnya?
Ya tanya sama yang kasih nama. Ini konfirmasi keluaran Zaytun. Masa You tanya resmi segala. Tanyakanlah pada yang memberi nama.
Ada rencana memberi nama gedung Habibie?
Presiden sudah (Pak Karno dan Pak Harto), kemudian kita ingin tokoh melayu. Kalau Tidak Mahathir ya Badawi, Pak Habibie sudah meresmikan Al-Zaytun berarti sudah ada tanda tangannya di sini, tidak perlu nama gedung lagi.
Itu kan mesti ditanyakan pada orangnya langsung.
Lha iya makanya dibaca, anda kasih saya buku saja saya baca pakai nanya. Ada nama resminya segala.
Biasanya  di pesantren ada nama Islamnya?
Kalau nanyanya seperti ini ya dijawab. Saya sudah umur 50-an masa namanya belum resmi, dianggap belum resmi.
Syaykh olahraganya apa?
Macam-macam.
Hobinya apa?
Naik-turun Masjid Rahmatan Lil’alamin, naik tangga masjid itu sampai atas 50 meter kadang sampai domnya 58 meter naik-turun sehingga pernafasan terlatih sambil kontrol ini kerjanya baik apa tidak, kita juga nengok luar, juga nengok Lee Kwan Yu dari dom masjid, badan kita sehat yang kerja baik olahraga bisa dikontrol. Mengontrol pesantren ini kadang jalan kaki kadang naik sepeda,  pukul 01.00 malam harus keliling mengontrol karyawan, santri dan seluruh penghuni MAZ yang berjumlah 12 ribu orang.

Ada rencana pengembangan ke wilayah lain?
Sekarang ada di Rupat, 45 menit dari Singapura kalau naik speed boat sangat dekat. Diberi lahan 5000 hektare sekarang sedang dikerjakan.
Idenya atau inspirasinya dari mana?
Saya itu suka membaca Al-Qur’an dan mencoba mendalami isi Al-Qur’an, dan apa saja saya baca. Membaca karangan seseorang di situ ada yang menerangkan orang Yahudi, menerangkan orang Nasrani, menerangkan orang kafir, menerangkan orang munafik bebas amat Al-Qur’an itu menerangkan kenapa saya harus sempit. Siapa saja orang kritik kita, kita baca dalam 24 jam selesai. Kita bisa melangkah lebih baik. Jadi saya membaca kritikan-kritikan, diperpustakaan saya pernah dikasih Pak Asmar titipan dari Pak Hendropriyono orang menulis tentang diri saya, wah bebas amat. Maklum bukan diri saya, yang diri kita adalah kita. Inilah orang menulis diri orang tidak pernah tepat kalau tidak secara langsung bertemu orangnya.
Syaykh pernah menyangkal fitnah itu?
Tidak usah menyangkal, semua fitnah kita jawab dengan kerja. Itu konsep al-Qur’an mengajarkan dalam mempertahankan suatu kebaikan dengan perbuatan yang terbaik. Nanti orang yang mefitnah akan jadi kalah tatkala engkau menampilkan jawaban yang terbaik. Yang baik saja tidak boleh kata Allah tapi yang TER-baik, bukan sekadar baik. Kebaikan pertahankan dengan cara yang terbaik. Kalau engkau bisa jalankan itu, orang yang tadinya membenci kamu akan menjadi sahabat kamu. Yang bisa melakukan itu hanya orang yang sabar dan berusaha mempunyai jiwa yang besar. Yang kurang baik diperbaiki kalau kita tanggapi fitnah itu dengan fitnah juga, program pembangunan kita terbengkalai. Z. Tim Majalah.
                                         


Dialog Interaktif antara Syaykh Al-Zaytun A.S. Panji Gumilang dengan Wartawan Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Amerika, Anggota East West Center (EWC), Hawaii (Sabtu, 1 Juli 2006)


Syaykh : Sebaiknya nanti malam kita akan mengadakan perjumpaan khusus, masing-masing memperkenalkan diri, dan kami juga akan memperkenalkan apa itu Al-Zaytun kepada semuanya.

Arif Suditomo : Pada dasarnya kita ingin memperkenalkan Pak Richard Baker dia adalalah wakil dari East West Center yang membawahi beberapa orang.

Richard W Baker : Saya sama nona Susan Kreifeis memperkenalkan rombongan ini yang terdiri dari lima orang wartawan Amerika Serikat kalau tidak salah lima dari Asia Tenggara, dan itu dua dari Malaysia, dua dari Singapura, dan satu dari Indonesia, jadi semuanya kami adalah rombongan wartawan dan ada salah satu personal yang mengajak kami. Ini adalah salah satu program seminar EWC. Ini sudah ketiga kalinya ada rombongan seperti ini tapi ini pertama kali kami ditugaskan ke Asia. Dulu seperti rombongan yang diikuti oleh Pak Arif, Nur, hanya di Amerika saja yaitu wartawan-wartawan Asia diprogram ke Amerika meninjau lihat beberapa kota, berbicara dengan beberapa orang di sana, sampai kepala atau leader, anggota masyarakat, media, dan lain-lain, selama dua minggu perjalanan itu, dan ini yang ketiga kalinya. Dan baru kali ini kami nampak perjalanan ke Asia. Dan dari sini besok kami mau berjalan ke Baghdad, negara Islam selama satu minggu baru pulang ke Amerika.

Arif Suditomo : Tema perjalanan kali ini adalah mempersamakan persepsi Islam dan Barat dan berbagai macam perspektif media di Indonesia agar terdapat kesamaan pandangan yang pada akhirnya menghindari pertentangan sehingga bisa menciptakan perdamaian dan pengertian.

Richard W Baker : Sama dengan tema Al-Zaytun.

Syaykh : Ya terima kasih atas perkenalan tadi. Ini adalah keputusan yang sangat adil. Jadi bukan wartawan Asia saja yang harus berkunjung ke Amerika, tapi ternyata wartawan Amerika pun berkenan berkunjung ke Asia. Memang terkadang wartawan-wartawan Amerika harus belajar ke Asia sebagaimana wartawan-wartawan Asia terkadang belajar ke Amerika juga. Karena dunia ini harus saling memberi, terkadang Barat memberi Timur dan Timur memberi Barat. Itulah namanya kemanusiaan. Ternyata di dunia ini tidak ada yang sempurna. Ada yang sempurna dengan kekurangannya, ada yang kurang dengan kesempurnaannya. Dan itulah dunia, dan itulah manusia, dan itulah kemanusiaan, dan kita ada ada di dalam kehidupan semacam itu, dan kita sekarang yang menjalankan kemanusiaan.         
            Sesungguhnya tidak ada Timur dan barat yang membedakan, yang membedakan adalah pikiran masing-masing. Terkadang orang Timur banyak yang lebih Barat daripada orang Barat sendiri. Untuk itu mari kita buat jembatan yang kokoh supaya Barat dan Timur tidak saling terpisahkan.
            Dan sesungguhnya tidak ada istilah penyatuan Islam dan Barat, atau Barat dan Islam karena Islam itu cocok juga dengan Barat, dan Barat boleh hidup untuk Islam. Kalau sekarang terjadi seperti perbedaan, sesungguhnya bukan perbedaan, kemanusiaannya yang belum sampai pada titik yang dikehendaki oleh pencipta manusia.
Untuk itu semua mari kita hidup bersama untuk menciptakan zona damai dan demokrasi demi kemanusiaan yang adil dan beradab. Dan inilah ciri dunia kita hari ini dan ke depan. Membina perdamainan untuk umat manusia dan kami gembira didatangi oleh tamu-tamu kami dari jurnalis yang hari ini hadir sehingga mampu menampilkan berita gembira ini ke seluruh dunia.
            Kami semua di sini tidak berbicara atas nama Islam, tapi berbicara atas nama kemanusiaan. Dan itu adalah agama kita semua : “kemanusiaan”. Terima kasih. Dan yang menerima tuan-tuan ini adalah tim dari Al-Zaytun yang sejak awal sampai hari ini terus gigih menegakkan kemanusiaan yang adil dan beradab ini.
            Untuk itu umur kami baru masuk tujuh tahun tidak setua umur Amerika, tetapi kami ingin bersama-sama Amerika mengejar kemajuan. Tapi tentunya tidak bersama Amerika saja, tapi bersama seluruh umat manusia. Untuk itu karena tuan-tuan sudah datang kemari, silahkan menengok apa itu pesantren. Pesantren artinya tempat untuk membuka manusia supaya tidak buta huruf. Maka pesertanya adalah santri, peserta pesantren ini namanya santri. Santri adalah manusia yang tidak buta huruf, mampu membaca perkembangan jaman, dan tidak tertutup, itulah santri. Dan kami adalah para santri itu sendiri, itu arti santri. Kami persilahkan untuk masuk ke pesantren yang baru berumur tujuh tahun. Apa yang ada silahkan dibaca. Kemudan jika nanti ada yang kurang tolong diberi masukan supaya bisa maju bersama yang maju.
            Terima kasih. Tidak adil dan tidak bijak kalau terus bercakap dan berbicara. Yang bijak adalah berbicara sambil minum dan makan.

Anda yang membangun dari awal?
Ya kita yang sama-sama mendirikan membangun dan mendidik.

Berapa pelajar yang ada?
Terakhir, 8.300 santri dimulai dari tingkat dasar, menengah, sampai perguruan tinggi. Di perguruan tinggi kami memiliki fakultas pertanian, kedokteran, Information technology, dan bahasa.

Berapa jumlah mahasiswa sekarang?
Mahasiswa sampai dengan hari ini terakhir 600 lebih. Semua mahasiswa dan pelajar tinggal di asrama selama 10 bulan. Setiap semester libur satu bulan. Mereka makan, minum, tidur semua di sini.

Kapan dimulai pembelajaran?
Pembelajaran dibuka bulan Juli. Kita mengikuti program pendidikan nasional yang dilaksanakan oleh menteri pendidikan. Dan kita memiliki kurikulum lokal atau khusus. Kurikulum yang ada di Al-Zaytun adalah mendalami Al-Quran, bagi yang beragama Islam. Andainya ada yang beragama selain Islam kita wajibkan juga mendalami kitab sucinya. Al-Zaytun ini dibuka untuk seluruh umat manusia termasuk yang tidak beragama Islam. Namun sampai hari ini dari non Islam belum ada yang ikut belajar di sini. Walaupun kader-kader kami telah kami kirim ke negara-negara yang mayoritas Nasrani: Kader kami ada yang di London, ada yang di new Zealand, ada yang di Australia. Jadi kami terbuka.

Anda ingin membuat international student?
Mudah-mudahan nanti setelah tuan-tuan yang hadir kemari insya Allah ada yang datang.

Pak Panji boleh apakah mereka boleh mengajukan pertanyaan?
Boleh, silahkan.

(Pertanyaan diberikan secara bergantian oleh wartawan Amerika, Singapura, Malaysia dan Indonesia).

Berapa persen perbandingn porsi pelajaran agama dengan pelajaran lainnya?
Terima kasih, kalau kami di sini mengistilahkannya pelajaran agama dan umum. Di sini kita katakan pelajaran agama prosentasenya 100% pelajaran umum 100% maka kami tidak pilah-pilah kehidupan umum dan kehidupan agama. Malah hari ini keputusan litbang kami menetapkan pelajaran-pelajaran yang bersifat keagamaan kami laksanakan di luar kelas. Sedangkan pelajaran-pelajaran yang non agama dilaksanakan di kelas. Sehingga pencapaian 100% semuanya itu dapat terlaksana. Itu yang kami lakukan di sini. Untuk itu kami sanggup melaksanakan karena kami hidup 24 jam bersama pelajar di sini. Mereka tinggal di sini dan mereka juga beraktifitas di sini. Jadi kami yakin seyakin-yakinnya semua boleh dilakukan.

Maksud bapak tadi aspek-aspek agama dilakukan di luar kelas, bisa dijelaskan?
Pelajaran agama yang kami lakukan di luar kelas semuanya diberi batas-batas waktu, namun tidak dilakukan di dalam kelas. Sebab misal kata sebuah contoh: belajar sembahyang itu kalau di dalam kelas tidak efektif, maka terus kita lakukan di masjid. Kemudian pelaksanaan shalat misal kata tidak harus di masjid, tatkala kita berada di lapangan di padang terbuka anak anak kita bawa sajadah shalat di situ. Diperkenalkan bahwa shalat di mana pun harus dilakukan dan boleh dilakukan. Sehingga mental keagamaan tertanam, tetapi pelajaran agama boleh diserap. Pencapaian itu yang kami harapkan.

Pesantren di sini demikian megah tetapi lokasinya berada sangat jauh dari kota?
Ya terima kasih. Indonesia memiliki sebuah kekurangan. Kwalitas pendidikan desa dan kita belum terjembatani. Indonesia selama ini yang maju ada di kota, desa menjadi kurang maju. Kami mewakili yang kurang maju itu untuk memilih tempat nun jauh dari kota. Tapi kami ingin tampil sebagai Jan Pieter Zoen Coen, dari Belanda dulu, jauh dari Belanda membangun kota yang namanya Batavia yang sekarang terkenal dengan Jakarta yang awalnya adalah kota rawa-rawa. Tidak siapapun yang sanggup hidup di situ. Mengapa JP. Zoen Coen sanggup membuat Betawi–Batavia, sedangkan kami bangsa Indonesia harus juga mampu membuat yang jauh dari kota sehingga terjembatanilah kwalitas pendidikan desa dengan kota. Jadi latar belakangnya hanya untuk menjembatani kota dan desa supaya tidak terlalu jauh. Sehingga nanti akan menjadi Indonesia ini negara kota seperti halnya Singapura, entah kapan itu terjadi. Tapi kami memiliki cita-cita seperti itu. Supaya tidak orang desa lari ke kota karena kehidupan di desa itu budayanya budaya terbatas masuk ke kota membawa budaya desa, sehingga kotanya tidak menjadi desa dan desanya pun tidak menjadi kota. Terjadilah berbagai macam case kebudayaan. Nah untuk itu kami awali dari desa, supaya nanti orang kota masuk ke desa, “Oh di sini juga ada seperti Jakarta..” Dan di tempat-tempat lain tejadi. Akhirnya Indonesia ini tidak dibatas kota dan desa, desa bisa seperti kota dan jangan kota seperti desa.

Berapa biaya sekolah di sini?
Biaya untuk sekolah di Al-Zaytun sangat mahal bagi bangsa Indonesia karena ditentukan untuk 6 tahun sejumlah 3.500 dollar Amerika. Mereka mendapatkan segala macam keperluan hidup seperti: makan tiga kali sehari, ditambah snack tiga kali sehari, ditambah air minum free dari pagi sampai malam, persis kami semuanya memelihara anak kami sendiri. mereka mendapatkan buku teks book, mendapatkan seragam setahun sekali berarti enam kali ganti. Kata orang Indonesia itu mahal, padahal kalau dihitung sesungguhnya biaya 3.500 hanya cukup untuk 6 bulan. Namun kami dari yayasan ini ingin mendharmabaktikan diri kami dan usaha kami memberi jasa-jasa baik kepada ummat manusia yang mau masuk pendidikan di sini.

Kalau biaya pendidikan biasa/pemerintah berapa biayanya?
Sekolah pemerintah tidak pernah memikirkan makan dan minum, tidak pernah memikirkan buku, mereka hanya memikirkan belajar sahaja, jadi mungkin sangat murah. Tapi kalau dibandingkan dengan 3.500 jauh lebih tinggi yang dilakukan pemerintah. Jadi kami lebih rendah dari pemerintah.

Jadi berapa bayaran di pemerintah?
Kami belum membandingkan karena kami di dalam melangkah dalam mendidik tidak perlu membanding-bandingkan. Karena nanti kalau kami berbuat baik lantas dibanding-bandingkan kurang nilainya.

Siapa yang menyubsidi Al-Zaytun?
Yang menyubsidi adalah kami yayasan, dan yayasan kami bergerak di berbagai bidang ekonomi. Utamanya kami menanam produk-produk pertanian dan kehutanan, kami persiapkan sejak awal kami menanam pohon-pohon disamping untuk meneduhkan lingkungan, juga siapa tahu dua puluh tahun yang akan datang satu pohon itu mampu bernilai seribu dollar.
Perbedaan kehutanan di Al-Zaytun dengan usaha kehutanan yang diberikan oleh negara, jauh berbeda. Kalau kehutanan yang diberikan hak pengelolaan hutan negara kepada perorangan maupun sarikat, itu adalah menghabiskan hutan, memotong hutan. Perbedaannya adalah kami menanam sebanyak-banyaknya, kami ingin dunia ini menjadi hijau kembali. Dan kami tidak ingin memotong kayu, kami ingin oksigen yang diberikan oleh kayu. Karena dengan oksigen kami boleh hidup, tapi dengan kayu kami boleh mati. Seperti di Indonesia hari ini banyak kematian karena pohon banyak ditebang. Kami tidak mau terulang itu, dan kami menanam seperti orang-orang tua dahulu menanam.

Anda panen hari ini atau nanti?
Kami panen hari ini dan nanti, sekarang kami telah memanen hasil hutan itu bukan dari kayunya, tetapi dari tunas-tunasnya kami membuat tissue culture, kemudian kami jual satu batang satu dollar. Sekarang sudah beribu-ribu batang yang kami jual. Kenapa kita potong kayu kalau cabangnya saja boleh menghidupi kita? Itulah gunanya ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka ilmu pengetahuan dan teknologi mari kita jadikan budak-budak kita, supaya kita diantarkan oleh ilmu pengetahun dan teknologi menjadi maju. Dan lingkungan kita menjadi senyum dan memberikan balasan baik kepada kita.

Ide pendidikan ini tumbuh dari mana?
Ide-ide ini tumbuh dari ummat manusia, karena ummat manusia menginginkan kesejukan hidup, kesempurnaan ilmu, kemajuan teknologi, itulah ide-ide besar umat manusia yang kami adopsi, meski dimulai dari sekecil apapun. Jadi di sini berjalan “bersama” tidak “aku” yang tampil, karena “aku” itu sangat sedikit dan kekuatannya sangat lemah. Maka kami berjalan di sini dengan “kita” bukan “aku” . kalau “aku” bisa patah sendirian tapi kalau “kita” tidak bisa patah, karena “kita” adalah isinya ummat manusia sedunia.

Tapi ada laporan dari majalah luar bahwa Al-Zaytun dibiayai oleh yayasan tertentu?
Al-Zaytun adalah milik ummat manusia, adanya di tempat yang kecil seperti ini, jadi kalau datang dari Jakarta kami istilahkan dari luar. Kalau datang dari Singapura kami istilahkan dari luar, itu makna dari luar. Sebab Al-Zaytun lokasinya cuma 1.400 hektar saja.

Jadi memang ada yang datang dari luar?
Sangat banyak, santri atau pelajar yang datang dari Malaysia banyak, dari Singapura banyak, dari Selatan Afrika banyak, dari Somalia banyak.

Dari Singapura berapa?
Ada dari Singapura dan Malaysia bergabung menjadi 200 lebih bukankan itu banyak?

Maksud saya sumbangan yang diberikan lembaga-lembaga tertentu?
Itulah yang belum pernah ada, andainya ada kami terima, tapi karena belum ada kami tidak menerima.
Ada dua sumber yang disebut-sebut satu dari Cendana satu dari Saudi?
Kalau dari Cendana, bukan Cendananya yang ngasih, tapi kami mengasih Cendana, karena tatkala bangsa ini sangat benci kepada Cendana, kami kasih sebuah nama di sini. Pak Harto tatkala dibenci bangsanya kami ajak kemari, “Pak Harto namamu kami ambil,” maka kami mengasih Pak Harto. Dan hidup ini take and give, terkadang mengasih terkadang menerima. Tatkala Pak Harto datang kemari melihat ada gedung Soeharto dan senang hati, “Oh ku kasihlah kau.”

Dari Saudi ada?
Oh tidak ada. Rasanya tidak bijak kalau Pak Harto mengasih kemari terus dihujat karena Pak Harto bangsa Indonesia. melihat bangsanya sedang membangun yah karena Pak Harto mungkin punya uang atau yayasannya mungkin punya uang, mengasihlah sedikit.

Apakah ada dana dari Sudi Arabia?
Saya sudah katakan tadi dari Saudi Arabia atas nama kerajaannya atas nama yayasannya itu tidak ada.

Apakah bapak mencari donasi dari mereka?
Kami tidak pernah mencari, tapi kalau dikasih tidak pernah menolak.

Jadinya kalau tidak ada dari negara atau yayasan, apa ada sumbangan secara individu dari Saudi?
Individu dari Saudi tidak ada. Kalau di sini ada orang Arab, tapi bukan orang Saudi, nah itulah orang Arab di sini sudah bangsa Indonesia. memang sering diperrtanyakan dari Saudi itu seakan-akan Saudi itu yang membeking Indonesia khususnya Al-Zaytun. kami yang membantu Saudi tiap tahun, kami bangsa Indonesia pembantu terbesar kepada Saudi menerusi haji. Bayangkan 250 ribu manusia Indonesia yang dikatakan masih miskin ini belanja bermilyar dollar ke Saudi. Jadi andainya Saudi membatu Al-Zaytun itu wajar tapi belum pernah.

Jadi ada laporan-laporan yang menyebutkan sumbangan diterima dari mana saja?
Kami buat semua. Jadi atas nama bangsa, misal kata Palestina, karena kami berhubungan baik dengan Duta Besar yang telah lalu pernah memberi. Semuanya itu kami laporkan semua. Namun dibalik mereka memberi, kamipun memberi, karena masyarakat Palestina sedang memerlukan, dia memberikan seribu kami kasih dua ribu. Meski Al-Zaytun baru berumur tujuh tahun tapi sudah boleh memberi dan diberi.
Hari ini kami banyak membangun di beberapa tempat. Misal kata ada bencana-bencana kami ngirim bantuan. Dan bantuan itu sebenarnya bukan sulit dan bukan susah, karena kami banyak orang. Kami kolektivkan satu rupiah, karena di sini ada sepuluh ribu, sepuluh juta boleh kumpul. Jadi kalau ingin membantu sesungguhnya tidak ada yang susah, yang susah itu ingin atau tidak ingin.
Kami sekarang telah lakukan seperti membangun Al-Zaytun kita mulakan tahun 1996, sekarang 10 tahun. Kita mulai belajar 1999 sekarang 7 tahun, kami tidak merasa berat kami kami kerja bersama-sama.

Apa yang diharapkan lulusan dari Al-Zaytun?
Kami berharap lulusan-lulusan kami ini bermanfaat bagi umat manusia.

Bisa lebih spesifik?
Lebih spesifik lagi Al-Zaytun ini lulusannya akan mampu meletakkan diri pada zamannya, sehingga tidak menjadi orang yang ditinggal oleh zamannya.

Tapi kalau dilihat dari unsur pendidikan kita perlukan sistem yang jelas, kalau dalam Inggrisnya Desain of Curriculum, apa yang kita perlukan dari pelajar kita sendiri dalam masa 6 tahun. Jadi maaf bapak capai dalam bentuk ideal jadi kita susah mau memahami yang bapak sampaikan. Kalau dalam 6 tahun itu maksud bapak pelajar-pelajar Al-Zaytun dapat melatakkan diri dengan keadaan di sini maksudnya gimana?
Jadi secara spesifik begini, kami mendidik dengan sistem satu pipa dimulai dari kelas satu sampai kelas dua puluh. Kelas satu sampai kelas enam itu namanya dasar, kelas tujuh sampai kelas dua belas itu namanya menengah, kelas tiga belas sampai kelas dua puluh itu perguruan tingginya. Nah kalau ditanyakan desain seperti apa yang dikehendaki maka kita akan tengok, kami di sini mendirikan perguruan tinggi fakutas pertanian, tentunya ingin menghantarkan para lulusan nanti mampu mengatasi pertanian dengan seksama. Yang kita inginkan Indonesia ini negara pertanian namun banyak hal yang masih belum dapat ditangani, kami ingin masuk di situ. Ada kedokteran, ada IT, ada bahasa, ini saja sudah boleh digambarkan apa yang kita inginkan, maka mendidik di sini 20 tahun. 

Biaya 3.500 dollar Amerika harus dibayar tunai atau bisa dicicil?
Untuk sekolah dasar itu kita tidak kenakan 3.500, tapi kita kenakan bayaran perbulan. Untuk sekolah menengah dibayar 3.500 dibayar di hadapan, itulah modal kami. kemudian untuk perguruan tinggi boleh dibayar 1 tahun atau 6 bulan.

Semuanya 3.500 dollar US?
Tidak yang 3.500 menengahnya, kemudian sekolah dasarnya itu 100 ribu rupiah per bulan, kemudian untuk keperluan hidup di dalam asrama 300 ribu satu bulan. Adapun untuk perguruan tinggi untuk pertanian satu tahun 6 juta lima ratus ribu rupiah. Untuk kedokteran 10 juta setengah rupiah, itu satu tahun. Kurs dollar 10 ribu rupiah. Yang lainnya seperti IT dan Bahasa sama dengan pertanian. Itu tidak masuk biaya hidup, sebab biaya hidup 70 sampai 90 dollar Amerika saja sebulan.

Berapa persen pembagian pelajar dari desa dan dari kota, terus apakah setelah lulus mereka mengabdi di desanya?
Sampai hari ini murid yang datang kebanyak dari desa, dan kami belum menamatkan dari tingkat perguruan tinggi. Maka belum bisa mereka mengabdi di desa karena mereka belum menamatkan pembelajarannya.

Apa yang diharapkan?
Harapan kami mereka membangun desanya dan membangun negaranya.

Berapa biaya operasional dalam satu tahun?
Kalau dihitung rupiah itu cukup besar, tapi kalau dihitung dollar mungkin kecil. Sekarang kita bisa tengok dan bisa hitung, kalau penduduk sepuluh ribu dikali saja satu hari 3 dollar maka satu harinya 30 ribu dollar US, jadi tidak banyak. Tapi kalau di Indonesia mengumpulkan segitu sudah dihitung banyak, karena di Indonesia masih bisa hidup satu hari satu dollar, itulah bedanya Indonesia dengan Amerika. Andai kata orang Amerika hidup satu dollar satu hari tidak bisa berdiri orang Amerika itu, juga Singapura. Inilah hebatnya Indonesia, maka kami cinta Indonesia, sebagaimana cintanya kepada bangsa-bangsa lain. Ternyata bukan uang ukuran hidup itu tapi keberanian hidup, tapi pocketnya juga harus penuh uang. Makanya harus berani.

Kenapa fakultas kedokteran biayanya lebih mahal dari yang lain?
Ya dasarnya untuk kedokteran itu lebih banyak mengeluarkan dana.

Maksud saya kenapa di sini lebih mahal di banding di luar?
Kalau di luar negeri lebih murah di sini lebih mahal. Di Jakarta lebih mahal. Ada satu fakultas yang terlupa yang belum saya sebut, fakultas teknik. Tatkala saya melihat dekannya senyum-senyum saya faham kalau belum disebut fakultasnya.

Mengapa banyak anggota kami menanyakan hal-hal yang sifatnya finansial lebih karena fasilitasnya yang sangat bagus dan megah. Dan sudah jelas itu pasti dibiayai dengan baik secara finansial. Sudah terbukti dengan ini bahwa banyak sekali institusi pendidikan yang tidak sesukses Al-Zaytun. Ini hanya dua hal apakah Al-Zaytun ini punya donor yang sangat dermawan atau Al-Zaytun punya bisnis yang sangat sukses. Dan seharusnya banyak sekali institusi pendidikan di Indonesia atau pesantren-pesantren lainnya yang pastinya ingin meniru kunci sukses Al-Zaytun?
Sebetulnya sukses dan gagal itu hanya penilaian orang, kami belum pernah menilai sukses, hanya saja kami tidak mau gagal. Adapun kalau tadi disimpulkan apa yang dilakukan Al-Zaytun adalah ada dana yang kongkrit sudah pasti itu ada. Adapun sumbernya apakah dari donator atau dari kegiatan ekonomi dua-duanya ada. Tapi sesungguhnya dua unsur itu tidak cukup. Yang paling menentukan suksesnya sebuah perjalanan adalah kejujuran pengelola dana yang ada. Sebab banyak orang yang mendapat dana besar tapi tetap miskin, contoh yang paling dekat kepada kami adalah negara kami. Tiap tahun mendapat bantuan bermilyar dollar. Mungkin karena memenejnya kurang tepat maka banyak warga bangsa ini yang belum puas dengan kehidupan. Maka kami belajar dari bangsa kami modal seteng dadi genteng sewu dadi abu. Modal sesen dollar kami bisa sampai kepada ujung genteng. Tapi dengan seribu banyak yang jadi abu. Itu pelajaran dari nenek moyang kami. Maka tatkala melihat genteng-genteng Al-Zaytun yang mentereng disangkanya itu dari seribu. Padahal itu adalah kumpulan sen-sen-sen-sen maka jadi genteng semuanya.

Bapak bukan sedang mengungkapkan ucapan-ucapan bapak yang berbunga-bunga?
Sebaiknya wartawanlah yang ahli menulis, tolong tulis dan nanti kami tulis, dan itu lebih bagus karena ada rujukan dari mas media.

Pernahkan bapak menulis retorika fisafat-filsafat itu dibukukan atau ditulis dalam media, itu akan lebih baik?
Bukankah sekarang ini yang namanya ilmiah itu banyak rujukan? Jadi kami bangga, maka nanti kami akan dapat rujukan, maka tulislah yang bagus-bagus. Tapi sebaiknya bapak-ibu, siang ini kebiasan bangsa Indonesia makan siang itu pukul 12 tapi ini sudah lewat setengah jam, jadi kami berdosa ini. Maka kami minta ampun kepada Tuhan, “Ya Tuhan ampuni kami karena kami membikin lapar tamu kami.” untuk itu supaya Tuhan tidak memberikan murkanya kepada kita lebih baik kita makan terlebih dahulu.

(Syaykh dan sivitas akademika Al-Zaytun makan siang bersama para tamu wartawan sambil terus melanjutkan tanya jawab).

Bagaimana tenaga pengajarnya?
Kita mempunyai tenaga pengajar sekolah dasar itu dari perguruan tinggi, kemudian pengajar sekolah menengah itu dari tamatan-tamatan perguruan tinggi, kemudian sekolah perguruan tingginya itu diajar oleh doktor-doktor yang berkompeten/berkualifikasi. Itu kami datangkan dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia.

Ada tenaga pengajar dari luar?
Ada satu dari Jerman mengajar bahasa Jerman. Mereka sambil belajar agama di sini.

Dia Islam?
Ya, masuk Islam karena isterinya orang Indonesia sambil kita tugaskan mengajar bahasa Jerman.

Sekarang sudah ada yang di universitas, sudah ada lulusan?
Belum baru dua semester. Baru tahun lepas 2005.

Sebelum ini kerja bapak apa?
Kami sejak dulu jadi guru. Sejak kecil guru. Saya menjadi guru sejak kecil, kami sekolah dasar atau rendah, sudah diperintahkan mengajar pemberantasan buta huruf oleh orang tua kami kepada orang tua-tua. Kemudian melanjutkan ke Pesantren Gontor.

Bapak berasal dari mana?
Saya dilahirkan di Gresik. Kemudian setelah dari Gontor, saya masuk ke Ciputat Jakarta waktu itu yang sekarang UIN Syarif Hidayatullah.

Jadi lulusan dari sana?
Ya pernah di sana dan dianggap selesai.

Apa mungkin kami diajak tur melihat masjid besar yang sedang dibangun?
Setelah makan nanti ke sana, kita keliling.

Besar sekali masjidnya?
Ya supaya muat, kami banyak, supaya mereka mampu beribadah di tempat ini.

Kalau saya tidak salah lebih besar daripada Istiqlal.
Kita tidak banding-bandinglah.

Ya alright, understand. Pokoknya cukup besar.
Pokoknya mampu menampung penghuni. Kalau Pak Arif (Suditomo) tidak kasih kartu nama pun sudah tahu karena tidak asing.

            Bahan makanan dari sini?
Semua bahan kita tanam di sini karena kita punya fakultas pertanian.

Jadi anda selalu tinggal di sini?
Ya selalu tinggal sendiri maka kami harus membuat sendiri.

Dari Malaysia masih penasaran Pak, idenya siapa sebenarnya membangun pesantren seperti ini?
Ide bersama.

Jadi bapak serta kawan-kawan? Bisa disebutkan yang bikin ide?
Kalau sekarang mencari yang terdahulu susah, tapi yang ada di sini kami yang dituakan, gitu saja maka di sini dipanggil Syaykh, Syaykh itu artinya orang tua.

Itu bermakna bapak ini salah seorang pendiri itu?
Kalau salah seorang bolehlah. Awalnya pendiri yayasan ini 36 orang. Kami memberikan dana untuk yayasan ini.
Pak Harto termasuk?
Oh tidak, Pak Harto datang baru tahun kemarin. Pak Harto datang karena kami pakai nama untuk gedung.

            Syaykh, Pak Harto itu hanya nginap di luar rumahnya di Tapos dan Al-Zaytun?
Yang saya tahu kalau di Jakarta nggak pernah nginap, Tapos pun jarang-jarang. Tapi di sini di luar Jakarta bukan Yogya atau Solo menginap. Ya mungkin karena senang hatilah karena ada gedung Soeharto di sini. Dan kalau tidak menginap di sini tidak paslah itu.

Donasinya berapa Pak?
Ya kalau dihitung gedung itu biayanya 60 milyar, kalau 10% itu sudah banyak karena semua bantuannya itu ada catatannya. Jadi hanya 10% dari total biaya pembangunan. Itu 36 ribu meter². Satu meter²nya 2 juta rupiah. Nah Pak Harto menyumbangkan dalam catatan ceknya itu sekitar 6 milyar. Tapi itu bukan atas nama Pak Harto, tapi atas nama yayasan.

            Yayasannya yang mana?
            Yang dipimpin Bu Tin dulu.

            Di sini ada rumah sakitnya?
            Kita di sini ada klinik kecil, dan sedang menyiapkan hospital kampus.

            Tapi ini dibantu oleh kerajaan (pemerintah) ya?
            Ada, kalau tidak ada bantuan tak boleh berdiri, izin itu bantuan.

            Ya keuangan juga sekarang sudah adalah?
            Kalau keuangan sekarang sudah ada, karena ujian mendapatkan bantuan uang. Anak-anak kita ikut ujian nasional maka dapat bantuan.

Macam beasiswa?
Bukan. Jadi anak-anak kita ikut ujian namanya subsidi ujian.

Peringkat mana yang diberi?
Menengah.

Pelajaran keagamaan dilakukan di luar kelas, jadi itu tidak termasuk bagian yang diuji?
Diuji.

Bermakna santri di sini ada tambahan?
Bukan tambahan, ini namanya spesifik, jadi diuji, ada ujian fiqih, nasional.

Apa ujian itu?
Ada fiqih, sejarah Islam, Quran, tafsir, hadits, bahasa Arab, Ushul fiqih, bahasa Arab komplit dengan bagian-bagiannya : ada nahu, sorof, balaghoh, sampai tingkat mahasiswa. Kemudian menghafal Al-Quran syarat masuk ke Al-Zaytun harus hafal satu juz pertama dan satu juz akhir.

Untuk peringkat yang mana?
Peringkat menengah sampai atas.

Kenapa pohon Al-Zaytun itu sampai diabadikan sebagai nama di sini?
PBB saja ngambil pohon Zaytun, perdamaian itu saja. kalau PBB saja suka kenapa kita nggak? Jadi diilhami oleh PBB, awalnya diilhami dari Al-Quran, kemudian dari masyarakat dunia, maka kami ikut memakai.

Bapak kenapa dulu diberikan syarat menghafal satu juz pertama dan terakhir untuk masuk ke menangah?
Biasanya kalau sudah mampu membaca juz akhir dan pertama itu ketengahnya senang. Jadi kami mendidik di sini lancar, senang.

Kalau tak lulus?
Ya kita ajari terus sampai lulus.

Jadi itu wajiblah. Jadi kalau yang lulus agama itu jadi apa dia nanti, bagian syariah ada?
Ada, itu di fiqih.

Adakah di tempat selain Al-Zaytun seperti ini?
Mungkin ada, di Indonesia banyak pendidikan, cuma sebagai pendidik kan mesti membuat berbagai macam inovasi, itu saja.

Kenapa pilih tempat di sini?
Kami sudah cari di Sumatera, di Jawa Timur, di ujung Jawa barat, hampir-hampir dapat di Cikampek tapi gagal. Di sini tidak gagal.

Tempat ini dulu milik siapa?
Milik rakyat.

Tanah, kebun atau apa?
Tanah kosong, tidak ditanam apapun. Tadinya milik orang-orang kemudian diserahkan ke kita.

Dibelilah?
Oh ya tukar, karena tanah tidak boleh dibeli ditukar saja. mereka ingin yang ringan-ringan.

Bapak ini banyak falsafahnya. Tanah ini ditukar apa?
Tanah ini kami tukar dengan uang, mereka suka uang kami suka tanah.

Itu bukan dibeli?
Bukan, ditukar. Tanah nggak boleh dibeli.

Di sini partainya apa?
Tidak ada partai di Al-Zaytun, tidak ada organisasi, Islam saja.

Jadi tidak ada Muhammadiyah, NU dan lainnya dari dulu?
Awalnya ada tapi sudah bergabung jadi satu, jadi sudah tak payah organisasi. Kita membina pendidikan saja.
Z Transkriper : Imam Sunni

 Wawancara Tujuh Wartawan Amerika Serikat kepada Syaykh Al-Zaytun AS. Panji Gumilang, (Ahad, 02 Juli 2006)

Wartawan Amerika:
  1. Richard W. Baker, Special Assistant to the President of East West Center (EWC).
  2. Susan Kreifeis, Media Activities Coordinator EWC.
  3. Tim Connolly, International Editor The Dallas Morning News, Dallas, Texas.
  4. David Crumm, Penulis Hal Ikhwal Keagamaan Detroit Free Press, Detroit, Michigan.
  5. William J. Dobson, Managing Editor, Foreign Policy Washington D.C.
  6. Larry Johnson, Foreign Desk Editor, Seattle Post-Intelligencer Seattle, Washington.
  7. David Hage, Editorial Writer, Minneapolis Star Tribune, Minnesota.  

 

David Hage : Sejak datang ke Indonesia berkaitan dengan Pancasila apakah pluralisme tepat buat Indonesia?

Syaykh: Pertanyaan ini semestinya bukan tepat dan tidak tepat karena puralisme/kemajemukan di Indonesia itu sudah diciptakan oleh Tuhan sejak kami berada di Indonesia ini. Bangsa Indonesia memiliki kenyataan yang telah ada dan semua dipercayai oleh bangsa Indonesia sebagai karunia Tuhan. 

Tim Connolly: Kami sangat kagum atas kedatangannya ke Al-Zaytun dan mengetahui tentang pesantren. Ini adalah pesantren satu-satunya yang dikunjungi. Dibandingkan dengan pesantren lain bagaimana menurut Syaykh?
Syaykh: Kami sebagai pendidik tidak boleh membandingkan dengan tempat-tempat lain karena seorang pendidik harus selalu berinovasi termasuk pendidikan pesantren ini. jadi pesantren Al-Zaytun ini diciptakan dengan dasar pesantren dengan spirit pesantren namun bersistem modern.

David Hage:  Apa yang membuat modern?
Syaykh: Modern adalah sistem yang setiap bertindak harus berdasar ilmu. Kemudian yang kedua memiliki organisasi yang kuat. Yang ketiga mempunyai etos kerja yang tangguh. Dan berpandangan masa depan yang jauh. Itu modern yang kami maksudkan.

Larry Johnson: Hari ada perubahan besar dalam masyarakat Amerika dan Asia, bagaimana sikap santri-santri di Al-Zaytun terhadap perubahan tantangan dalam satu dua tahun ini?
Syaykh:  Masyarakat Al-Zaytun termasuk seluruh guru, murid, dan penghuni di Al-Zaytun ini mempunyai pandangan bahwa kebebasan manusia baik itu di Indonesia maupun di negara-negara lain adalah satu kenikmatan,  satu keharusan. Maka apa yang dilihat dalam kejadian belakangan ini khususnya setelah kejadian 11 September, itu memang ada pandangan-pandangan yang khusus. Namun kekhususan itu dicerna oleh pelajar, guru, sebagai hal yang wajar. Maka pandangan anak-anak kita di sini atau masyarakat Indonesia di sini terhadap Amerika terkadang bertanya, “Mengapa harus terjadi peperangan dalam menyelesaikan perkara di permukaan bumi ini?”

David Hage: Bagaimana perasaan masyarakat Indonesia terhadap kebijakan Amerika?
Syaykh: Kalau masyarakat Indonesia ini bermacam-macam perasaan mereka terhadap kebijakan Amerika belakangan ini, namun semuanya itu menunjukkan partisipasi mereka terhadap perdamaian dunia.

Larry Johnson: Setelah melihat kemarin beberapa santri di sini seperti yang disebutkan tadi dan lain sebagainya, apa rencana Syaykh untuk rencana yang diharapkan di masa yang akan datang?
Syaykh:  Kami mengharapkan santri-santri ini mampu hidup pada zamannya dengan penuh persiapan. Karena kehidupan ini tantangannya bermacam-macam maka kami persiapkan kehidupan dan kemampuan hidup untuk membekali diri mereka masing-masing, sehingga mereka mampu mandiri dalam kehidupannya. Ini ada satu cerita kecil : di Indonesia hampir semua pelajar setelah tamat belajar mereka menginginkan menjadi pegawai negeri, itu catatan kecil bagi bangsa Indonesia. Kami ingin menghantarkan anak-anak kami di sini untuk tidak seperti itu. Namun kiranya mereka mampu mempunyai pegawai sebanyak-banyaknya. 

David Crum: Jawaban tadi cukup bagus hanya jawabannya tolong lebih detail/spesifik lagi, apa yang akan dilakukan ke depan apakah akan menambah satu fakultas atau bangunan-bangunan yang ada?

Syaykh: Untuk ke depan, Al-Zaytun akan terus membangun baik itu membangun fisik bangunan sarana pendidikan, maupun membangun berbagai fakultas yang ada di Universitas Al-Zaytun (UAZ). Tahun ini kita baru memiliki lima fakultas. kita belum membuka fakultas pendidikan, hukum, sosial, politik dan lain sebagainya. Semua itu akan kita bangun dan akan dibuka ke masa depan.

William J. Dobson: Di tahun-tahun belakangan ini terjadi perubahan politik yang sangat besar di Indonesia dari sentralisasi menjadi desentralisasi, beberapa provinsi bahkan mengkaji penerapan syariah, apakah Al-Zaytun ikut dalam hal ini atau bagaimana respon tentang hal itu?
Syaykh: Kami Al-Zaytun dan bangsa Indonesia secara keseluruhan merasa sangat bersyukur karena mempunyai kesempatan untuk memasukkan kehidupan demokrasi sebagai amalan hidup. Maka apa yang terjadi di Indonesia ini, apa saja, adalah proses menuju demokrasi yang progresif. Karenanya apa yang terjadi belakangan ini kehendak-kehendak tertentu untuk menciptakan aturan-aturan dan sebagainya itu tidak dapat ditanyakan kepada satu orang karena bangsa Indonesia ini mempunyai sistem demokrasi yang sudah jelas belakangan ini.

Larry Johnson:  Syaykh menerima demokrasi tapi tidak dengan sistem syariah?
Syaykh: Demokrasi itu akan menentukan berbagai macam, namun Indonesia telah memiliki basis ideologi, yaitu kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kerakyatan, kemanusiaan, kemudian yang lain-lain yang terdiri dari lima prinsip itu, membimbing bangsa Indonesia untuk mengisi demokrasi di dalam negaranya.

Willian J. Dobson: Sebagai pesantren besar apakah anda punya preferensi khusus tentang Syariah?
Syaykh:  Syariah adalah jalan untuk masuk ke dalam kehidupan dengan sistem, syariah adalah sebuah cara, sebuah sistem, maka syariah tidak bisa berhenti dengan syariah saja. Jadi kalau dikatakan syariah, tentu ada Syariah Islam seperti yang anda maksudkan.

Willam J. Dobson:  Apakah mungkin untuk menjadikan syariah Islam sebagai bagian dari aturan yang bisa diikuti oleh masyarakat Indonesia?
Syaykh:  Masyarakat Indonesia ini masyarakat majemuk terdiri dari berbagai agama, terdiri daripada berbagai suku bangsa, mereka memiliki aturan yang sudah jelas. Keagamaan adalah bagi mereka masing-masing, aturan kenegaraan yang telah diciptakan itulah yang akan dipegang oleh bangsa Indonesia.

David Crum:  Apakah ada tokoh-tokoh dunia yang dibanggakan oleh Syaykh?
Syaykh: Kami di dalam memandang tokoh-tokoh di dunia ini tidak ada tokoh yang sempurna, kami memandang tokoh-tokoh dunia yang baik yang kami contoh. Terkadang kami datang ke sebuah tempat melihat tokoh di sana. Contoh : kami mengagumi Lee Kuan Yew. Mengapa kami kagum kepadanya? Karena beliau mampu membangun sebuah tempat yang sangat kecil menjadi tempat yang dijadikan tujuan oleh banyak negara. Satu contoh itulah kekaguman terhadap tokoh-tokoh di dunia. Namun bukan berarti siapa yang kami kagumi itu manusia yang sempurna.

Tim Connolly: Dalam kunjungan kemarin mereka mendengar bahwa Al-Zaytun menerima mahasiswa non muslim, bagaimana bisa membuat kebijakan tersebut?
Syaykh: Ini kebijakan yang sangat wajar saja bukan sesuatu yang mengherankan, tapi ini kebijakan yang biasa. Kami seorang muslim harus bersahabat dengan siapa saja, maka kami buka pendidikan ini untuk siapa saja, sebagaimana sahabat-sahabat kami membuka sekolah katakan orang Kristen banyak membuka sekolah, orang muslim banyak juga yang ikut bersekolah di dalamnya.

Richard W. Baker: Sebagai lulusan IAIN Jakarta sekarang sedang mengembangkan perguruan tinggi, apakah kelas-kelas atau subjek yang akan dikembangkan di sini meniru atau mengadopsi dari sana atau mengembangkan hal yang baru?
Syaykh:  Sebagaimana saya katakan terdulu tadi bahwa kami sebagai pendidik, untuk itu tugas kami harus selalu berinovasi tidak harus seperti tempat kami belajar terdahulu. Maka di sini kami lebih awal mengadakan fakultas pertanian dibanding UIN. Kami membuka fakultas kedokteran lebih dahulu daripada UIN. Kami membuka fakultas IT juga lebih dahulu. Fakutlas teknik juga lebih dahulu daripada UIN. Jadi kami tidak seperti UIN, karena UIN di sana ada fakultas agama tapi di sini tidak ada fakultas agama. Menurut kami apa yang kami lakukan ini adalah agama.

Willian J. Dobson: Bagaimana pandangan Syaykh melihat IAIN yang telah berkembang sekarang?
Syaykh:  Kami sangat bergembira melihat perkembangan UIN hari ini. Tatkala UIN masih menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri) dan ingin berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), kami memberikan pandangan-pandangan: “Hendaknya IAIN yang akan menjadi universitas negeri tidak hanya mempelajari pelajaran-pelajaran yang dinamakan oleh banyak orang sebagai pelajaran agama, tapi harus masuk kepada fakultas-fakultas yang tidak atau non agama atau bukan agama”. Kami mengusulkan waktu itu harus dibuka fakultas kedokteran harus dibukan fakultas ekonomi, teknik,  pertanian dan lain sebagainya. Dan kami bergembira karena banyak ide-ide yang kami sampaikan sekarang telah berdiri di UIN.  

Willian J. Dobson:  Bagaimana pandangan Syaykh tentang globalisasi?
Syaykh: Globalisasi adalalah ciptaan manusia, hasil kerja manusia sehingga tercipta kehidupan yang global seperti sekarang ini. Ini hal yang wajar dan kita harus berada di dalamnya bersama masyarakat yang sudah hidup dalam globalisasi ini.

Susan Kreifeis: Dalam kunjungan kemarin kami mendapati sesuatu yang mengagumkan dan karena itu banyak hal yang kami ingin tahu, ada hal-hal yang mungkin orang-orang belum paham bagaimana Al-Zaytun bisa tercipta seperti ini?
Syaykh:  Kalau Al-Zaytun tampil seperti ini ada orang yang ragu itu hal yang wajar. Karena setiap perubahan atau yang dianggap suatu perubahan itu banyak orang yang ragu dan ada juga yang setuju, dua-duanya harus dihimpun supaya terus berimbang. Kita tidak boleh menentang kepada orang yang ragu dan tidak boleh terlalu bangga kepada orang yang menyetujui perjalanan ini. antara setuju dan tidak setuju dua-duanya kita hadapi dengan kebijaksanaan.

Susan Kreifeis:  Mengapa banyak pertanyaan tentang Al-Zaytun bahwa Al-Zaytun merupakan misteri?
Syaykh:  Ini sebaiknya ditanyakan kepada siapa orang yang ragu kepada Al-Zaytun. Kalau ditanyakan kepada kami, kami sedang membangun kebaikan. Tapi kalau ada yang ragu mestinya ditanya kepada orang yang ragu itu jangan ditanya kepada kami yang sedang membangun kebaikan ini.

Mr. Richard W. Baker: Di Indonesia banyak pemimpin-pemimpin pesantren dan mereka juga melahirkan banyak kerusakan seperti Abu Bakar Baasyir karena dia mempunyai pandangan politik tertentu. Bagaimana sebenarnya menyikapi tokoh-tokoh pesantren itu?
Syaykh: Kami rasa seperti ini : sebuah pesantren menghasilkan Ustadz Abu Bakar Baasyir, tapi tidak semua seperti itu, ada seperti saudara kita (Sunandar Ibnu Nur) ini juga dari Gontor. Seperti halnya kebijakan Amerika tatkala menentang Uni Soviet di Afghanistan beberapa puluh tahun yang lalu menghasilkan Osama Bin Laden. Kemudian Osama Bin Laden dijadikan musuh Amerika sampai dengan hari ini. Jadi hal yang wajar saja setiap sebuah pendidikan menghasilkan orang-orang yang kata sebagian orang tidak dikehendaki, tapi kata sebagian orang lagi dikehendaki. Jadi kalau kita mencontohkan figur Ustadz Abu Bakar Baasyir hasil daripada pesantren itu sesungguhnya tidak terlalu bijaksana.

Tim Connolly: Ada pandangan beberapa orang berkaitan atau senagaja menghubung-hubungkan diri dengan beberapa komunitas seperti kelompok-kelompok teroris. Bagaimana menyikapi teroris?
Syaykh:  Kalau itu sikap Amerika menghubung-hubungkan pesantren dengan teroris, melalui anda semua sebagai wartawan tolong sampaikan kepada mereka: sama sekali tidak ada hubungan antara terorisme dengan pesantren. Tolong sampaikan saudara-saudaraku semua sebagai jurnalis, sampaikan kepada Amerika atau bangsa-bangsa di dunia : pesantren adalah tempat pendidikan yang baik seperti universitas-universitas yang baik di Amerika atau di negara-negara barat lainnya. Kami ingin menjadi manusia terdidik. Jadi sekali lagi tolong sampaikan bahwa pesantren tidak ada hubungan dengan teroris.

Tim Connolly:  Bagaimana sistem ikatan kerja/kontrak pegawai-pegawai di sini, apakah untuk jangka waktu 5 tahun atau bagaimana?
Syaykh:  Pekerja-pekerja di Al-Zaytun dengan kerelaannya, mereka ingin bekerja di sini dan kami menerima mereka kerja di sini. Mereka kerja tanpa kontrak berapa tahun lamanya. Jadi tatkala mereka menghendaki ingin berhenti kami persilahkan, mereka ingin terus kami bersama-sama mereka, jadi tidak ada kontrak waktu tertentu, sekuat mereka bekerja bersama Al-Zaytun.

Richard W Baker: Dewasa ini ada perdebatan sengit tentang Islam liberal dengan Islam konservatif, bagaimana Syaykh menyikapi?
Syaykh:  Setiap manusia memiliki pandangan masing-masing yang dipercayai, dan di dalam agama Islam fatwa orang per orang atau majelis tidak mengikat sama sekali. Oleh sebab itu bangsa Indonesia tidak khawatir sama sekali, beribu-ribu fatwa yang turun tidak akan menjadikan bangsa Indonesia ini kacau balau. Jadi silahkan berfatwa yang ingin ikut boleh yang tidak ingin ikut pun tidak apa-apa, karena agama itu bukan fatwa. Itu pandangan orang di Indonesia ada yang setuju dengan fatwa ada yang tidak. Yang setuju juga tidak jaminan masuk sorga, yang tidak setuju juga tidak jaminan masuk neraka.

Susan Kreifeis: Konflik antara Israel dan Palestina merupakan isu yang sangat sensitif, dan kalau kami bertanya kepada beberapa orang Islam yang kami temui membuat mereka sangat tidak enak. Apakah isu konflik Palestina–Israel juga diajarkan di Al-Zaytun, dan bagaimana memberikan pemahaman kepada para santri di sini?
Syaykh:  Isu Palestina bukan sesuatu isu yang sangat spesifik. Di Al-Zaytun diajarkan sejarah, kalau berbicara tentang sejarah akan masuk kepada contoh-contoh seperti itu. Di Al-Zaytun anak-anak diajarkan geografi–mempelajari negara-negara–maka akan berbicara tentang Palestina itu. Dan kita tidak mengambil terlalu jauh tentang Palestina karena Palestina sendiri presidennya sudah menyepakati Israel, Israel menyetujui berdirinya negara Palestina. Mengapa kita yang di Indonesia harus berdebat tentang kemaun orang Palestina terhadap Israel? Presiden Palestina mengakui berdirinya Israel, Israel menyetujui berdirinya Palestina sekarang tinggal menentukan batas-batasnya. Mengapa kita harus berdebat di tempat yang begini jauh sedangkan yang konflik sudah mengambil kesepakatan. Maka itu nanti “arang habis besi binasa” bagi kita yang ada di tempat nun jauh ini.  

Richard W Baker: Kami mengucapkan terima kasih atas perlakukan penghuni Al-Zaytun yang sangat baik.
Syaykh:  Kami juga terima kasih kepada seluruhnya atas kedatangannya ke tempat pendidikan ini. Ini merupakan satu kehormatan bagi kami karena anda semua mau berkunjung ke tempat pendidikan Al-Zaytun ini.

Susan Kreifeis: Ini untuk Syaykh saya berikan brosur tentang program East West Center (EWC) supaya bila santri Al-Zaytun lulus pendidikan jurnalistik nanti bisa mengikuti program ini (EWC).
Syaykh:  Terima kasih. Sekali lagi: “Pesantren cinta perdamaian, pesantren love of peace, pesantren punya sikap toleransi, mari kita hidup dalam toleransi dan damai, dunia akan aman sentosa.”

Richard W Baker: Insya Allah.
  


   

Wawancara Wartawan ECW kepada Syaykh  Al-Zaytun A.S. Panji Gumilang.

Saya baru tiba jam 18.30. tidak pernah capai, bahkan senang bisa bertemu dengan sahabat-sahabat dari Amerika, malaysia, dan lain-lain. Apa yang bisa kami informasikan untuk anda semua? Tapi begini, berikan saya kesempatan berbicara dengan bahasa saya, dan pak Richard menterjemahkan dengan baik, supaya tidak ada salah paham dalam mengungkapkan apa yang diinformasikan.

Saya melihat Al-Zaytun ini adalah sebuah proyek besar. Bisa anda jelaskan apasebenarnya visi misi yang dijalankan oleh Al-Zaytun?
Proyek yang kita buat ini bukan proyek yang besar, ini proyek yang wajar-wajar saja. Adapun visinya adalah untuk kemanusiaan, supaya bisa tercipta ketentraman di bumi sehingga tercipta kehidupan yang baik.

Dari mana ide-idenya?
Ide-ide ini adalah ajaran besar dari Ilahi yang pernah disampaikan oleh manusia-manusia besar, yang memiliki pemikiran besar, cita-cita besar. Yang kesemuanya itu sejak dari zaman dahulu sampai kini terus berjalan, tidak pernah putus. Dari zaman dahulu sampai sekarang. Dan kami melanjutkan cita-cita indah itu dari para pendahulu kita, dan kita teruskan supaya kalau boleh lebih indah lagi. Sehingga tercipta kemanusiaan yang satu di dunia ini, sama-sama menjunjung tinggi kebahagiaan bersama. Dan ini harus dimulai dari pendidikan dan ekonomi, atau ekonomi dan pendidikan.

Dapatkah anda sampaikan kepada kami kapan anda mulai memiliki cita-cita meneruskan cita-cita besar tersebut?
Cita-cita seperti ini sudah tumbuh dari sejak individu saya masih kecil, tatkala masih belajar di sekolah dasar. Saya melihat guru saya selalu memberikan pelajaran, dan saya ingin seperti guru saya. Karena saya anggap guru itu adalah pelanjut dari kebudayaan kemanusiaan. Dan kami tengok kehidupan bangsa dari sejarah dan dari perjalanan kehidupan  bangsa  ini. Dan kehidupan bangsa–bangsa lain, juga bangsa-bangsa di dunia. Dari situlah kami lanjutkan sampai hari ini bekerja bersama-sama dengan para sahabat, baik sahabat itu dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. Sebab kami selalu menekankan persahabtan tanpa membedakan siapa dia dan apa yang dia peluk dalam keagamaan maupun lain-lainnya. Dari situlah maka kami melanjtkan perjalanan pendidikan dan menggerakkan perekonomian bagi lingkungan kami di sini. Itu apa yang kami cita-citakan bersama sahabat-sahabat.

Sangat menarik sekali penjelasan anda. Yang ingin saya tanyakan dari mana dana itu?
Pergerakan ekonomi dan pergerakan pendidikan selalu mendatangkan dana, sekalipun pada mulanya kita harus mendanai. Oleh sebab itu kami selalu mendatangkan dana dan juga memprsiapkan dana. Adapun persiapan dana kami adalah dari seluruh yang ikut bersama-sama menjalankan pendidikan di sini. Dan harap dimaklumi bahwa Al-Zaytun ini dibangun dari titik yang sangat kecil sekali. Modal kami tidak satu dolar tapi seperseratus dolar, itu awalnuya. Namun kami kumpulkan seluruh sahabat, maka menjadi beberapa dolar, mungkin hari ini ada juta dolar. Yang anda semua saksikan seakan-akan besar, padahal awalnya adalah kecil. Dan kami selalu berpuasa. Kami tidak mau makan nasi banyak sebelum punya nasi sendiri.

Siapa yang mengumpulkannya?
Yang mengumpulkannya adalah yang pertama dari diri sendiri, kemudian mengajak kawan-kawan. Dan hari inipun kami akan mengajak sahabat-sahabat dari Amerika, mari kita kolektif.

Apakah dari kelompok kecil ini bisa membangun yang sebesar ini?
Amerika membangun Amerika adalah dari kemlompok kecil. Namun karena sudah lebih dari 200 tahun maka menjadi besar. Dan Al-Zaytun sudah berjalan 8 tahun, 8 tahun memang cukup pendek, tapi dari pendek inilah kami kumpulkan. Dan kami hari-hari berpusasa, tidak makan nasi banyak-banyak, tidak makan gula banyak-banyak, tidak makan garam banyak-banyak, kami kumpulkan semua, dan nanti akan makan nasi banyak, gula banyak, dan garam banyak. Kata orang China Ipu-Ipu Lai, Tau-Tau au titi, step by step menjadi besar.

Ada dana dari luar negeri?
Dana dari luar negeri satu diantaranya hari ini anda akan memberi dana karena anda menginap di hotel. Dan tahun lalupun anda tinggal di sini dan membayar hotel di sini. Dan bangsa Indonesia menurut saya kaya. Karena apa? Karena jumlahnya banyak, dan kalau saya minta satu dolar dari setiap bangsa Indonesia kami mendapatkan 250 juta dolar. Itulah kami istilahkan Indonesia kaya, kalau kami mau minta.

Bisa dijelaskan berapa bujet biaya yang dikeluarkan, kemudian dana yang diperoleh?
Baik. Kami punya murid di sini sebanyak lebih dari 7000 orang. Murid sekolah menengah 7000 lebih, perguruan tinggi 600, guru 600, kemudian karyawan 1900 orang. Penghuni di sini lebih dari 11 sampai 12 ribu orang. Satu hari kami menyiapkan nasi 5 ton, satu kilo 6 ribu rupiah. Itu untuk nasi. Kami setiap hari memotong sapi tiga kepala, satu kilogram hidup harganya 15 ribu rupiah. Setiap hari kita potong 3 kepala, dikalikan 600 Kg, dikalikan 15 ribu. Setiap hari kami harus mempersiapkan telur paling sedikit 700 Kg. Dan setiap hari kami harus menyiakan ikan laut dan ikan darat lebih dari 600 Kg. Kami menyiapkan gula tidak kurang dari 300 Kg. Kami tidak menghitung semua itu, namun kami harus mengadakan. Yang bisa kami tanam kami tanam, yang tidak bisa kami beli. Karena kami mempunyai padi banyak kami jual padi dan kami belikan gula. Begitulah hari-hari kami berjalan. Jadi terkadang kita tukar dan kadang-kadang kita menyiapkan sendiri. Itulah program, dan itulah pembiayaan setiap hari, dan berjalan sepanjang tahun. Kalau itu kami hitung dengan uang maka kami tidak mau menyiapkan. Lebih baik di taruh di bank tinggal mengambil faedahnya, dan kami duduk di kursi sambil menyanyi Bengawan Solo.

Ketika anda masih muda apa yang anda kerjakan. Bagaimana sejarahanya sehingga bisa memiliki program seperti ini?
Saya diberi pelajaran dari orang tua dan dari guru-guru. Satu orang musuh terlalu banyak, tapi seribu orang kawan terlalu sedikit. Kemudian tentang uang seribu itu akan menjadi abu, tapi seteng itu akan menjadi genteng, maka jangan kecil hati tatkala memegang uang seteng. Begitu kata orang tua. Maka kami punya seteng, dan kami punya kawan seribu, maka menjadi seribu seteng, maka menjadi dolar dan menjadi genteng.

Bagaimana aktivitas anda ketika  anda umur 25 tahun ?
Saya ketika umur 25 tahun menjadi guru. Tatkala itu saya baru saja menikah, dan menjadi guru, istri sayapun menjadi guru. Maka saya dari kecil sampai hari ini guru. Dan kami sangat menyukai menjadi guru.

Di Amerika guru tidak bisa mendapat penghasilan banyak?
Lain di Indonesia lain di Amerika. Di Indonesia guru seperti Panji Gumilang mampu mencetak uang, karena setiap jengkal tanah harus diukur dengan dolar.

Apakah Indonesia memiliki program seperti ini, atau apakah Al-Zaytun ini bisa dicontoh oleh Negara lain?
Mestinya tidak harus mencontoh, mestinya harus berbuat. Karena kami juga berbuat dan melihat dari Negara lain, dari sahabat-sahabat di dunia ini, bangsa-bangsa lainnya. Untuk itu semestinya semua berbuat seperti kita ini, sebab kalau mencontoh Al-Zaytun, Al-Zaytun belum baik. Kami sedang terus membuat yang baik. Maka kami tengok dari mana yang terbaik itu yang kami contoh. Kami belum menilai Al-Zaytun ini sudah baik, tapi harus terus ditingkatkan dan diperbaiki. Malam ini andainya anda semua memberikan masukan pada kami yang baik akan kami pakai.

Al-Zaytun banyak menuai kontroversi. Saya tahu anda tidak pernah khawatir dengan apa yang anda kerjakan. Pertanyaan saya bagaimana pendapat anda tentang komentar-komentar orang terhadap Al-Zaytun?
Al-Zaytun adalah tempat pendidikan. Setiap tempat pendidikan itu ada saja orang yang pro dan kontra. Adapun kalau ada orang mengatakan bahwa Al-Zaytun kontroversial sesungguhnya orang itulah yang kontroversial. Pak Richard sudah dua kali datang ke sini, dan sudah bisa menyaksikan apa yang ada di sini, saya rasa pak Richard tidak akan mengatakan bahwa Al-Zaytun kontroversial. Karena itu saya ingin semua orang datang ke sini dan bersikap seperti pak Richard. Karena perang mulut itu akan menjadi perang fisik, dan bila perang fisik tidak ada damai, sedangkan kami punya motto menciptakan toleransi dan damai. Dan untuk itu kami minta semua yang pro ataupun yang kontra supaya memahami mengapa kami diam, tidak menanggapi orang-orang itu.  Karena kami akan terus berjalan menuju yang terbaik. Dan insya Allah masa depan orang semua akan mengerti. Kami baru 8 tahun, kami yakin setelah 8 tahun akan banyak yang mengerti. Dan andainya masih ada yang tidak mengerti mengapa kita harus sedih? Mari kita jalan terus ke depan untuk kebaikan.

Ummat Islam Indonesia menginginkan syariat Islam dijalankan di Indonesia. Bagaimana  pandangan Syaykh?
Bangsa Indonesia ini memiliki warga negara yang berbeda-beda. Ada yang beragama Islam, ada yang tidak beragama Islam. Ada suku bangsa yang bermacam-macam. Maka Indonesia sudah memiliki satu semboyan Bieneka Tunggal Ika (Unity in Diversity). Itu yang terjadi di Indonesia. Dan kami berjalan di atas itu. Dan supaya dipahami bahwa apa yang terjadi dalam motto bangsa Indonesia itulah Islam. Itu pengertian kami itulah Islam. Begitulah ajaran nabi, nabi Islam. Dan itulah ajaran para nabi, tidak membeda-bedakan. Dan itulah syariat Islam.

Syaykh tadi menyamaikan tentang pendidikan di Al-Zaytun. Tetapi saya lihat Al-Zaytun telah berkembang ke arah pengembangan hal lain seperti ekonomi. Apakah sebenarnya misi Al-Zaytun ke arah global, khusus ke pendidikan ataukah ada misi lain?
Al-Zaytun adalah sebuah pendidikan, di bangun oleh Yayasan Pesantren Indonesia (YPI). Program utama YPI adalah pendidikan dan ekonomi atau dibalik ekonomi dan pendidikan. Oleh sebab itu apa yang kita lakukan tidak pernah keluar dari program. Kalau tahun lalu tuan-tuan dan puan-puan berkunjung kemari belum menemukan gerakan seperti yang hari ini ditengok, memang ketika itu kami sedang menata pendidikan. Dan setelah tujuh tahun kami berjalan kami mulai masuk ke pembangunan ekonomi.

Dalam membangun perekonomian apakah anda juga akan masuk ke pasar global?
Apa yang kami buat di bidang ekonomi adalah untuk mensupport perjalanan pendidikan. Karena setiap orang bertanya dari mana biaya Al-Zaytun ini. Kalau kami tidak bergerak di bidang ekonomi maka pertanyaan itu tidak terjawab. Sekarang arah ekonomi kami baru di tingkat nasional. Sedikit-sedikit kita eksport. Namun intinya adalah untuk tingkat nasional dulu, karena kepentingannya masih memenuhi tingkat nasional. Kalau sudah tidak terpenuhi nanti baru kami bergerak ke tingkat internasional. Kalau sudah kuat di negara sendiri baru kita buka perekonomian ataupun perdagangan di Negara lain.

Lalu apa target yang diinginkan dengan masuk ke pasar global?
Targetnya semuanya pergerakan ekonomi ini untuk mendanai pendidikan. Kalau pendidikan tidak pernah kenal istirahat.

Tadi siang Syaykh menyampaikan bahwa pemerintah tidak membangun pendidikan di daerah Cibenoang. Apakah Syaykh juga ingin masuk ke dunia politik?
Kalau seorang pendidik berbicara tentang politik itu sudah wajar, tapi seorang politikus masuk ke pendidikan itu mengakhawatirkan. Oleh sebab itu di mana-mana guru bisa menjadi politisi tapi politikus belum tentu bisa menjadi guru.

Apakah anda ingin menjadi seorang politisi?
Saya bangga dengan kedudukan saya sebagai guru.

Al-Zaytun sudah sukses hanya dalam 8 tahun. Al-Zaytun sekarang mendidik generasi muda bangsa Indonesia. Apakah anda ingin model Al-Zaytun ini dapat dikembangkan di seluruh Indonesia?
Kesuksesan hari ini, kalau orang menganggap sukses dalam 8 tahun kami belum mengganggap sukses. Masih banyak kekurangan. Dan kalau dikatakan model Al-Zaytun ini dikembangakan untuk seluruh Indonesia, itu baru satu Al-Zaytun saja orang sudah banyak berpendapat beda. Untuk itu jangan memaksakan model Al-Zaytun untuk seluruh bangsa ini, karena kami menganut paham demokrasi. Kami tidak memaksakan model ini yang terbaik. Demokrasi mengajarkan pemahaman seperti itu. Untuk itu saya suka demokrasi. Dan sikap seperti itu konon adalah sikap seorang demokrat, tapi bukan partai demokrat, milik hilary Clinton.

Kita sudah banyak berbicara tentang Al-Zaytun. Al-Zaytun berusaha untuk memenuhi sendiri pendanaannya, adakah hal-hal yang kontradiksi?
Sesungguhya tidak kontradiksi. Kalau kami self sufficient itu untuk kebutuhan harian. Tapi kalau kontak kami, relasi kami dengan para sahabat di dunia internasional itu adalah interdependensi. Jadi kehidupan ini mesti interdependent, tidak ada independent secara utuh, tapi interdependent. Itulah sikap kami.

Siapakah tokoh yang mengisnpirasi Syaykh sehingga membuat lembaga seperti Al-Zayutn ini?
Tokoh-tokoh di dunia, karena kami selalu belajar sejarah. Sesuai dengan fak pelajaran yang kami dididik. Kami selalu membaca ide-ide besar manusia besar di dunia ini, sehingga kami berusaha mengikuti langkahnya yang panjang itu, walaupun hanya satu langkah. Jadi dari banyak orang. Kalau dari nabi banyak nabi yang kami ikuti, karena tuhan mengajarkan kepada kami imani banyak nabi. Maka kami baca nabi-nabi yang ada di dunia ini, dan kami ingin mengikuti jejaknya walaupun hanya satu langkah. Dan yang paling besar ide besar itu adalah menciptakan toleransi dan perdamaian.

Kita tahu bahwa ada perbedaan ide dan persepsi antara timur dan barat. Menurut  pendapat anda apa yang bisa dilakukan oleh Amerika untuk mengkorelasikan ide toleransi dan perdamaian seperti yang diusung oleh Al-Zaytun?
Sesungguhnya pemandangan orang terhadap Islam atau muslim, dan pemandangan muslim terhadap orang lain terkadang ada cara pandang yang tidak tepat. Untuk itu kami mengajarkan di sini toleransi dan damai. Tatkala kita memandang atau melihat orang yang menyikapi muslim dengan sikap yang tidak tepat, kita berikan sikap toleransi, namun kita akan jelaskan yang sebenarnya bukan seperti itu. Oleh sebab itu sikap toleran dan damai itu akan melandasi persahabatan yang abadi. Untuk itu antara Amerika dan Indonesia, khususnya Al-Zaytun mari kita tegakkan sikap toleran dan damai di dunia ini. Itu harapan kami.

Terima kasih atas pengertian anda. Tetapi karena kami bukan pegawai pemerintah, bagaimana pemerintah kami ini bisa berbuat baik?
Sesungguhnya berbuat baik memang tidak mudah, namun juga tidak sulit. Tapi berbuat baik untuk diterima baik orang lain tidak semudah membalikkan telapak tangan. Oleh sebab itu kita tidak boleh mengurangi kesabaran kita. Pemerintah Amerika dan bangsa Indonesia mestinya mengerti tentang perbuatan baik itu harus dibuat setiap saat. Dan jangan bosan-bosan, walapun ditentang banyak orang. Tapi 5, 10, 20 tahun ke depan akan dipahami oleh banyak orang.

Kami berterima kasih kepada Syaykh.


19-05-2007, Peletakan Batu Asas Pembangunan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Sambutan Syaykh Al-Zaytun, AS. Panji Gumilang

Assalamu'alaikum wr.wb.
Anak-anakku sekalian, para pelajar putra dan putri dari tiga RW/RK Cibenoang, Cipaku Hurip, dan Lingga Jati yang Syaykh cintai. Bapak-bapak dan ibu-ibu masyarakat Cibanoang yang kami hormati. Keluarga besar Al-Zaytun yang hadir, baik mahasiswa, pelajar, guru, maupun dosen, dan seluruh pengurus YPI Al-Zaytun yang dihormati semua.
Pada hari ini, Sabtu, 19 Mei 2007 masyarakat Cibanoang bersama YPI Al-Zaytun bermaksud untuk membangun satu pusat kegiatan belajar masyarakat, yakni dalam singkatannya PKBM. Pusat kegiatan masyarakat yang akan kita bangun ini, ini baru merupakan langkah pertama, baru tahap pertama. Nanti ke depan ada pembangunan lagi yang akan lebih besar dari ini, untuk menampung kegiatan lainnya. Supaya dipahami oleh masyarakat Cibanoang bahwa pusat pendidikan yang akan kita bangun hari ini adalah sebuah pusat pendidikan yang untuk menciptakan pembangunan bangsa. Pembangunan bangsa yang berpendidikan, bangsa yang kelak mampu bertoleransi, dan bangsa yang kelak mampu bersikap damai dalam hidup dan kehidupannya.
Kita mulai dari kampung yang sangat jauh dari kota, kampung yang tidak dipedulikan oleh banyak orang, tidak memiliki tempat pendidikan yang layak. Saya, atau kami dari masyarakat keluarga besar Al-Zaytun setiap petang dan pagi melalui jalan ini, yang pertama kami saksikan adalah sekolah untuk anak-anak kita. Ternyata kita bandingkan sekolah yang diduduki oleh calon-calon presiden Indonesia, calon-calon menteri di Indonesia, calon-calon Gubernur Indonesia, calon-calon Bupati Indonesia, calon-calon Camat Indonesia, calon-calon kepala desa Indonesia, dan  calon-calon pemimpin bangsa sekolahnya jauh lebih jelek dari pada kandang kambing.
Ini merupakan satu tindakan yang tidak bijak kalau diteruskan seperti itu. Kita bukan bangsa yang besar, kalau kita tidak mau memperhatikan pendidikan. Untuk itu masyarakat bersama-sama Al-Zaytun bertekad membangun pusat pendidikan ini untuk memajukan bangsa melalui anak-anak muda ini. Pandanglah wajah anak-anak muda kita, betapa semangatnya, namun kita belum tersentuh oleh kebijakan pemerintah, oleh kedermawanan orang yang dermawan. Hari ini kita bangkitkan masyarakat Cibanoang bersama Al-Zaytun, mari kita bangun. Bapak-bapak, masayarakat, dan ibu-ibu masyarakat Cibanoang sanggupkah kita membangun ini? Untuk apa? Untuk kebangkitan nasional Indonesia, untuk Indonesia. Untuk siapa masyaakat Cibanoang? Untuk Indonesia.
Apa Indonesia yang harus dibangun? Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia raya. Untuk siapa hai anak-anakku tingkat dasar, kamu bangsa apa nak? Kamu rela sekolahmu yang rombeng itu? Inilah gambar sekolahmu hari ini. Sekolahmu tidak boleh dibangun di atas tanah seratus meter persegi, tidak boleh. Indonesia luas, sama dengan luasna Amerika Serikat. Sekolahmu tidak boleh 100 meter persehgi, sekolahmu minimal satu hektare.lahan ini sampaui ujungs ana luasya satu hektare. Kita bangun ada lapangan olah raga.
Ini keistimeswaan Coibanoang, Cibanoang dihadiri oleh wartawan dari Amerika Serikat. Welcome on visitor from Amerika Serikat. Site down please. Yang datang ini wartawan dari Amerika Serikat, ingin menyaksikan betapa bangsa Indonesia memiliki pendidikannya, sampai di mana bentuk pendidikannya. Mr Richard, saya laporkan kepada anda. Ini bapak kita dari Amerika Serikat tadi bahasa Indonesianya lebih bagus dari pada Indonesia orang Cibanonang.
Masyarakat Indonesia di Cibanoang. Ini namanya Cibanoang, sungai yang bisa menghasilkan emas. Banoang itu sebuah buah yang bisa menjadi emas. Tapi belum tersentuh oleh pembangunan pendidikan oleh pimpinan negaranya. Sekarang masyarakat bangkit,  besok tanggal 20 adalah hari kebangkitan nasional, diawali dari masyarakat Cibanoang membangun sebuah pusat pendidikan. Tidak terlalu besar, hanya seluas 6 x 16 meter di lahan 10 ribu meter. Dan ini tahap pertama, mudah-mudahan nanti pak Richard datang lagi, dan  akan kita bangun lagi, bangun lagi yang lebih besar.
Tolong sampaikan kepada bangsa Amerika, di Cibanoang ada sekolah yang baru dibangun karena tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintahnya. Dibangun oleh rakyat sendiri, kuat rakyat Indonesia yang ada di sini. Nanti mari kita tengok sekolah yang tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah itu, sekolahnya lebih bagus kandang kambing di Amerika. Bahkan lebih bagus dari kandang kambing di kampung ini. Teruma kasih atas kunjungan anda semua, selamat siang, dan selamat menikmati keadaan seprti ini, inilah kampung bangsa Indonesia.
Anak-anakku sekalian. Kita akan membangun dimulai dari 6 x 16 meter. Kita buktikan bahwa masyarakat Cibanoang mampu membangun. Kita bangun 31 hari, alias satu bulan. Hari ini kita mulai, dan tanggal 23 Juni kita akan resmikan. Kita undang pemimpin-pemimpin supaya paham, di sini masyarakatnya sudah tidak sabar menunggu apa kebijakan yang akan diberikan oleh pemimpinnya, sehingga membangun sendiri.
Kami merasa iba, dan haru, dan bangga karena masyarakat sini mampu membangun. Kami hanya mendatangkan tukang, kami hanya mendatangkan batu, tidak pakai uang membangun, sama sekali tidak menggunakan uang, tidak penting uang itu. Yang penting ada batu, batu ada pabriknya, batu bata ada pabriknya, semen ada pabriknya, Kayu ada hutannya, genteng ada pabriknya, tidak laku uang itu.  Apa buktinya lagi masyarakat tidak dipungut uang sesenpun, hanya mengumpulkan padi 20 Kg untuk memberi makan tukang selama satu bulan. Nah, hidup masyarakat Cibanoang.
Jadi anak-anakku sekalian, bangsa berpendidikan itu maknanya bangsa yang akan punya masa depan, akan mampu menginjak masa depannya dengan baik. Bangsa yang pendidikannya kurang akan suram masa depannya. Maka anak-anakku rebut pendidikan, rebut toleransi. Akan kita dirikan sekolah tingkat dasar, kemudian nanti tingkat menengah, kemudian tingkat menengah atas, kemudian perguruan tingginya ke Universitas Al-Zaytun.
Siapa yang membiayai sekolah ini nanti? Kita bangsa bangsa yang kuat, masyarakat masyarakat yang kuat, yayasan pesantren Indonesia yayasan yang kuat, karena didukung oleh masyarakat. Jangan kahwatir biaya pendidikan, paling-paling kita Cuma urunan. Tidak usah membayar, tapi urunan. Apa? Karena di sini punya padi, urun pakai padi, yang punya jagung urun pakai jagung, tidak punya jagung tidak punya padi, hanya punya tenaga urun tenaga, tidak punya tenaga urun doa.
Untuk itu sebelum kita mulai mari kita membaca doa kepada tuhan, dan kita sebut nama – nama tuhan (Asmau Al-Husna).

Setelah ini Syaykh memimpin membaca Asmau Al-Husna sebanyak 100 nama-nama Allah.

Alhamdulilah, tepat pukul 14.00 kurang dua menit. Kita nyatakan. Silahkan wakil ketua YPI, H Imam Suprianto maju ke depan, kemudian silahkan sekertaris Yayasan Ustadz Abdul Halim memegang tabir dan tunggu komando, sesuai sirine yang berbunyi.

Bismilaahirrahmaanirrahim
Pada hari ini, tanggal 19 mei sehubungan dengan hari kebangkitan nasional Indonesia yang jatuh hari besok, tanggal 20, kami masyarakat Cibanoang, kecamatan Gantar kabupaten Indramayu bersama masyarakat keluarga besar Al-Zaytun memulakan pembangunan pusat kegiatan belajar masyarakat dengan berbasmalah.

Untuk melanjutkan semua ini saya akan tinggalkan podium, dan tampil di depan papan sambil memanggil semua yang hadir untuk satu persatu memulai memasang batu asas bersama-sama. Dimulakan dari para pelajar putra putri, kemudian masyarakat pemuda putra-putri, kemudian orang tua putra putri, kemudian masyarakat lainnya, dan nanti disusul oleh pelaja Al-Zaytun, mahasiswa Al-Zaytun, masyarakat Al-Zaytun.
Dan kami minta rombongan dari masyarakat jurnalis Amerika Serikat yang hari ini datang untuk ikut menanam atau memasang batru pertama sebagai kenang-kenangan tempat pendidikan yang akan go public, go international, dan go global.


   

Wawancara Wartawan ECW kepada Syaykh  Al-Zaytun A.S. Panji Gumilang.

Bangga Sebagai Pendidik

            Untuk kedua kalinya rombongan wartawan East West Center yang dipimpin oleh Mr Richard Baker mewawancari Syaykh Al-Zaytun, A.S. Panji Gumilang. Bagaikan agenda rutin tiap tahun mereka datang ke Indonesia (Al-Zaytun) untuk mengetahui Islam dan Al-Zaytun lebih jauh. Selama ini mereka mengetahui Islam sesuai dengan pikiran mereka sendiri. Wartawan Amerika mendapat informasi tentang Islam lewat internet, yang kadang keliru memandang Islam. Maka dalam rangka membangun kesepahaman antara Amerika dengan muslim di Asia, mereka berkunjung ke Indonesia (Al-Zaytun) setelah berdialog dengan Syaykh Al-Zaytun mereka akan berdiskusi tentang Islam menurut persepsi mereka. Apa yang mereka tanyakan pada Syaykh Al-Zaytun A.S. Panji Gumilang, berikut kami tampilkan petikannya.
"Apa yang bisa kami informasikan untuk Anda semua?" ujar Syaykh Al-Zaytun kepada wartawan Amerika, Malaysia dan Indonesia yang melingkarinya.

Saya melihat Al-Zaytun ini adalah sebuah proyek besar. Bisa anda jelaskan apasebenarnya visi misi yang dijalankan oleh Al-Zaytun?
Proyek yang kita buat ini bukan proyek yang besar, ini proyek yang wajar-wajar saja. Adapun visinya adalah untuk kemanusiaan, supaya bisa tercipta ketentraman di bumi sehingga tercipta kehidupan yang baik.

Dari mana ide-idenya?
Ide-ide ini adalah ajaran besar dari Ilahi yang pernah disampaikan oleh manusia-manusia besar, yang memiliki pemikiran besar, cita-cita besar. Yang kesemuanya itu sejak dari zaman dahulu sampai kini terus berjalan, tidak pernah putus. Dari zaman dahulu sampai sekarang. Dan kami melanjutkan cita-cita indah itu dari para pendahulu kita, dan kita teruskan supaya kalau boleh lebih indah lagi. Sehingga tercipta kemanusiaan yang satu di dunia ini, sama-sama menjunjung tinggi kebahagiaan bersama. Dan ini harus dimulai dari pendidikan dan ekonomi, atau ekonomi dan pendidikan.

Dapatkah anda sampaikan kepada kami kapan anda mulai memiliki cita-cita meneruskan cita-cita besar tersebut?
Cita-cita seperti ini sudah tumbuh dari sejak individu saya masih kecil, tatkala masih belajar di sekolah dasar. Saya melihat guru saya selalu memberikan pelajaran, dan saya ingin seperti guru saya. Karena saya anggap guru itu adalah pelanjut dari kebudayaan kemanusiaan. Dan kami tengok kehidupan bangsa dari sejarah dan dari perjalanan kehidupan  bangsa  ini. Dan kehidupan bangsa–bangsa lain, juga bangsa-bangsa di dunia. Dari situlah kami lanjutkan sampai hari ini bekerja bersama-sama dengan para sahabat, baik sahabat itu dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. Sebab kami selalu menekankan persahabtan tanpa membedakan siapa dia dan apa yang dia peluk dalam keagamaan maupun lain-lainnya. Dari situlah maka kami melanjtkan perjalanan pendidikan dan menggerakkan perekonomian bagi lingkungan kami di sini. Itu apa yang kami cita-citakan bersama sahabat-sahabat.

Sangat menarik sekali penjelasan anda. Yang ingin saya tanyakan dari mana dana itu?
Pergerakan ekonomi dan pergerakan pendidikan selalu mendatangkan dana, sekalipun pada mulanya kita harus mendanai. Oleh sebab itu kami selalu mendatangkan dana dan juga memprsiapkan dana. Adapun persiapan dana kami adalah dari seluruh yang ikut bersama-sama menjalankan pendidikan di sini. Dan harap dimaklumi bahwa Al-Zaytun ini dibangun dari titik yang sangat kecil sekali. Modal kami tidak satu dolar tapi seperseratus dolar, itu awalnuya. Namun kami kumpulkan seluruh sahabat, maka menjadi beberapa dolar, mungkin hari ini ada juta dolar. Yang anda semua saksikan seakan-akan besar, padahal awalnya adalah kecil. Dan kami selalu berpuasa. Kami tidak mau makan nasi banyak sebelum punya nasi sendiri.

Siapa yang mengumpulkannya?
Yang mengumpulkannya adalah yang pertama dari diri sendiri, kemudian mengajak kawan-kawan. Dan hari inipun kami akan mengajak sahabat-sahabat dari Amerika, mari kita kolektif.

Apakah dari kelompok kecil ini bisa membangun yang sebesar ini?
Amerika membangun Amerika adalah dari kemlompok kecil. Namun karena sudah lebih dari 200 tahun maka menjadi besar. Dan Al-Zaytun sudah berjalan 8 tahun, 8 tahun memang cukup pendek, tapi dari pendek inilah kami kumpulkan. Dan kami hari-hari berpusasa, tidak makan nasi banyak-banyak, tidak makan gula banyak-banyak, tidak makan garam banyak-banyak, kami kumpulkan semua, dan nanti akan makan nasi banyak, gula banyak, dan garam banyak. Kata orang China Ipu-Ipu Lai, Tau-Tau au titi, step by step menjadi besar.

Ada dana dari luar negeri?
Dana dari luar negeri satu diantaranya hari ini anda akan memberi dana karena anda menginap di hotel. Dan tahun lalupun anda tinggal di sini dan membayar hotel di sini. Dan bangsa Indonesia menurut saya kaya. Karena apa? Karena jumlahnya banyak, dan kalau saya minta satu dolar dari setiap bangsa Indonesia kami mendapatkan 250 juta dolar. Itulah kami istilahkan Indonesia kaya, kalau kami mau minta.

Bisa dijelaskan berapa bujet biaya yang dikeluarkan, kemudian dana yang diperoleh?
Baik. Kami punya murid di sini sebanyak lebih dari 7000 orang. Murid sekolah menengah 7000 lebih, perguruan tinggi 600, guru 600, kemudian karyawan 1900 orang. Penghuni di sini lebih dari 11 sampai 12 ribu orang. Satu hari kami menyiapkan nasi 5 ton, satu kilo 6 ribu rupiah. Itu untuk nasi. Kami setiap hari memotong sapi tiga kepala, satu kilogram hidup harganya 15 ribu rupiah. Setiap hari kita potong 3 kepala, dikalikan 600 Kg, dikalikan 15 ribu. Setiap hari kami harus mempersiapkan telur paling sedikit 700 Kg. Dan setiap hari kami harus menyiakan ikan laut dan ikan darat lebih dari 600 Kg. Kami menyiapkan gula tidak kurang dari 300 Kg. Kami tidak menghitung semua itu, namun kami harus mengadakan. Yang bisa kami tanam kami tanam, yang tidak bisa kami beli. Karena kami mempunyai padi banyak kami jual padi dan kami belikan gula. Begitulah hari-hari kami berjalan. Jadi terkadang kita tukar dan kadang-kadang kita menyiapkan sendiri. Itulah program, dan itulah pembiayaan setiap hari, dan berjalan sepanjang tahun. Kalau itu kami hitung dengan uang maka kami tidak mau menyiapkan. Lebih baik di taruh di bank tinggal mengambil faedahnya, dan kami duduk di kursi sambil menyanyi Bengawan Solo.

Ketika anda masih muda apa yang anda kerjakan. Bagaimana sejarahanya sehingga bisa memiliki program seperti ini?
Saya diberi pelajaran dari orang tua dan dari guru-guru. Satu orang musuh terlalu banyak, tapi seribu orang kawan terlalu sedikit. Kemudian tentang uang seribu itu akan menjadi abu, tapi seteng itu akan menjadi genteng, maka jangan kecil hati tatkala memegang uang seteng. Begitu kata orang tua. Maka kami punya seteng, dan kami punya kawan seribu, maka menjadi seribu seteng, maka menjadi dolar dan menjadi genteng.

Bagaimana aktivitas anda ketika  anda umur 25 tahun ?
Saya ketika umur 25 tahun menjadi guru. Tatkala itu saya baru saja menikah, dan menjadi guru, istri sayapun menjadi guru. Maka saya dari kecil sampai hari ini guru. Dan kami sangat menyukai menjadi guru.

Di Amerika guru tidak bisa mendapat penghasilan banyak?
Lain di Indonesia lain di Amerika. Di Indonesia guru seperti Panji Gumilang mampu mencetak uang, karena setiap jengkal tanah harus diukur dengan dolar.

Apakah Indonesia memiliki program seperti ini, atau apakah Al-Zaytun ini bisa dicontoh oleh Negara lain?
Mestinya tidak harus mencontoh, mestinya harus berbuat. Karena kami juga berbuat dan melihat dari Negara lain, dari sahabat-sahabat di dunia ini, bangsa-bangsa lainnya. Untuk itu semestinya semua berbuat seperti kita ini, sebab kalau mencontoh Al-Zaytun, Al-Zaytun belum baik. Kami sedang terus membuat yang baik. Maka kami tengok dari mana yang terbaik itu yang kami contoh. Kami belum menilai Al-Zaytun ini sudah baik, tapi harus terus ditingkatkan dan diperbaiki. Malam ini andainya anda semua memberikan masukan pada kami yang baik akan kami pakai.

Al-Zaytun banyak menuai kontroversi. Saya tahu anda tidak pernah khawatir dengan apa yang anda kerjakan. Pertanyaan saya bagaimana pendapat anda tentang komentar-komentar orang terhadap Al-Zaytun?
Al-Zaytun adalah tempat pendidikan. Setiap tempat pendidikan itu ada saja orang yang pro dan kontra. Adapun kalau ada orang mengatakan bahwa Al-Zaytun kontroversial sesungguhnya orang itulah yang kontroversial. Pak Richard sudah dua kali datang ke sini, dan sudah bisa menyaksikan apa yang ada di sini, saya rasa Mr Richard tidak akan mengatakan bahwa Al-Zaytun kontroversial. Karena itu saya ingin semua orang datang ke sini dan bersikap seperti Mr Richard. Karena perang mulut itu akan menjadi perang fisik, dan bila perang fisik tidak ada damai, sedangkan kami punya motto menciptakan toleransi dan damai. Dan untuk itu kami minta semua yang pro ataupun yang kontra supaya memahami mengapa kami diam, tidak menanggapi orang-orang itu.  Karena kami akan terus berjalan menuju yang terbaik. Dan insya Allah masa depan orang semua akan mengerti. Kami baru 8 tahun, kami yakin setelah 8 tahun akan banyak yang mengerti. Dan andainya masih ada yang tidak mengerti mengapa kita harus sedih? Mari kita jalan terus ke depan untuk kebaikan.

Ummat Islam Indonesia menginginkan syariat Islam dijalankan di Indonesia. Bagaimana  pandangan Syaykh?
Bangsa Indonesia ini memiliki warga negara yang berbeda-beda. Ada yang beragama Islam, ada yang tidak beragama Islam. Ada suku bangsa yang bermacam-macam. Maka Indonesia sudah memiliki satu semboyan Bhieneka Tunggal Ika (Unity in Diversity). Itu yang terjadi di Indonesia. Dan kami berjalan di atas itu. Dan supaya dipahami bahwa apa yang terjadi dalam motto bangsa Indonesia itulah Islam. Itu pengertian kami itulah Islam. Begitulah ajaran nabi, nabi Islam. Dan itulah ajaran para nabi, tidak membeda-bedakan. Dan itulah syariat Islam.

Syaykh tadi menyamaikan tentang pendidikan di Al-Zaytun. Tetapi saya lihat Al-Zaytun telah berkembang ke arah pengembangan hal lain seperti ekonomi. Apakah sebenarnya misi Al-Zaytun ke arah global, khusus ke pendidikan ataukah ada misi lain?
Al-Zaytun adalah sebuah pendidikan, di bangun oleh Yayasan Pesantren Indonesia (YPI). Program utama YPI adalah pendidikan dan ekonomi atau dibalik ekonomi dan pendidikan. Oleh sebab itu apa yang kita lakukan tidak pernah keluar dari program. Kalau tahun lalu tuan-tuan dan puan-puan berkunjung kemari belum menemukan gerakan seperti yang hari ini ditengok, memang ketika itu kami sedang menata pendidikan. Dan setelah tujuh tahun kami berjalan kami mulai masuk ke pembangunan ekonomi.

Dalam membangun perekonomian apakah anda juga akan masuk ke pasar global?
Apa yang kami buat di bidang ekonomi adalah untuk mensupport perjalanan pendidikan. Karena setiap orang bertanya dari mana biaya Al-Zaytun ini. Kalau kami tidak bergerak di bidang ekonomi maka pertanyaan itu tidak terjawab. Sekarang arah ekonomi kami baru di tingkat nasional. Sedikit-sedikit kita eksport. Namun intinya adalah untuk tingkat nasional dulu, karena kepentingannya masih memenuhi tingkat nasional. Kalau sudah tidak terpenuhi nanti baru kami bergerak ke tingkat internasional. Kalau sudah kuat di negara sendiri baru kita buka perekonomian ataupun perdagangan di Negara lain.

Lalu apa target yang diinginkan dengan masuk ke pasar global?
Targetnya semuanya pergerakan ekonomi ini untuk mendanai pendidikan. Kalau pendidikan tidak pernah kenal istirahat.

Tadi siang Syaykh menyampaikan bahwa pemerintah tidak membangun pendidikan di daerah Cibenoang. Apakah Syaykh juga ingin masuk ke dunia politik?
Kalau seorang pendidik berbicara tentang politik itu sudah wajar, tapi seorang politikus masuk ke pendidikan itu mengakhawatirkan. Oleh sebab itu di mana-mana guru bisa menjadi politisi tapi politikus belum tentu bisa menjadi guru.

Apakah anda ingin menjadi seorang politisi?
Saya bangga dengan kedudukan saya sebagai pendidik.

Al-Zaytun sudah sukses hanya dalam 8 tahun. Al-Zaytun sekarang mendidik generasi muda bangsa Indonesia. Apakah anda ingin model Al-Zaytun ini dapat dikembangkan di seluruh Indonesia?
Kesuksesan hari ini, kalau orang menganggap sukses dalam 8 tahun kami belum mengganggap sukses. Masih banyak kekurangan. Dan kalau dikatakan model Al-Zaytun ini dikembangakan untuk seluruh Indonesia, itu baru satu Al-Zaytun saja orang sudah banyak berpendapat beda. Untuk itu jangan memaksakan model Al-Zaytun untuk seluruh bangsa ini, karena kami menganut paham demokrasi. Kami tidak memaksakan model ini yang terbaik. Demokrasi mengajarkan pemahaman seperti itu. Untuk itu saya suka demokrasi. Dan sikap seperti itu konon adalah sikap seorang demokrat, tapi bukan partai demokrat, milik hilary Clinton.

Kita sudah banyak berbicara tentang Al-Zaytun. Al-Zaytun berusaha untuk memenuhi sendiri pendanaannya, adakah hal-hal yang kontradiksi?
Sesungguhya tidak kontradiksi. Kalau kami self sufficient itu untuk kebutuhan harian. Tapi kalau kontak kami, relasi kami dengan para sahabat di dunia internasional itu adalah interdependensi. Jadi kehidupan ini mesti interdependent, tidak ada independent secara utuh, tapi interdependent. Itulah sikap kami.

Siapakah tokoh yang mengisnpirasi Syaykh sehingga membuat lembaga seperti Al-Zayutn ini?
Tokoh-tokoh di dunia, karena kami selalu belajar sejarah. Sesuai dengan fak pelajaran yang kami dididik. Kami selalu membaca ide-ide besar manusia besar di dunia ini, sehingga kami berusaha mengikuti langkahnya yang panjang itu, walaupun hanya satu langkah. Jadi dari banyak orang. Kalau dari nabi banyak nabi yang kami ikuti, karena tuhan mengajarkan kepada kami imani banyak nabi. Maka kami baca nabi-nabi yang ada di dunia ini, dan kami ingin mengikuti jejaknya walaupun hanya satu langkah. Dan yang paling besar ide besar itu adalah menciptakan toleransi dan perdamaian.

Kita tahu bahwa ada perbedaan ide dan persepsi antara timur dan barat. Menurut  pendapat anda apa yang bisa dilakukan oleh Amerika untuk mengkorelasikan ide toleransi dan perdamaian seperti yang diusung oleh Al-Zaytun?
Sesungguhnya pemandangan orang terhadap Islam atau muslim, dan pemandangan muslim terhadap orang lain terkadang ada cara pandang yang tidak tepat. Untuk itu kami mengajarkan di sini toleransi dan damai. Tatkala kita memandang atau melihat orang yang menyikapi muslim dengan sikap yang tidak tepat, kita berikan sikap toleransi, namun kita akan jelaskan yang sebenarnya bukan seperti itu. Oleh sebab itu sikap toleran dan damai itu akan melandasi persahabatan yang abadi. Untuk itu antara Amerika dan Indonesia, khususnya Al-Zaytun mari kita tegakkan sikap toleran dan damai di dunia ini. Itu harapan kami.

Terima kasih atas pengertian anda. Tetapi karena kami bukan pegawai pemerintah, bagaimana pemerintah kami ini bisa berbuat baik?
Sesungguhnya berbuat baik memang tidak mudah, namun juga tidak sulit. Tapi berbuat baik untuk diterima baik orang lain tidak semudah membalikkan telapak tangan. Oleh sebab itu kita tidak boleh mengurangi kesabaran kita. Pemerintah Amerika dan bangsa Indonesia mestinya mengerti tentang perbuatan baik itu harus dibuat setiap saat. Dan jangan bosan-bosan, walapun ditentang banyak orang. Tapi 5, 10, 20 tahun ke depan akan dipahami oleh banyak orang.

Kami berterima kasih kepada Syaykh.

Kunjungan CEO Asian Affairs Magazine, Mr. S. Roy

Menjembatani Terbentuknya Uni ASEAN


Sejak dideklarasikan pada 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailad, ASEAN telah memainkan peran besar dalam menjaga kestabilan kawasan. Dengan kekuatan 10 negara dan total populasi mencapai 500 juta jiwa lebih, saat ini ASEAN dipandang sebagai kawasan paling dinamis di dunia, serta menjadi incaran para investor. Namun, ditengah situasi dunia yang bergerak demikian cepat, ASEAN dinilai lambat merespon perkembangan. Sebagai bukti, selama 40 tahun berdiri kerjasama yang dijalin baru sebatas kerjasama antar pemerintahan (G to G) saja, belum menyentuh level masyarakat luas. Publikasi tentang ASEAN serta negara-negara anggotanyapun masih sangat terbatas.  
Kenyataan itu telah mendorong Mr. S. Roy, pengusaha asal India yang tujuh tahun terakhir tinggal dan menjalankan roda bisnisnya di Thailand mendirikan Asian Affairs Magazine, sebuah majalah triwulanan yang terbit di sepuluh negara ASEAN. Menurut S. Roy, ia mendirikan majalah tersebut sebagai wujud kepeduliannya terhadap kemajuan ASEAN. Dengan mengusung misi sebagai “The voice of ASEAN,” Roy berharap majalah yang mulai terbit akhir 2007 tersebut dapat menjembatani kerja sama yang lebih erat di antara negara-negara serta rakyat ASEAN. 
Sabtu 24 Mei 2008, didampingi Taufan Piscesar, Manajer Marketing untuk wilayah Indonesia, S. Roy berkunjung ke kampus Al-Zaytun. Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui secara detail keberadaan lembaga pendidikan Al-Zaytun dengan segala renik peniknya dari sumbernya langsung. Hal tersebut berkenaan dengan akan diterbitkannya edisi ke-4 Agustus 2008, yang head line utamanya akan mengangkat topik mengenai pendidikan, berjudul “Islami School for Modern Time,” dengan Al-Zaytun sebagai sumber referensi utama. Pada kunjungan yang pertama kali itu,  S. Roy bertemu dan berbincang langsung dengan Syaykh Al-Zaytun, AS. Panji Gumilang di restoran Wisma Tamu Al-Islah.
Meskipun baru pertama kali bertemu, perbincangan berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Berbagai pertanyaan dilontarkan Mr. S. Roy kepada Syaykh Al-Zaytun, yang dinilainya sebagai salah satu tokoh Indonesia yang kharismatis dan memiliki visi jauh ke depan. Al-Zaytun beserta visi misinya dikupas sampai tuntas. Pemikiran serta pandangan-pandangan Syaykh Al-Zaytun pun tak lepas dari reportasenya. Untuk mengetahui secara lengkap, kami hadirkan dalam rubrik wawancara berikut ini!

Indonesia tidak hanya sebagai pendiri, tetapi 50 persen masyarakat ASEAN ada di Indonesia. Indonesia merupakan bagian yang penting dari ASEAN. Bagaimana pendapat Syaykh?
Bahkan, kita inginkan ke depan,  tahun 2020 tidak sekedar ASEAN, tetapi Uni-  ASEAN. Kita atur ke depan mata uang Uni-ASEAN,  kita atur politik seperti itu sehingga kekuatan ASEAN akan bisa memberi andil bagi perdamaian dunia.
ASEAN sudah berusia 40 tahun, tetapi saya heran, sedih, selama 40 tahun mengapa tidak ada publikasi?
Sebab berdiri sendiri-sendiri.  ASEAN tidak memiliki uni, tidak seperti Uni-Eropa, makanya kita akan masuk ke situ.
Mula-mulanya sedikit sekali pengetahuan tentang ASEAN, dan banyak orang-orang bertanya bagiamana ASEAN?
Pasti tidak paham karena ASEAN itu hanya sebuah organisasi dan masing-masing berdiri sendiri-sendiri.
Mereka ini bersama tetapi hanya pada pemerintahan saja.
Itulah tidak seperti Uni-ASEAN, kalau Uni-ASEAN nanti rakyat menjadi kekuatan  rakyat ASEAN.
Untuk itulah dengan kekuatan saya sendiri, uang saya sendiri,  saya membuat majalah ini.
Mudah-mudahan ini nanti bisa mengawali terbentuknya Uni-ASEAN.
Itulah yang menjadi tujuan saya, walaupun saya bukan orang ASEAN, saya orang India tetapi saya tinggal di ASEAN.
Sekarang,  kalau kita berbicara ASEAN dan kita ingin memajukan dan membesarkan ASEAN, jangan berbicara aku India,  aku Arab dan sebagainya, tetapi kita mempunyai cita-cita memajukan ASEAN bersama.
Selanjutnya kita mulai dari awal tentang Al-Zaytun, bagaimana konsep awal untuk memulai pembangunan kampus ini?
Konsep awal adalah dorongan, keinginan untuk menyambung kehidupan kebudayaan manusia, kebudayaan dan peradaban manusia. Ingin menyambung kebudayaan manusia supaya tidak terputus. Maka kita buat sebuah pendidikan yang sesuai dengan cita-cita itu, cita-cita kemanusiaan dan kebudayaan. Awalnya itu.
Apakah ini visinya?
Inilah visinya, menciptakan sebuah kebudayaan. Kebudayaan umat manusia adalah hidup toleran dan damai. Kehidupan toleran dan damai tidak bisa dijalankan kalau tidak diberikan didikan. Itu landasan pertama sebuah cita-cita.
Dari visi, konsep kemudian realita bagaimana pelaksanaannya?
Konsep ini diawali dengan pemaduan pemikiran antara satu orang dengan yang lain. Kemudian disatukanya menjadi cita-cita bersama dan kemudian kita buat satu program bersama, kita biayai bersama, kita mulakan untuk pelaksanaannya pada awal 1999 berjalan sampai hari ini, didukung banyak masyarakat yang sama pemikirannya sampai hari ini.
Siapa yang menjadi inspirator dan memanajer  ini semua?
Sesungguhnya inspirator dari banyak orang. Cuma kami seorang yang harus mampu menggabungkan inspirasi-inspirasi itu. Nah, itu kami tampil ke depan dan dituakan oleh banyak kawan. Syaykh itu yang dituakan, yang dianggap pimpinan.
Mengapa konsepnya pendidikan ekonomi dan ekonomi pendidikan?
Kita lembaga swasta, kalau kita bicara pendidikan saja pendidikan tidak bisa berjalan, kalau berbicara ekonomi saja pendidikan tidak berjalan. Karena kita menginginkan dua ini menjadi satu kekuatan maka dua-dua kita gabungkan menjadi satu, pendidikan yang intinya didukung gerakan ekonomi, dan ekonomi didasari kekuatan pendidikan. Itulah maka kami bergerak dalam bidang ekonomi, dari situ kita membiayai pendidikan.
Apakah dengan pertanian dan peternakan tadi?
Kita memiliki produk pertanian, kita memiliki produk peternakan, kita memiliki fabrikasi-fabrikasi, perkayuan, dan lain-lain. Dari situ kita bisa mendapatkan keuntungan-keuntungan, dan kita masukkan dalam kegiatan pembangunan pendidikan. Semua kegiatan tadi juga merupakan pendidikan untuk anak didik.
Apakah ini organisasi nonprofit?
Organisasi nonprofit penuh, karena ini hanya sebuah yayasan. Kita memberikan subdsidi kepada pelajar.  Kita mengambil biaya dari pelajar itu hanya 12 persen dari biaya untuk enam tahun, atau hanya sekitar seper enam saja, selebihnya dibiayai yayasan kita.
Walaupun Al-Zaytun mepunyai  kegiatan bisnis tapi fokusnya adalah sosial?
Profit yang didapatkan melalui bisnis untuk dimasukkan pada bantuan sosial pelajar, full untuk membiayai pendidikan.
Apakah  yang dilakukan Al-Zaytun ini unik?
Ya, memang banyak orang menganggap ini unik, tetapi inilah pengabdian kami terhadap negara.
Yayasan ini adalah yayasan Islam,  apakah betul?
Kami tidak mengatakan ini yayasan Islam, tetapi yayasan pendidikan. Kami muslim, kami mendirikan sebuah yayasan untuk pendidikan, karena Islam itu tidak bisa dibuat sebuah yayasan, yang  bisa membuat yayasan bukan Islam tetapi muslim. Harus dibedakan.
Tadi malam ketika Syaykh berbicara dengan anak-anak, Syaykh menanyakan Indonesia milik siapa? Dan salah seorang pelajar mengatakan “Islam”, Syaykh mengatakan itu tidak betul dan menyuruh bertanya pada ayahnya. Pertanyaan saya,  adalah umur  berapa anak kemarin?
Itu baru kelas dua, baru delapan tahun.
Mengapa dia menjawab Islam?
Nah, itu kita belum paham. Tapi kita memahami karena dia hari-hari mengerjakan ajaran Islam, dan dia seorang muslim.
Berarti menurut anak itu Indonesia Negara Islam?
Mungkin pemikiran dia seperti itu.
Syaykh menyatakan Indonesia milik kita semua?
Bukan, tetapi milikku (menunjuk dada). Kita tidak ingin menyatakan Indonesia milik kita, tetapi milikku.
Jadi Syaykh ingin menanamkan kepada anak-anak bahwa mereka orang Indonesia?
Mereka memiliki Indonesia dan mereka orang Indonesia, sebab agama tidak bisa memiliki negara.
Siapa yang bisa memiliki negara?
Rakyatnya, itulah yang memiliki negara, dan itu berbagai-bagai di Indonesia ini ras, suku, agama, dan lain-lain.
Saya paham karena saya dari India juga berbagai-bagai. Untuk orang-orang Amerika tidak bisa memahami tentang perbedaan-perbedaan itu?
Kita memunyai kepercayaan keagamaan itu tidak hanya empat, tetapi macam-macam kepercayaan. Kita memunyai bahasa bukan hanya Indonesia tetapi lebih dari 400 bahasa.
Saya paham Indonesia, sangat menakjubkan memang?
Oleh sebab itu,  kita meyakini apa yang telah digariskan oleh founding father bahwa kita adalah Bienaka Tunggal Ika, Unity in Diversity.
Ada beberapa kritik yang menyatakan bahwa Syaykh tidak melakukan Islam secara benar, seperti dimultimedia, apa komentar Syaykh Al-Zaytun?
Yang menilai benar, atau  tidak benar tentang Islam itu,  bukan manusia tetapi ajaran. Tidak ada yang bisa menunjukkan bahwa ajaran yang kami lakukan di sini menyimpang. Tumbuhnya kritik itu karena kami menampilkan ajaran Islam ini seperti yang dikehendaki ajaran Islam itu sendiri. Kalau berbicara melaksanakan apa yang dibicarakan. Nah, mungkin ada perbedaan di situ sehingga mengatakan kami beda.
Mungkin karena perbedaan pemahaman?
Panjang waktunya untuk memahamkan itu. Dan,  sekarang mulai paham.
Beberapa jurnalis lokal maupun luar negeri menyatakan bahwa sekolah anda bagus.
Terima kasih kalau ada yang mengatakan bagus, dikatakan tidak bagus pun kami terima kasih.
Saya ingin membuat satu head line mengenai Al-Zaytun dan bagaimana komentar Syaykh Al-Zaytun. Jadi head line saya adalah Islamic School for Modern Time ?
Kita memiliki moto yang sama, moto kami pesantren spirit but modern sistem. Mengenai itu kita serahkan pada Anda.
Berikutnya adalah media untuk komunikasi di sini bagaimana ?
Pendidikan di sini mendidik anak dan kami memberikan bahasa Inggris dan berbicara Inggris.
Mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi atau sebagai mata pelajaran?
Sebagai mata pelajaran dan sebagai alat komunikasi.
Apa targetnya setelah anak-anak keluar dari universitas, apakah bisa bahasa Inggris?
Kita tidak terfokus kepada bahasa tetapi kemampuan. Kemampuan anak kalau mereka mengambil pertanian mampu menjalankan nilai-nilai pertanian, namun diberi kemampuan untuk berbahasa Inggris.
Secara umum di Indonesia Pak Panji telah melakukan suatu kemajuan untuk Indonesia. Pertanyaan saya apa yang Anda inginkan untuk Indonesia masa depan?
Kita mengubah Indonesia tidak harus di Jakarta, karena Indonesia ini luas, maka kami memilih tempat yang paling tidak disukai orang, tetapi kami bangun menjadi yang disukai banyak orang, dan inilah cara kami membangun Indonesia.
Apa tantangan besar yang dihadapi Indonesia sekarang?
Belum berani hidup mandiri.
Tapi Indonesia merupakan negara yang kaya?
Itulah makanya kami membuat pendidikan, agar mereka yakin bahwa memiliki kekayaan. Sekarang mereka belum yakin bahwa Indonesia kaya, sehingga belum bisa hidup mandiri.
Jadi jalan untuk mencapai hidup mandiri adalah pendidikan?
Saya yakin itu.
Sistem yang dilakukan di sini unik, berbeda dengan pendidikan di luar, apakah itu yang akan diubah?
Kita mengubah Indonesia tidak harus seluruhnya diubah, tetapi harus menciptakan manusia yang bisa mengubah sehingga nanti mereka menjadi pemimpin, dan pemimpin itulah yang akan mengarahkan rakyat ini. Sebab kalau kita menunggu semua diubah,  itu tidak mungkin. Seperti kita memanen pisang,  tidak boleh menunggu semua masak di pohon, satu ada tanda sudah kita tebang.
Menurut Syaykh apa yang dilakukan di luar itu perlu tidak direformasi?
Kita perlu mengubah itu.
Apakah sudah melakukan suatu sharing dengan Menteri Pendidikan atau yang lain?
Sharing kami seperti ini, kita melaksanakan pendidikan seperti ini kemudian semestinya baik itu menteri, baik anggota parlemen memberikan penilaian, yang baik mereka ambil yang tidak baik mereka koreksi.
Apa keinginan yang lebih besar untuk Indonesia?
Untuk Indonesia, kita memunyai keinginan Indonesia harus kuat. Untuk murid-murid yang dari luar Indonesia,  kita tanamkan agar negaramu menjadi kuat. Tatkala masing-masing negara kuat maka kita saling mampu hidup interdependent.
Apakah ada usaha menarik murid-murid dari luar negeri masuk ke sini?
Kita tidak menarik tetapi kita menawarkan pendidikan ini, jadi terbuka siapa saja yang datang,  boleh datang. Kita tidak membatasi agama, suku bangsa dan lain-lain, untuk seluruh umat manusia.
Tadi jalan ke sini rusak, maka perjalanan kami agak lama.
Kalau ada pendidikan seperti ini kami buatkan jalan yang sangat bagus.
Saya juga akan membangun airport. Jalan layang juga jika sekolahnya seperti ini.
Karena kami hanya pemimpin sekolah kami tidak membangun jalan, kami membangun jalan di dalam lingkungan sekolah.
Tadi saya bertanya Pak Halim,  bagimana menemukan tempat ini, sekarang saya bertanya kepada Syaykh?
Karena di tempat lain tidak menemukan. Kaitannya karena jengkel, sudah menemukan tempat tetapi gagal, maka kita berjalan ke timur dan tidak kembali ke Jakarta sebelum mendapatkanya, akhirnya menemukan tempat ini.
Apakah Anda merasa puas dalam jalur ini?
Jalur pendidikan tidak boleh merasa puas. Arah pun tidak boleh cepat puas dengan arah yang ada, sebab kehidupan ini kadang-kadang ada arah yang harus diubah. Direction itu sewaktu-waktu bisa diubah, kadang-kadang. Sebab kalau kita merasa puas dalam segala hal itu kita bisa menubruk apa yang di depan kita.
Tantangan apa yang paling besar yang dihadapi sekarang?
Masa depan.
Apa karena tidak ada kepastian masa depan?
Tantangan itu bukan karena ada kepastian dan tidak ada kepastian, tetapi bagaimana kita bisa menerobos masa depan dengan baik karena perubahan masa depan itu sangat cepat.
Bagaimana kesulitan merekrut tenaga ke sini?
Selama ini tidak ada kesulitan, andainya ada kesulitan tidak berjalan ini. Kami ajak mereka mau. Kami hanya bermodalkan pemikiran, kita tawarkan ide-ide kepada mereka dan senang dengan ide itu, kemudian menerima. Kita ajak datang ke sini bekerja bersama-sama, akhirnya Anda yang dari Thailand juga ke sini. Maka kami bertanya mengapa Anda mau datang ke kampung yang jauh ini?
Sebab Al-Zaytun ini unik.
Padahal Anda belum mengetahui  sebelumnya?
Jadi kami sudah melakukan riset sebelumnya, maka kami ingin tahu lebih dalam.
Kawan-kawan yang mengajar di sini pun mungkin juga mengadakan diskusi dalam dirinya. Sesungguhnya ide-ide yang bagus bila ditawarkan kepada siapa pun tidak susah, walaupun tidak banyak yang menerima ide bagus itu. Maka yang menerima itu sama baiknya dengan ide baik.
Tidak semua hal bisa diterima semua orang?
Maka tidak banyak yang mau ke sini tetapi ada yang datang. Kami tidak ragu menjalankan sesuatu yang baik, sekali pun tidak banyak orang yang menerima, tetapi kami yakin satu saat akan banyak yang menerima.Z












BAB II



Wawancara-Wawancara

 Dengan


Stasiun Televisi






23. NOS-Television The Netherland:

Mimpi-Mimpi Syaykh A.S. Panji Gumilang


S
tephanie Vaessen, Kepala Biro Asia Tenggara NOS-Television The Netherland  didampingi Claresta Gianina (reporter), datang meliput kegiatan di Ma’had Al-Zaytun Kamis hingga Jum’at  (8-9/ 5/03). Menurut Stephanie peliputan ke Ma’had Al-Zaytun akan menjadi tayangan eksklusif mengenai perkembangan Islam di Indonesia. “Sejak terjadi peristiwa WTC, 11 September—banyak orang ingin mengetahui apa sebenarnya Islam itu,” katanya.
Karena itu televisi Belanda membuka bironya di Asia Tenggara dan mengikuti perkembangan di negara-negara Islam. Stephanie telah bertugas selama 6 tahun di Indonesia. Dan kedatangan ke pesantren bukan yang pertama kalinya, karena sebelumya sudah beberapa kali  berkunjung  ke pesantren di antaranya Pesantren Tebuireng, Jawa Timur. Bahkan lebih dari 10 pesantren di Jawa telah dikunjunginya.
MAZ menurut Stephanie akan ditayangkan dalam tanyangan khusus mengenai “Dunia Internasional” dalam durasi antara 8-10 menit berupa feature.
NOS yang merupakan televisi nasional Belanda yang berdiri sejak tahun 1956 ini,  TV ini cukup beruntung: karena diberikan akses ke berbagai tempat, termasuk meliput qobliyah Jum’at hingga shalat Jum’at. Dengan berkerudung warna krem dan berbaju hitam berlengan panjang, Stephanie juga diijinkan memasuki Masjid Al-Hayat untuk meliput jama’ah shalat dan zikir Jum’at. Stephanie juga  berkesempatan berbincang-bincang dengan Syaykh al-Ma’had  selepas Shalat Jum’at di ruang khas Imam Masjid Al-Hayat.
Seusai makan siang, wartawati yang merangkap jadi kameraman ini, sempat berkeliling ke seluruh kompleks dan meliput kegiatan santri. Kunjungan ke seluruh kompleks dipandu oleh H. Imam Supriyanto.
 Berikut ini kutipan wawancara NOS dengan Syaykh Al-Ma’had yang mengambil lokasi wawancara sekaligus shooting di depan Gedung Ali bin Abi Thalib. Pimpinan Ma’had saat diwawancarai duduk di atas kursi betawi, di bawah pohon mangga yang rindang dan sejuk, disaksikan oleh eksponen Yayasan: KH. Syarwani, H. Abu Tsabit, Ust. Abdul Halim, Ust. Abdullah Al-Hayy, Dr. Dani Kadarisman dan H. Imam Supriyanto:

Bapak bisa sebutkan nama dan posisi Bapak?
Saya punya nama A.S. Panji Gumilang. Dan A.S. itu kalau dipanjangkan Abdus Salam Panji Gumilang.

Dan posisi Bapak?
Pimpinan Ma’had Al-Zaytun Indramayu Indonesia.

Bapak bisa jelaskan konsep Al-Zaytun?
Al-Zaytun adalah sebuah lembaga pendidikan yang didirikan oleh Yayasan Pesantren Indonesia. Mempunyai maksud menyambung peradaban ummat manusia,  agar tidak terputus, melalui pelaksanaan pendidikan yang bisa melanjutkan peradaban manusia yang dimaksudkan tadi. Kemudian, karena peradaban manusia ini harus dijaga kelanjutan dan kelanggengannya maka anak didik di Al-Zaytun ini kita harapkan menjadi manusia yang toleran, yang cinta ilmu dan juga penuh kedamaian dalam hidupnya. Karena peradaban harus ditempuh dengan jiwa toleran dan dengan kedamaian yang tinggi. Itu awal daripada maksud didirikannya Ma’had Al-Zaytun. Kemudian cita-citanya tentunya sebagaimana  lembaga pendidikan lainnya adalah ingin bersama-sama bangsa yang lainnya untuk mencerdaskan bangsa. Maka tujuan Ma’had Al-Zaytun adalah: membawa pada anak didik ini, ke arah kecerdasan. Kemudian ke arah  kepada kemampuan menjadi manusia yang bajik dan bijak menguasai sains dan teknologi, cinta negaranya selanjutnya menjadi manusia yang mampu bergaul antar bangsa.

Tadi Bapak bilang mungkin sedikit kecewa dengan sistem pendidikan di Indonesia. Di Al-Zaytun Bapak punya rencana untuk pendidikan yang lebih baik ?
Saya tidak mengatakan kecewa dengan sistem pendidikan yang ada. Karena di Indonesia ini sudah masuk pada era demokrasi maka setiap inspirasi yang tumbuh dari para pendidik itu harus direspon oleh lembaga negara ini. Kemudian kami sebagai salah seorang daripada sekian banyak manusia yang berkecimpung dalam pendidikan ingin menyampaikan hal-hal yang lebih baik dari apa yang telah kita lakukan bersama di negeri ini. Karena negeri ini mempunyai sejarah yang bagus tentang pendidikan. Kita telah pernah modern di awal-awal kebangkitan bangsa Indonesia ini. Dalam pendidikan kita pernah mengalami jaman modern. Namun, setelah berjalan sekian lama kita tidak dapat mempertahankan kemoderenan pendidikan itu dan pencapaian yang dimaksudkan.

Bapak punya mimpi besar mengenai pembangunan gedung yang dibanggakan. Dan saya dengar akan dibangun di seluruh Indonesia. Bisa dijelaskan mengenai mimpi-mimpi itu?
Ya. Kalau dikatakan ini mimpi memang dunia ini harus diawali dari mimpi. Nabi Yusuf  pernah mimpi bagaimana menata negeri Mesir sehingga mimpinya itu diwujudkan. Dan setiap perbuatan harus diawali dengan khayal yang indah ini. Kemudian baru digambarkan khayal itu dalam suatu gambar yang indah baru dipraktekkan dalam bentuk karya nyata. Halnya dengan Al-Zaytun kita menginginkan bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang besar seperti dalam sejarah masa lalunya. Katanya bangsa Indonesia ini pernah besar dan kita akan kembalikan menjadi bangsa yang besar melalui pendidikan, bukan melalui peperangan. Ini mimpi dan cita-cita saya. Untuk pendidikan ini, karena Indonesia ini begitu luasnya. Terdiri dari berpuluh-puluh ribu pulau dan provinsinya pun sekarang 33 propinsi adalah layak jika mimpi pendidikan ini disebarkan ke seluruh provinsi atau daerah di Indonesia ini. Jadi seperti itu mimpinya.

Dan mimpi itu bisa dijelaskan apa khususnya, mau membangun dimana-mana di Indonesia apa di Luar Negeri, bisa dijelaskan?
Kita ingin di seluruh Indonesia ini ada pendidikan yang modern dalam makna yang mampu menjawab kekinian dan mampu membaca masa depan. Karena itu sekarang paradigmanya sudah begeser dari industrialisasi menjadi jaman komunikasi. Dari ekonomi nasional menjadi ekonomi global dan sebagainya. Itu semua sudah berjalan, maka hal ini harus ditanggapi dengan serius dan direpon dengan serius melalui pendidikan.
Di seluruh provinsi di Indonesia 33 provinsi, katakan Jawa (timur, Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat dan  Jakarta) sampai Sumatera dari Aceh sampai Lampung. Kemudian Kalimantan dari Balikpapan sampai Samarinda. Kemudian Sulawesi dari Manado sampai Makasar dan sebagainya kita ingin bangun semuanya. Dan kita ingin bekerja sama juga dengan negara-negara lainnya. Pada ketika ini kita sudah bermimpi untuk mendirikan Al-Zaytun American University yang kurang lebihnya mungkin nanti kalau Allah mengizinkan kita buka kerjasama  dengan negeri bagian Texas, satu diantaranya. Sangat boleh jadi kalau nanti kita melanglang buana ke Negeri Belanda, kita bisa berhubungan dengan masyarakat Belanda, kita buka Al-Zaytun di sana dan pemerintah Belanda mengijinkan, sangat boleh jadi kita akan buka di sana. Dan di tempat-tempat lain yang memungkinkan untuk bekerja sama di bidang pendidikan.

Dan apa harapan Bapak untuk Santri Ma’had Al-Zaytun bila mereka sudah besar nanti?
Kita harapkan mereka mempunyai pemikiran antar bangsa, mempunyai solidaritas antar bangsa dan mempunyai tatanan hidup antar bangsa. Karena dunia hari ini semakin kecil. Dahulu orang tua mengatakan dunia tak sedaun kelor. Sekarang orang tua berbalik mengatakan dunia lebih sempit dari daun kelor. Begitu kata peribahasa Jawa.

Tapi menggunakan sistem agama, pendidikan agama di sini Pak?
Kami tidak mengatakan di sini pendidikan agama. Karena agama dan bukan agama itu harus masuk dalam proses pendidikan. Jadi di sini namanya pendidikan bangsa, pendidikan umat manusia. Karena agama itu harus dihayati dan dipraktikkan maka include di dalamnya ada pendidikan agama. Kami tidak mengatakan di sini pendidikan agama, tapi pendidikan umat manusia. Yang spiritnya pesantren, pesantren itu cirinya adalah mandiri, sanggup hidup tanpa bantuan apapun. Kemudian cinta ilmu dan rajin. Spiritnya kita ambil namun kita pakai sistem yang modern. Mampu menjawab tantangan hari ini dan esok.

Tapi ini khusus untuk muslim?
Kami tidak khususkan untuk bangsa Indonesia, bangsa-bangsa lain yang mau datang kemari.

Tapi ada harapan Bapak, untuk khusus memajukan umat Islam?
Kami tidak mengatakan seperti itu, kami ingin memajukan bangsa Indonesia. Dan dalam sejarah bangsa Indonesia ini mayoritasnya Islam.

Ya, jadi?
Untuk memajukan bangsa Indonesia. Tapi dalam kenyataannya Indonesia ini dihuni oleh umat Islam begitu banyaknya maka akan terkenalah bangsa Indonesia muslim dan lain sebagainya.

Tidak di khususkan maksud Bapak ?
Tidak di khususkan. Namanya  saja Al-Zaytun. Tatkala manusia akan menciptakan manusia disebut at-tin, az-zaytun baru diciptakan manusia. At-tin  dan Al-zaytun itu lambang Nabi Isa. Turisinin lambang Nabi Musa. Al-Balad al-amiin lambang Nabi Muhammad dijadikannya kita campur membaik.

Tujuan Bapak mengenai masa depan Indonesia ?
Kami ingin Bangsa Indonesia ini must be strong mampu mampu mengusai apa yang di Indonesia ini dengan jujur dan adil untuk rakyatnya. Kemudian pembangunan pedesaan ini berjalan dengan baik melibatkan seluruh unsur bangsa dan bangsanya menjadi santun. Itu yang kita inginkan masa depannya.

Jadi dalam sistem yang sekarang ini,  sistem pancasila?
Di Indonesia ini diberi sistem apapun bila tidak dijalankan tidak dengan konsekuen tidak bisa berjalan. Sistem yang anda sebutkan tadi jika tidak konsekuen tidak berjalan. Sistem Islam pun bila tidak konsekuen juga tidak berjalan. Jadi disini perlu sikap jujur dan adil dalam memimpin bangsa ini dan dalam meletakkan perjalanan bangsa ini.

Jadi sekarang sistem masih Pancasila, apakah itu harus ditetapkan?
Kita tidak bicara harus ditetapkan dan tidak ditetapkan. Karena bangsa Indonesia ini sudah masuk dalam alam demokrasi. Apa inginnya bangsa itu nanti yang akan dijadikan pegangan. Dan hidup berdemokrasi memang susah, perjalanannya panjang, rumit.  Tapi itu nanti yang menjadikan ketentraman bangsa ini. Saya yakin seyakin yakinnya Indonesia akan mampu hidup berdemokrasi dengan baik.

Bapak juga bermimpi mengenai Indonesia menjadi Negara Islam?
Semua orang Islam itu memiliki mimpi-mimpi seperti itu. Tetapi didalam kaitannya berbangsa dan bernegara kita mempunyai toleransi yang tinggi. Kita libatkan seluruh bangsa ini, karena kita ini kulturnya multikultural. Kita tidak bisa berbicara satu kultur saja di Indonesia.

Dan lewat mana, Indonesia berhasil menjadi Negara Islam?
Saya tidak mengatakan dan tidak menjuruskan kepada apa yang anda pertanyakan. Tapi bangsa Indonesia ini masuk dalam alam demokrasi. Demokrasi itu apa kata rakyat itulah akan menjadi pegangan.

Jadi bisa lewat jalur demokrasi itu ?
Saya tidak mengatakan Anda tentang Negara Islam lewat demokrasi, tidak. Tapi orang mimpi boleh jadi. Dan kehidupan seperti itu boleh jadi karena di negara Indonesia adalah negara demokrasi.

Kenapa Bapak mimpi mengenai Negara Islam?
Saya tidak mimpi seperti itu. Saya sebagai seorang muslim rasanya pantas kalau kita berbicara tentang Islam.

Tadi Bapak katakan di Indonesia banyak orang termasuk Bapak mimpi mengenai Negara Islam?
Saya tidak berbicara termasuk saya, banyak orang mimpi seperti itu.

Tapi Bapak kan Muslim?
Mungkin. Toh kan tidak semua orang Islam memimpikan seperti itu.

Tapi Bapak mimpi atau tidak?
Bangsa Indonesia ini pernah mimpi seperti itu. Ada yang pernah mimpi seperti itu.
Dan sekarang?
Sekarang Indonesia seperti ini.

Jadi sudah tidak mimpi mengenai Negara Islam?
Mimpi tentang negara Islam kita tidak boleh tanya kepada orang per orang. Harus ditanyakan pada bangsa Indonesia. Karena Indonesia sudah mulai masuk kepada alam demokrasi.

Tapi menurut Bapak mayoritas setuju tentang Negara Islam?
Itulah yang belum kita dipahami karena demokrasinya belum pernah dipertanyakan. Andaikan sudah dimulai dipertanyakan dan rakyat suruh menjawab baru boleh kita jawab besar atau kecil kemauan rakyat.

Bagaimana mau tanya kepada rakyat mengenai hal itu?
Ya tentang Pemilu toh? Karena syarat demokrasi itu adanya pemilihan umum.

Tapi menurut saya belum ada hal seperti itu dalam pemilu mendatang?
Karena tidak ada berarti belum dipertanyakan. Karena tidak dipertanyakan persoalan itu tidak menjadi persoalan bangsa.

Jadi sekarang ini tidak ada isu seperti itu menurut Bapak?
Saya tidak mendengar isu politik seperti itu.

Ada orang bilang Bapak sudah menjadi Presiden Negara Islam di Indonesia ini, benar ?
Mungkin melihat seperti ini terus dikatakan presiden, he…he…he…

Jadi Bapak sudah  jadi presiden?
Siapa yang mengatakan itu yang harus ditanya, jangan bertanya kemari.

Tapi perasaan Bapak sendiri?
 Lha wong, belum pernah dipilih melalui pemilihan umum.

Jadi tidak?
Anda tengok sekarang di sini. Tadi saya katakan pemimpin Ma’had Al-Zaytun mengapa harus bilang presiden. Kalau Presiden Ma’had Al-Zaytun karena presiden itu adalah pemimpin, bahasa Indonesianya presiden, bahasa arabnya ra’is. Presiden Pesantren Ma’had Al-Zaytun.

Bapak tidak punya masyarakat di luar Al-Zaytun?
Masyarakat Indonesia. Masyarakat kita ini masyarakat Indonesia.

Tapi Bapak memimpin mereka?
Memimpin Ma’had Al-Zaytun.

Tapi pertanyaan saya, di luar Ma’had  juga?
Ma’had Al-Zaytun baru ada di sini, kemudian sedikit di Subang dan akan berkembang di Riau.

Jadi Bapak bicara tidak benar, Bapak sekarang Presiden Negara Islam Indonesia?
Bicara tidak benar, maksudnya?

Ya, itu benar atau tidak?
Oh begitu. Anda tanyalah kepada orang yang pernah memberi isu itu. A.S. Panji Gumilang itu Pimpinan Ma’had Al-Zaytun. Sekarang sedang berhadapan dengan Anda ini pimpinan Ma’had Al-Zaytun.

Tapi Presiden Negara Islam Indonesia juga?
Tidak ada isu itu.

Negara Islam Indonesia tidak ada?
Menurut pengetahuan anda sudah ada atau belum? Sekarang ini negara Indonesia dipimpin oleh Megawati.

Kami bicara dengan banyak orang, mereka bilang masuk Negara Islam Indonesia (NII) mereka bilang negara  sudah ada…
Nah itu nanti diskusinya dengan orang yang sudah bilang ada itu. Tidak boleh diskusi dengan A.S. Panji Gumilang. Karena  A.S. Panji Gumilang adalah pemimpin Ma’had Al-Zaytun.

Jadi Bapak tidak mengatakan ada negara under ground…

Sekarang di dalam kehidupan bernegara yang ada negara Indonesia.

Negara Islam Indonesia?

Negara Indonesia. Tidak ada predikat apapun.

Jadi Negara Islam Indonesia belum?

Saya tidak membaca sejauh itu.

Bapak tidak tahu atau...?

Bagaimana?

Bapak tidak tahu atau…?

Kalau perjalanan sejarah bisa dibaca di sejarah-sejarah karena kami juga mengajarkan sejarah di Ma’had Al-Zaytun. Seperti sejarah tentang adanya pemerintahan sebelum Indonesia dan bangsanya dan setelah Indonesia dan bangsanya memerintah.

Tapi sejak tahun 1949 sudah ada Negara Islam Indonesia?

Dulu juga ada negara Pasundan, ada negara Jawa Timur, juga ada Negara Sumatera. Juga ada negara Hindia Belanda, kalau cerita masa lalu. Cerita hari ini adalah Indonesia hari ini.

 

Tanpa Negara Islam Indonesia?

Hari ini Indonesia hari ini.

Besok?

Besok tergantung rakyat, karena demokrasi.

Tapi Bapak berjuang untuk itu?

Saya berjuang untuk pendidikan Indonesia dan untuk umat manusia.

Bukan berjuang untuk Negara Islam?

Untuk pendidikan Indonesia dan umat manusia untuk menyambung peradaban umat manusia.

Tapi mengapa Bapak tidak boleh mengatakan berjuang untuk negara Islam karena banyak orang di Indonesia berjuang untuk itu kan?
Ya itu namanya orang per orang jangan harus dipersamakan. Kita tidak boleh menyamakan kalau orang mau A, kita pun harus A, tidak boleh. Itulah namanya hak individu untuk berjalan menuju kebaikan. Masing-masing punya jalan.

Tapi kalau Bapak dengar berita mengenai hal itu bahwa Bapak sebagai presiden Negara Islam Indonesia dan orang bilang seperti itu, Bapak…?
Saya lebih suka bicara pendidikan dari pada bicara politik.

Kenapa Pak?

Karena saya seorang pendidik.

Bukan orang politik?

Politik mungkin saja karena pendidikan juga politik, tapi saya sebagai pendidik. Tempat tinggalnya pun di kompleks pendidikan. Alamnya pun alam pendidikan. Sahabatnya pun sahabat pendidikan. Jadi saya lebih interes berbicara soal-soal pendidikan

Tapi Bapak punya ambisi untuk menjadi presiden?

Kalau setiap manusia itu ada saja menginginkan menjadi pemimpin. Paling tidak pemimpin di rumahnya sendiri.

Tapi di luar rumah sendiri ?

Itu serahkan saja pada  bangsa karena kita ini mempunyai mekanisme di dalam menentukan kepemimpinan.

Tapi kalau melihat Al-Zaytun kayaknya ya negara, karena semuanya ada di sini, bisa hidup mandiri di sini. Betul tidak?
Kalau hidup mandiri siapa saja bisa asal mau.

Jadi keinginan Bapak Al-Zaytun bisa hidup mandiri?
Kenyataannya sekarang anda lihat seperti apa?

 Sudah seperti itu.
Terima kasih. Karena pesantren itu harus mandiri. Karena kalau tidak mandiri tidak bisa hidup itu pesantren, karena tidak ada yang menyumbang.

Tapi menurut Bapak itu tidak negara kecil?

Oh, tidak. Tidak ada negara di dalam negara. Dimana ada negara di dalam negara? Di  negara Belanda pun tidak ada.

Tapi mungkin di Indonesia ada?

Di Indonesia tidak ada. Negara di dalam negara tidak ada.

Tapi menurut sumber saya, menurut mereka  Negara Islam sudah punya kabinet, sudah punya presiden dan seterusnya?
Berdiskusilah dengan isu itu. Kita di sini lebih interes berbicara pendidikan.

Jadi Bapak membantah itu?

Saya tidak membantah dan tidak mengiyakan. Karena profesi saya pendidik.

Tapi juga mempunyai profesi yang bersembunyi lain?

Nah sekarang anda tengok. Anda sudah berhadapan dengan A.S. Panji Gumilang langsung. Dan apa yang dibuat oleh A.S. Panji Gumilang di sini jawablah dengan apa yang ada ini, mestinya seperti itu.

Tapi Bapak punya agenda lain, agenda politik?

Agenda politik, kalau seorang pendidik agenda politiknya adalah mempersiapkan anak didik ini supaya hidup bermasyarakat dengan baik, itu politik yang paling indah.

Tapi politik seperti mau jadi Presiden Negara Islam Indonesia ?

Anda sejak tadi bicaranya Presiden Indonesia atau Presiden Negara Islam Indonesia. Di Indonesia ini mempunyai mekanisme untuk mengangkat presiden. Mekanisme harus dari partai, Al-Zaytun tidak partai, Al-Zaytun pendidikan.

Jadi Bapak tak pernah bisa ikut pemilu?

Ikut tiap tahun

Maksud saya sebagai calon presiden?

Begitulah karena saya seorang pendidik yang tidak berpartai. Kalau saya harus berpartai, tidak ada  yang dididik nanti. Karena saya hanya mendidik orang partai saja.

Bapak tidak mau dicalonkan?

Tidak ada yang mau mencalonkan he…he…he…Jangan pernah menjawab sesuatu yang tidak pernah dibuat orang maupun oleh dirinya.

Sekarang ini di Indonesia mungkin siapa saja bisa dicalonkan, tapi Bapak tidak mau ikut pemilu?
Tidak punya partai.

 

Mau punya partai?

Pendidikan saja sudah cukup. Karena pendidikan nanti dicintai oleh bangsa Indonesia secara keseluruhan. Kalau sudah partai dipilih oleh pendukung partai itu saja.

Tapi saya pernah baca, Bapak bilang sistem di Indonesia belum final, apa maksudnya?
Seperti Pendidikan saja belum final.

Maksudnya sistem negara?

Yang namanya negara demokrasi tidak ada yang final setiap saat bisa berubah. Itu demokrasi.

Tapi bisa menjadi Negara Islam?

Jangan dipertanyakan negara Islam, negara komunis. Negara demokrasi itu membuka kehendak masyarakat.

Tapi mungkin Bapak berkehendak menjadi Negara Islam dari pada negara komunis?
Sekarang sudah menjadi negara Indonesia jangan diberi embel-embel lainnya.

Jadi?

Indonesia.

Tapi belum final kata Bapak tadi?

Final dan tidak final itu rakyat yang menentukan.

Tapi kenapa Bapak merahasiakan keinginan Bapak?

Kami tidak pernah merahasiakan. Kalau saya rahasiakan tidak pernah saya bangun ini. Inilah tanda hati A.S. Panji Gumilang membangun bersama kawan-kawan. Ini bukan rahasia lagi, kalau Anda mengatakan rahasia bermakna anda tidak bisa membaca yang nyata ini. Inilah yang dibangun Panji Gumilang dan sahabat-sahabatnya adalah pendidikan.

Stephanie Vaessen dan Clarista sedang mewawancarai Syaykh A.S. Panji Gumilang yang mengambil tempat di halaman Kampus Gedung  Ali Ibn Abi Thalib

 

 

Tapi ini cuma sekolah atau pusat untuk Negara Islam nantinya ?

Anda bisa melihat tema yang di depan sana “Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi dan Budaya Perdamaian.”

Ini bukan Ibu Kota Negara Islam?

Kita sudah mempunyai ibu kota yang bernama Jayakarta, Jakarta.

Jadi Al-Zaytun tidak ada?

Al-Zaytun ada.

 

Ibu kotanya?

Ibu Kotanya adalah Jakarta.

Tapi ada orang bilang ini Madinah?

Madinah itu adalah kota, setiap orang boleh membuat kota, Jan Pieterzoen Coen membuat kota Betawi. Mengapa A.S. Panji Gumilang membuat kota Al-Zaytun tidak boleh?

Jadi ini kota?

Anda tengok saja kami ingin membuat tata kehidupan seperti kota.

Ibu Kota Negara Islam Indonesia?

Jangan dibawa terlalu jauh. Itu terlalu jauh. Orang membuat kota dibilang ibu kota.

Tetapi saya pernah baca juga Bapak punya rencana tahun 2020, kalau saya tidak salah untuk membangun sistem baru di Indonesia?
Akibat dari pendidikan yang terarah, besok anak didik akan menciptakan sesuatu yang baru. Itu pasti. Belanda mendidik bangsa Indonesia sejak 1901 dengan bagus lahirlah Soekarno, lahirlah Bung Hatta, lahirlah Mr. Syahrir lahirlah Syarif Syafrudin Prawiranegara. Itu namanya Belanda mampu mendidik bangsa ketika itu. Lha kalau sekarang Al-Zaytun mendidik putra-putri Bangsa Indonesia lantas mereka sudah menjadi cerdas lantas mereka menginginkan sesuatu yang lebih baik dari yang telah ada itu namanya kemajuan.

Dan apa kemajuannya nanti?

Kemajuannya ya cerdas, bajik jiwanya dan bijak sikapnya sains teknologinya bagus cinta negara dan bisa hidup antar bangsa.

Bapak melihat contoh di negara lain?

Kalau contoh namanya menjiplak. Kita ini mencoba membuat sesuatu made in Indonesia, gaya Indonesia.

Yang baru?

Bukan baru, meneruskan perjalanan sejarah peradaban bangsa Indonesia bersama Belanda dulu, bersama yang lain-lainnya dan jaman sekarang dipadukan. Jangan pernah dipisah-pisahkan.

Jadi bukan revolusi, hanya melanjutkan saja?

Revolusi itu  haddam bana’ kata orang Arab. Menghancurkan dan membangun, disini tidak usah dihancurkan. Dilestarikan dan majukan.

 

Tapi hasilnya sistem yang lain?

Tentunya itu punya hasil. Siapapun akan mempunyai hasil dalam usahanya.

 

Bapak pakai sistem yang lama, yang baru atau sistem pendidikan?

Itu serahkan karena kita tidak boleh mengajak bangsa ini seperti hari ini. Jadilah seperti dijamanmu nanti wahai anak-anak didik. Sekarang dididik diberikan ilmu, diberikan cara berteknologi. Dan jadilah kamu di jamanmu. Rasanya Bangsa Belanda dulu tidak mau memberikan pendidikan modern kalau hanya menelorkan Sukarno Hatta, begitu tho, ha…ha…ha…

They would never have to educate, if Soekarno be come. Ya ya, jadi Bapak nanti akan menghasilkan siapa. Maksud saya ada, nanti siapa yang akan dibangun disini?
Bangsa Belanda tatkala mendidik Indonesia tidak pernah bermimpi kalau Soekarno-Hatta itu akan menghalau pemerintahan Belanda. Jadi tidak pernah ada orang yang memimpikan itu. Kecuali kalau negara Indonesia ini negara kerajaan bisa putra mahkotanya dihitung mulai hari ini.Kita ini republik, serahkan rakyat. Rakyat mau memilih siapa itu yang jadi.

 

Jadi kemungkinan nanti pemimpin baru maju dari  Ma’had Al-Zaytun?

 Saya tidak mengatakan seperti itu, tapi bangsa Indonesia yang terbaiklah yang akan dipilih menjadi pemimpin kelak. Nah, kelak seperti itu maka kita harus mempersiapkan menjadi bangsa yang bisa terbaik.

 

Di Al-Zaytun?

Lho, saya di sini masak saya harus membuat di  Netheland sana. He…he…he…

 

Seperti juga saya baca, itu mimpi Bapak juga?

Iya boleh toh…

 

Tapi bisa dijelaskan?

Itu tadi, saya sudah jelaskan.

 

Tapi terlalu banyak mungkin terlalu abstrak ?

Itu namanya kehidupan berbahasa. Namanya sastra itu di situ. Kalau orang tanpa sastra itu kaku. Seperti Jerman dulu kaku dor…dor… serang saja. Karena sastranya kurang tinggi. Karena orang Belanda sastranya tinggi bisa lama tinggal di Indonesia.

 Tapi bisa Bapak jelaskan dari Al-Zaytun nanti pasti lahir pemimpin baru di Indonesia?
Saya yakin. Kami yakin seperti itu karena kami mendidik untuk menjadi pemimpin atau menjadi manusia yang bagus pada jamannya.

 

Jadi presiden baru dari sini?

Lho pemimpin itu tidak harus jadi presiden saja.

 

Dalam sistem politik Islam?

Politik itu jangan dikatakan politik Islam, politik kafir, jangan. Dalam politik umat manusia. Politik umat manusia dalam menyiapkan kader untuk menjadi kader yang baik. Nanti serahkan umat manusia yang ada di sini. Apakah ingin memilih presiden yang baik, apakah memilih presiden yang jelek. Dan bangsa yang sudah maju dengan peradaban yang tinggi dia akan mencari orang yang terbaik diantara mereka.

 

Itu benar Pak, Panji Gumilang itu sama dengan Abu Toto dari NII?

Itu anda membaca buku. Jadi datang ke sini membaca buku dulu makanya jadi seperti ini. Coba kalau anda datang ke sini tanpa membaca buku yang macam-macem itu, Anda akan lebih bagus lagi pertanyaannya.

 

Tapi itu benar atau tidak?

Anda dijawab seperti itu masih menanyakan benar atau tidak. Jangan bicara benar dan tidak. Di sini ini tidak hitam putih. Karena kehidupan itu ada pelangi. Ada merah, putih, hijau, biru, kuning dan lain sebagainya. Siapa yang bisa menata kehidupan pelangi ini dia akan menikmati kehidupan yang baik.

 

Jadi Panji Gumilang hasil dari pelangi di Abu Toto?

Lho tidak mungkin, namanya tadi sudah diterangkan. A.S. itu siapa? Yang mengenal kepanjangan A.S. itu baru Stephanie. Karena kami yakin anda dari Negeri Belanda. Anda mempunyai maksud yang baik, maka saya uraikan apa itu A.S. Baru hari ini saya memanjangkan nama A.S.

 

Jadi eksklusive?

Oh… eksklusive ha…ha…ha…

 

Tapi saya mau tanya nama Anda Abu Toto itu?

Tidak ada. Tadi saya katakan A.S. Panji Gumilang, Rasyidi ada Syamsul Alam itu nenek-nenek kita semua.

Bapak pasti kenal cerita mengenai orang menjadi anggota Negara Islam Indonesia mereka harus ngasih uang ke Negara Islam ke Al-Zaytun kepada Bapak Panji Gumilang?
Tidak ada itu. Kalau itu saya jawab tidak ada.

 

Itu kabar bohong ?

Tidak ada. Saya tidak mengatakan bohong dan tidak bohong. Tidak ada.

 

Tapi banyak sekali orang bicara begitu?

Di Indonesia itu seperti itu. Tidak pernah mengakui karya baik yang dijalankan oleh seseorang. Karena yang dia katakan itu baik tapi dia tidak mampu. Perjalanan seperti itu lazim di Indonesia. Saking lazimnya kami tidak mendengar lagi. Kalau itu kita dengar kita tidak bisa membuat seperti ini.

 

Tapi ini dibuat dari uang mereka?

Oh ini uang bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia itu bisa diajak yang baik. Saya tidak pernah mengajak bangsa Indonesia kepada yang jelek. Kalau pada yang jelek belikan bom, ledakkan nah itu bagus mereka. Disini bangsa Indonesia menyumbang untuk membuat seperti ini.

 

Tapi Bapak bisa percaya ratusan orang bohong mengenai hal yang sama?

Saya bisa percaya.

 

Mereka semua bohong?

 Saya tidak mengatakan mereka semua bohong. Itu semua tidak benar.

 

Tapi ada yang benar ada yang tidak?

Yang benar ini. Ma’had Al-Zaytun dibangun oleh Bangsa Indonesia.

 

Tapi NII  mengumpulkan uang untuk Bapak?

Tidak ada.

 

Itu tidak benar?

Tidak ada.
Kami juga mendengar bahwa akan ada Kudeta?
Orang pendidik seperti ini kudeta bagaimana? Kalau kudeta itu kerjaanya hari-hari berlatih senjata. Anda lihat saya ada potongan mau ambil alih kekuasaan, seorang pendidik seperti ini?

 

Saya tidak tahu…

Nah itu lebih bagus yang nggak tahu begitu Ha…ha…ha…

Saya bicara saja yang saya dengar, saya harus cek dan ricek.
O, iya bagus.

 

Tapi menurut Bapak itu semua tidak benar?

Bagaimana bisa kudeta, pendidikannya saja mencerdaskan anak bangsa, orang bajik dan bijak, menguasai sans dan teknologi, mencintai negaranya dan bergaul antar bangsa. Mestinya dengan jawaban ini semua harus memahami.

Tapi sampai MUI, mereka tidak yakin Bapak adalah pimpinan yang bagus?
 Majelis Ulama itu bukan nabi. Itu kumpulan orang-orang yang kualifikasinya juga dipertanyakan.

 

Kenapa?

Ya dipertanyakan. Di mana ada orang pintar mengaku orang pintar. Di dunia ini orang pintar itu tidak pernah mengakui pintar. Dan tidak pernah kumpul di suatu majlis untuk menghukum orang. Yang bisa menghukum orang itu adalah hukum melalui hakim diproses. Itu baru hukum yang benar.Kalau orang menghukum orang itu namanya Anda bisa menamakan sendiri…

 

Tapi menurut saya MUI organisasi yang sangat tinggi di Indonesia?

Kata seseorang tinggi, tapi kalau hasilnya seperti itu. Sesuatu yang tinggi itu harus dinilai dari hasilnya. Orang tidak pernah meneliti, tidak pernah datang kemudian berbicara. Itu tidak tinggi.

 

Tapi mereka bilang Bapak mengajarkan Islam yang aneh-aneh?

Di sini memang aneh. Karena di sini anaknya rajin-rajin, pintar-pintar, hormat sama orang. Anda datang ke sini tidak ada yang melempar tho…? Nah itu yang dianggap aneh karena di Jakarta orang yang aneh-aneh dilempari. Nah itu anehnya. Saya lebih suka dikatakan aneh tapi wujudnya seperti ini. Daripada dikatakan bagus tapi meledakkan bom dan membunuh orang. Umpamanya saya dikatakan orang, itu bagus kerjaannya ngebom. Saya tidak mau. Dan saya juga tidak mau ini kerjaan baik dikatakan jelek. Adapun masih ada saja, silahkan demokrasi.

 

Tapi itu benar sistem Islam Bapak lain dari Islam umum di Indonesia?

 Tidak ada Islam umum tidak ada Islam lain. Di sini mengajarkan Islam.

 

Islam yang mana?

Islam. Islam itu ya Islam, tidak ada Islam yang mana.

Jadi Cuma ada satu?

Ada satu Islam itu. Manusianya banyak, kotanya macam-macam, Islamnya satu.

Tapi mereka bilang ada yang aneh, misalnya di sini harus membayar zakat 20% setiap bulan?
Wah itu, itu namanya orang yang tak pernah bergaul dengan A.S. Panji Gumilang. Anda bergaul sehari saja sudah bisa menyimpulkan.

 

Itu tidak benar?

Anda tengok saja. Orang seperti ini kok membuat maca-macam bagimana?  Itu orang belum pernah bergaul, kalau sudah bergaul tidak akan mengatakan begitu.

Tapi mereka juga kasih rekomendasi untuk pemerintah mereka bilang itu harus mengganti pimpinannya?
Siapa yang mengangkat menjadi pimpinan. Yang mengangkat pimpinan itu kan bukan orang lain. Yang membangun Panji Gumilang dan kawan-kawan. Kemudian yang memeneg sehari-hari Panji Gumilang dan kawan-kawan. Kok ada orang yang akan mengganti, bisa anda simpulkan orang seperti itu apa isi hatinya.

 

Jadi kemungkinannya masih bagus?

Bagaimana?

 

Tidak usah diganti pimpinan di sini?

Pimpinan di sini bagaimana?

Ya, mereka kan merekomendasi ke pemerintah untuk mengganti pimpinannya?
Mereka belum pernah mendanai, mereka belum pernah mengangkat, mereka belum pernah memiliki kok bisa mengganti.

 

Tidak usah?

Bagaimana? Coba anda pikirkan memiliki tidak, mendanai tidak, bersama-sama mendidik tidak, mengapa harus mengganti, apa itu maksudnya?

 

Jadi dari mana Al-Zaytun dapat dana?

Manusia Indonesia itu yang muslim banyak sekali, yang tidak muslim pun banyak. Anda coba hidup di sini satu bulan anda baru tahu. Anda malam ini menginap di mana? Di hotel kan ? Anda pergi nanti di suruh membayar 10 sak semen. Sudah dapat duit dari Stephani.

 

Belum tercukupi?

Iya kalu Cuma satu Stephanie, kalau ada satu juta Stephanie yang nginap di situ. Lumayan toh? Jadi di sini hasil kerja ekonomi untuk gerakan pendidikan, diputar. Kemudian ekonomi akan baik karena manusianya terdidik.

 

Tapi ada dana yang dari keluarga Soeharto?

Kalau dana dari mana-mana boleh masuk. Tadi kan sudah saya tawarkan, Ratu Belanda mari kita buat sebuah asrama, itu yang ada di Belanda sudah di tawari, apalagi yang ada di Indonesia.

Tapi gedung Juliana belum ada kan?
Itulah, karena Ratu Juliana belum pernah datang kemari.

 

Tapi Pak Harto?

Sudah ada yang datang kemari, bangsa Indonesia kan. Soeharto itu kan simbol bangsa Indonesia. Soekarno simbul bangsa Indonesia. Ratu Juliana simbol Hindia Belanda.

 

Tapi tanah ini dulu punya Tutut?

Tanah ini?

Iya.
Ini tanah Al-Zaytun.

 

Tadi sebelumnya?

Ibu Tutut itu nggak kaya nggak apa. Masak punya 1200 ha di tempat seperti ini. Nggak kaya Bu Tutut itu.

 

Kapan Bapak prediksikan nanti sistem Indonesia akan berubah?

Saya tidak memprediksikan waktu. Tapi saya terus mendidik dan mendidik dan mendidik dengan tujuan seperti tadi, sehingga Indonesia: must be strong.

Strong seperti apa?
Ya seperti tadi, bangsanya cerdas, ahklaqnya baik, dia wisdom, dia pintar, dia bisa
hidup berantar bangsa dan negaranya dijaga dengan baik.

 

Dari mana-mana, dari negara lain juga ada di sini ya?

Dari Afrika Selatan ada, Malaysia ada, Australia ada.

 

Tapi dengan Malaysia sedang ada masalah berarti tidak kirim santri lagi?

Ah sekarang sudah banyak calon santrinya sudah puluhan. Itu hanya isu ingin Al-Zaytun ini supaya tidak maju. Kalau Al-Zaytun maju nanti pintar bangsa ini dan jujur dan tidak saling berantem antar bangsa sendiri. Ini kan mau menciptakan perdamaian hidup berdampingan dengan siapa saja.

 

 Tapi siapa di Indonesia yang tidak ingin maju?

Banyak prakteknya tidak menginginkan kemajuan.

 

Bagaimana itu?

Koruptor itu kan ingin bangsa Indonesia maju hakekatnya seperti itu. Tapi kalau ditanya mulut. Oh saya ingin maju bangsa Indonesia kerjaannya korupsi.

Tapi banyak orang di Indonesia mau sistem Islam karena masalah
korupsi, menurut bapak itu juga  solusinya?
Solusinya cerdaskan bangsa, bajikkan bangsa, bijakkan bangsa.

Dengan sistem Islam?

Dengan sistem dunia antar bangsa.

 

Itu saja?

Iya. Sistem dunia antar bangsa itu semua ingin baik. Kristen ingin baik, Islam ingin baik, Hindu ingin baik Budha ingin baik.

Tapi mayoritas di Indonesia tadi bapak bilang Islam?
Nah, jadi orang Islam di Indonesia ingin baik toh? Ha…ha…ha…

 

Saya merasa ada yang di rahasiakan?

Apa yang harus dirahasiakan. Saya sudah membuat begini kok merahasiakan. Kalau merahasiakan jangan membuat apa-apa supaya tidak tampak. Ini membuat sebesar gunung ini kok masih merahasiakan.

 

Tapi  ini jauh dari Jakarta, jauh dari jalan besar?

Hindia Belanda masuk ke Jayakarta, itu melalui Afrika Selatan lewat Tanjung Harapan, perjalanannya berbulan-bulan tidak pernah mengatakan Jayakarta jauh. Saya orang Indonesia masak di sini jauh. Ini negara Indonesia dekat.

 

Tapi jauh dari pusat?

Kalau pusat itu jangan dikatakan jauh sebentar lagi anda akan terkejut. Karena apa? Ada jalan tol yang lewat disini nanti.

Dan sudah ada bandara?
Bandara nanti kita buat supaya dekat nanti. Stephanie dari Den Hag masuk sini lansung.

Tidak stop dulu di Jakrata?

O stop dulu. Tidak boleh nanti oleh Cengkareng. Nanti dikatakan: ini ada subversi dari Belanda kalau tidak stop dulu. Stop tunggu, lapor baru masuk sini.

Masih ada subversi ya ?

Iya ha…ha…ha…Padahal kita sudah bersahabat. Gara-gara Air port nanti dikatakan subversib.

Apa komentar Bapak mengenai subversi misalnya di Aceh?

Ya jangan jauh-jauh, saya ini mendidik di sini dan ingin Indonesia ini satu jangan pecah-pecah. Itu saja.

Tapi ada orang bilang Bapak pemimpin separatis ?

Ya bagaimana separatis gedungnya besar-besar begini separatis. Separatis itu tidak punya apa-apa ingin merebut apa-apa.

Tapi separatis  mungkin di dalam kontek beda juga?

Kalau separatis itu statmennya akan beda. Anda menemukan perbedaan statemen antara A.S. Panji Gumilang persamaannya dengan separatis.

Mungkin punya baju banyak?

Bajunya banyak jasnya saja dengan celananya beda, dengan dasinya beda.

Bapak bukan orang separatis?

Anda tengok orang seperti ini pantas tidak menjadi orang separatis? Orang bilang cinta negaranya dan bangsanya kok separatis. Saya tidak pernah membaca iya dan tidak anda simpulkan kondisi seperti ini itu apa.

Ini ada yang ingin saya tanyakan lagi?

Ini namanya diskusinya pendek, karena dari itu ke itu saja, mestinya lain-lain dong jadi asyik, masak itu lagi-itu lagi.

Mau tambah lagi Pak?

Ya ndak. Jangan  terlalu banyak-banyak siarkan yang baik-baik ha…ha…ha…

Mungkin satu lagi, siapa A.S. Panji Gumilang?

Tadi sudah dijelaskan kok Tanya lagi-tanya lagi. A.S. itu Abdus Salam Panji Gumilang.

Tapi sifatnya?

Sifatnya hamba yang penuh damai dan punya bendera yang terus berkibar: merah putih. Itu makna dari A.S. Panji Gumilang. Panji itu bendera, Gumilang berkibar. Hamba damai Abdus Salam, Panji Gumilang punya bendera yang terus berkibar, apa benderanya? Merah putih.

Mengapa Bapak bangun masjid yang paling besar di Indonesia?

Ya karena belum ada terbesar. Kalau sudah ada yang besar tidak disebut terbesar. Yang lain masih kecil-kecil semua. Sedangkan di sini nanti penduduknya banyak. Murid tahun ke-12 itu kurang lebih 25 ribu, kalau orang tuanya datang berdua sudah 75 ribu, kalau membawa kakek satu sudah 100 ribu. Membawa calon istri atau calon suami satu berarti sudah 150 ribu. Kalau masjidnya kecil nanti shalatnya dimana. Sedangkan kita ini katanya harus beriman kepada Tuhan yang Maha Esa. Siapkan saja masjid.

Tapi lebih besar dengan Istiqlal?

Namanya belum ada yang besar jadi kita buat yang besar dong.

Tapi mengapa mereka mesti tidak suka?

Untuk apa kita ini mesti disukai orang. Kalau jika ini berjalan harus disukai orang, banyak orang yang tidak suka, nggak jadi jalan dong.

Ok, terima kasih banyak…

Iya. Bukan main.

Bukan main?

Stephanie ini luar biasa, baru kali ini ada orang yang bertanya seperti anda ini.

Oh ya?

Iya. Bertanya mengejar-ngejar begitu detail.

 

Maaf…

Oh nggak perlu minta maaf saya senang. Z.
Wawancara TV Channel Newasia dengan Syaykh al-Ma’had.

Islam Bukan Teroris



Sudah kesekian kalinya wartawan dari luar negeri yang meliput Al-Zaytun dan mewawancarai Syaykh A. S. Panji Gumilang. Diantaranya dari The Asian Wall Street Journal, Van Zorge Report, Dr. Andree Fillard Kepala Penelitian Timur Jauh Perancis, Stephanie Vaessen Kepala Biro Asia Tenggara NOS-Television The Netherland dan lain-lainnya. Serta kali ini Haseenah Koyakutty dari TV Channel Newasia tak mau ketinggalan. Reporter TV Singapure ini juga memilih MAZ untuk liputannya tentang pesantren di Indonesia. Khamis, 11 Desember 2003 pukul 20.30-10.30 Haseenah Koyakutty ditemani Kameramen Mohd Khairodin Salleh dan Ass. Kameramen Imam Safi’i dari Televisi Channel Newasia mewawancari Syaykh al-Ma’had A.S. Panji Gumilang di Wisma Tamu Al-Ishlah kamar No 518. Rencananya liputan ini akan ditayangkan Senin depan dan akan masuk acara dokumenter pada akhir tahun di Televisi Channel Newasia.  Sebelum mewawancarai Syaykh al-Ma’had Haseenah keliling komplek MAZ dan mewawancarai beberapa personil Dewan Guru dan Organisasi Pelajar Ma’had Al-Zaytun (OPMAZ) untuk mengumpulkan bahan terlebih dahulu. Saat ditanya wartawan majalah bulanan AL ZAYTUN apa alasannya meliput pesantren yang berada jauh dari keramaian kota ini? Wanita kelahiran Singapure keturunan India ini menjawab:
 “Al-Zaytun merupakan pesantren yang terbesar dan termodern di Indonesia bahkan sudah terngaung (terkenal) di Asia Tenggara”,katanya beralasan.
 “Tapi kami di sini tak merasa seperti itu,”jelas wartawan AL ZAYTUN. 
“Namun kami dan kebanyakan kawan-kawan menilai seperti itu, makanya pimpinan kami mengirim kami ke sini”, jawabnya sambil menyodorkan kartu nama kepada wartawan AL ZAYTUN. Pada waktu pamitan akan meninggalkan komplek MAZ wartawan Singapure yang pandai berbahasa Indonesia ini tak bersedia diwawancarai oleh wartawan majalah AL ZAYTUN alasannya sudah teken kontrak tidak akan diwawancarai tanpa ijin pimpinannya. Namun akhirnya wartawan AL ZAYTUN hanya minta kesannya tentang Ma’had Al-Zaytun dengan melontarkan sebuah pertanyaan.
“Apa yang Anda dengar tentang Al-Zaytun sebelum Anda ke sini dan apa kesimpulan Anda setelah Anda melihat dan berada di sini selama dua hari?”
“Sebelum saya datang ke sini asumsi saya  MAZ seperti yang ditulis orang. Namun setelah saya datang ke sini ternyata semua itu nonsen. Saya tak tahu mengapa orang menulis seperti itu, padahal mereka belum pernah ke sini”, katanya dengan keheranan.
“Apa lagi kami...”kata wartawan AL ZAYTUN menimpali.
Demikian kutipan selengkapnya wawancaranya Haseenah Koyakutty dengan Syaykh A. S. Panji Gumilang dengan bahsa Nusantara (Melayu).

Pak Panji Gumilang, kalau saya orang tua dan saya ada anak mengapa saya harus kirim anak saya belajar ke sini?

 Kalau pertanyaannya itu saya yang harus tanya Anda, mengapa Anda sebagai orang tua menghantar anak  ke mari?

Ya, kalau saya sedang nimbang-nimbang sekolah, jadi bagaimana Bapak bisa bujuk saya untuk kirim antar anak saya ke sini?

Tidak elok kalau orang dibujuk, orang yang ke sini itu sadar dengan sendirinya.

Bagaimana caranya?
Terserah yang bersangkutan, kalau yang bersangkutan sadar memasukkan putra-putrinya ke mari diterimalah oleh Pak Panji Gumilang.

Jadi Informasinya dari mana?


Informasinya banyak sekali, ada dari berita mulut ke mulut, ada dari berita kita punya majalah.
Berita dari mulut ke mulut apa persepsi Al-Zaytun di luar?

Kita tidak mendengar persepsi di luar, yang kita sampaikan yang elok-elok saja, adapun orang punya persepsi tak elok ya terserah mereka.
Jadi kalau persepsi tak elok seperti apa?

Kita tak pernah mendengar yang tak elok, kita dengar yang elok-elok saja asal pandanglah yang cantik supaya hatimu gembira macam itulah.

Jadi yang elok-elok yang Bapak dengar beritanya seperti apa?
Beritanya, mereka datang kemari menyekolahkan anaknya ke mari itulah elok namanya.

Dan selama ini mereka puas?
Kita tidak paham puas dan tidak puas, kita ini pendidik, terkadang anak didik itu ada yang bisa di didik dengan cara ini, ada yang macam itu, jadi kita terus bergerak, berenovasi dalam mendidik.

Mungkin Bapak bisa jelaskan kepada kami, kurikulum  pendidikan di sini?

Kurikulum pendidikan di sini ikut lunas-lunas (aturan) kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan Departemem Agama RI.

 Jadi apakah berimbang antara Pendidikan Nasional dengan Agama?

 Dua-duanya kita cantumkan jadi satu, menjadi seratus peratus (100%) Nasional, Agama pun seratus peratus. Antara ilmu agama dan ilmu bukan agama sama tak berbeda, siapa yang ingin kaya harus belajar ekonomi, ekonomi itu ilmu agama pula, siapa yang ingin menguasai dunia harus diajarkan sain tehnologi itu pula agama, siapa ingin tampil dengan semart itu pun diajarkan dan itupun agama.
Jadi loyalitasnya ke mana ke Negara atau ke Agama?

Loyalitasnya kepada ummat manusia yang diciptakan oleh Tuhan dan itulah Agama.

Jadi menolak pancasila...

Oh, jangan digabung antara pancasila dengan kurikulum tak boleh pertanyaan macam itu, apa hubung kait antara pancasila dengan you punya pertanyaan awal. Pancasila itu dasar negara Indonesia mengapa harus diungkit-ungkit kepada hal perkara itu. Kita menjalankan pendidikan tentunya punya azas.
Jadi apakah Bapak yakin dengan pendidikan nasional ini, santri-santri di sini bisa sepenuh-penuhnya berintegrasi ekonomi global yang akan datang ?
Sebagai pendidik musti yakin jangan pernah mendidik bila tidak yakin. Jadi seorang pendidik bila saja sudah punya keraguan dalam mendidik pasti gagal di perjalanan. Jadi kami yakin anak yang kita didik  ini akan mempunyai kecerdasan yang tinggi, akan menjadi manusia yang bajik dan bijak dan akan menguasai sain tehnologi, akan mencintai negaranya dan akan mencintai ummat sesama manusia di dunia ini.

Apakah mereka bisa cinta toleransi dan perdamaian?
Oh, musti karena kita hidup di sini dengan satu tema Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi serta Pengembangan Budaya  Perdamaian.
Tapi di sini dipentingkan apa, pertama-tamanya apakah cinta negara dulu atau cinta ummat dulu?

Jangan di pilah-pilah, jangan dipisah-pisah dua-duanya harus berjalan simultan harus bersama-sama seperti kita makan.

Jadi pendapat Bapak tidak ada kontradiksi?

Nggak boleh kontradiksi, hidup jangan ada kontradiksi, kita harus selalu menyatukan alam sekitar dengan apa yang kita mau, kita mau dengan alam sekitar mesti disatukan. Kalau kontradiksi semua berbenturan nanti, tak elok itu.
Tadi Bapak bicarakan ada persepsi yang tak elok, bahwa Pesantren Al-Zaytun sudah diinvestigasi oleh Majelis Ulama Indonesia dan mereka menolak ajaran Islam di sini, mengapa begitu?

Tidak ada itu, sama sekali tak ada simpul macam itu, tak ada mereka belum datang kemari yang telah datang ke mari adalah lembaga negara yang syah Departemen Agama, bertanya a,b c, d... kita jawab dan mereka simpulkan di sini tempat pendidikan yang elok. Itu Departemen Agama oleh pemerintah kepanjangan tangan dari Presiden Indonesia.

Jadi MUI belum minta untuk ke sini?

Belum pernah.
Tapi laporannya sudah dikeluarkan.
Itu terserah mereka.

Apakah Bapak akan mengundang mereka datang ke sini?

Untuk apa di undang, siapa yang perlu silahkan datang ke mari, macam you lah. You perlu datang kemari di terima oleh A.S. Panji Gumilang.
Jadi Bapak tidak khawatir, bahwa mereka walaupun tidak datang ke sini ada laporan yang tidak elok?

Sebagai pendidik jangan pernah khawatir mengahadapi perkembangan dunia dan apapun yang kita hadapai.

Tapi mereka ada persepsi di luar bahwa al-Zaytun juga memperjuangkan NII untuk menaikan negara Islam di Indonesia, apakah di sini misinya sejauh itu?

Di sini pusat pendidikan bukan pusat yang lain-lainnya.

Tapi pendidikan untuk membangunkan Negara Islam?

Anda tadi telah disampaikan pendidikan di sini kurikulum adalah Pendidikan Nasional dan Departemen Agama Indonesia.
Mungkin Bapak bisa jelaskan di sini fasilitasnya sangat modern dan bayarannya hanya $ 3000 AS untuk enam tahun itu sangat murah, jadi untuk fasilitas-fasilitasnya dananya dari mana?

You ukur dengan Singapure, di sini diukur dengan kampung yang kecil-kecil, janganlah you timbang dengan Singapure.

Nggak di timbang dengan Singapure ditimbang dengan di Indonesia, lokasinya luas bangunannya besar dan fasilitasnya cukup modern luar biasa dibanding dengan pesantren-pesantren yang lain di Indonesia.

Jangan pernah dibanding-banding mendidik itu tak boleh membanding.
Karena tidak ada pesantren lain seperti ini.

Belum, pasti ada kalau sudah dimulai pasti ada yang meniru.
Ya tapi sementara ini, ini yang paling modern yang paling terbesar.

Jangan dicakap macam itu nanti besar kepala ini, jangan terlalu tinggi memuji sakitlah jatuh nanti.
Dan kami juga mau tahu bagaimana Al-Zaytun mendanai semua ini?

Kalau masalah dana bangsa Indonesia ini cukup besar jumlahnya 225 juta, kalau mereka kasih sepotong rokok saja satu hari satu biji sudah cukup banyak dan di sini manusianya sanggup memanage semua dana yang diberikan oleh bangsa tersebut dan tidak ada korup jujur nah jadilah seperti itu.

Apakah terbuka data-datanya?
Anda bertanya sudah dijawab.

Jadi dananya hanya dari orang Indonesia apakah juga dikumpul oleh ummat, Bapak bisa jelaskan?
Kita kumpulkan tentunya orang itu banyak kita ajak kami buat pendidikan semacam ini tidak dibantu uang oleh pemerintah bagaimana kalau anda saya ajak, termasuk you kami ajak mau apa tidak kalau you mau menginap di sini satu malam dua malam baru you kasih 10 sak semen itu namanya anda telah membantu, ummat banyak yang membantu caranya seperti itu.

Apakah tidak ada konflik bagaimana dijelaskan bahwa bisnis dengan pendidikan itu agak tidak cocok?

Kami cocok-cocok saja karena kehidupan ini bisnis dan pendidikan di sini juga berjalan, bisa berjalan.

 

 


 

Dan juga masalah dana apakah ada bantuan oleh negara asing?

Tidak ada, Indonesia kaya bangsanya besar.


Dari negara-negara di Saudi Arabia misalnya?

Belum ada. Kalau saya bilang tidak ada, tidak boleh, belum ada.

Tapi ada rencana?


Oh, kita tidak tahu mereka yang punya uang jangan tanya kemari tapi you tanya kepada raja-raja di sana, wahai raja apakah kau akan sumbang Al-Zaytun jika dijawab iya berarti ada.


Tapi raja-raja di sana sudah mengaproat  Al-Zaytun atau tidak?

Mestinya kami yang mengeproat janganlah raja itu namanya mencemar duli tak bolehlah macam itu.


Apakah Al-Zaytun sudah aproat mereka?

Dari sini sudah cukup Indonesia sudah cukup kaya mengapa harus mengemis ke negara lain harus belajar pada Lee Kuan Yew, negara kecil pandai berjuang untuk dirinya dan bangsanya, mengapa Indonesia yang negara besar ummatnya banyak penduduknya banyak tidak berani tampil dengan mandiri, boleh tho kalau kami seperti Lee Kuan Yew?


Tapi selama ini belum mengaproat raja-rajanya?

Mana boleh, kami ini pendidik di sini tak boleh meninggalkan lama-lama satu jam pun tak boleh, kalau nak pergi kesana mengaproat raja-raja susahlah itu.


Bapak bisa menjelaskan perbandingan dana yang dari santri, bisnis dan dari ummat  bagaimana porsinya di bagi-bagi?


Ya, begitulah berjalan seperti air, terkadang susut terkadang lebih, yang lebih di simpan di waduk-waduk.                                                 

Bagaimana Bapak mengatasi atau mencegah masalah korupsi?


Oh, kehidupan itu pasti ada saja korupsi tapi kita jaga, kita berikan satu lunas-lunas (aturan-aturan) yang harus di taati bersama.


Kembali ke soal kurikulum apakah Syaykh puas dengan kualitas pendidikan, kualitas guru di sini karena tidak ada SDM dari luar misalnya, apakah Syaykh tidak khawatir santri yang keluar dari sini kalau mereka ingin bekerja di luar negeri atau di perusahaan internasional ijasah dari sini bisa diterima?


 Hidup jangan pernah khawatir dan hidup tidak boleh merasa puas. Sukses kita ada di depan mata belum di tangan tapi kita harus kejar itu sukses dan apa yang kita persiapkan ini adalah sebagai global iducation sehingga nanti anak didik kita harapkan mampu berfikir antar bangsa, mampu bersolidaritas antar bangsa, mampu bertatanan antar bangsa itu yang kita harapkan.


Tapi bagaimana itu bisa di capai kalau di sini mereka enam tahun langsung dilaksanakan di sini dan tidak ada banyak interaksi dengan dunia di luar dan hanya gaul dengan ummat muslim di sini?


Kita selalu interaksi karena di sini muridnya muslim ya kita ajak berinteraksi dengan dunia luar, interaksi itu tak lah harus duduk bersama-sama.

Menurut persepsi saya wawasan santri pikirannya masih sempit dan dapat informasi hanya dari guru, ceramah. Apakah Syaykh tidak khawatir  mereka hanya hidup di lingkungan yang sempit ini?

Kami di sini tidak merasa sempit. Anda jangan tengok bahwa sekolah ini sudah berumur seribu tahun, sekolah ini baru berusia tiga tahun. Jika anak-anak kita paksakan mempunyai informasi sekaligus banyak tumpah semua tak tertampunglah semua, jadi step by step.

Bagaimana Bapak menginformasikan kepada mereka?


Kurikulum, tentulah kurikulum disampaikan step by step. Mendidik itu harus ada kurikulum.

Jadi kalau santri disini bila tidak puas dengan kulikulernya apakah mereka bebas untuk keluar?

 Masuk boleh keluar boleh. Kita tak punya hak untuk mengikat anak-anak orang di sini mendidik.

Jadi masalah terbesar di sini itu apa?  

Bukan masalah, masalah anak-anak biasalah, sebagai pendidik tak boleh menganggap itu masalah.

Sekarang Islam sedang menjadi sorotan di dunia Bagaimana Syaykh mensosialisasikan santri di sini bila mereka ada sedikit komplain tentang isu-isu Islam?
Islam sebuah agama yang toleran, Islam juga cinta damai sama dengan agama-agama lain Budha ingin damai dan toleran, Kristian ingin damai dan toleran, Hindu ingin damai toleran dan lain-lain harus hidup bersama.

Tadi saya bicara dengan beberapa santri  tapi mereka setengah hati untuk menolak kekerasan. Bagaimana Bapak mencegah agar di sini tidak terjadi seperti itu?

Di sini tidak ada yang seperti itu, di sini belum pernah ada baku hantam antar kawan pun tak ada.

Apakah isu-isu seperti bom Bali dan bom Merriot  juga dibicarakan oleh santri?

Bukan lagi dibiacarakan, di sini surat kabar masuk mereka diskusikan.


Secara terbuka?


Terbuka.
Tapi ternyata ada yang banyak simpatisan kepada Imam Samodra dan kawan-kawannya bagaimana sebagi guru besar Bapak mengatasi masalah itu?

Nggak masalah. Anak-anak jangan pernah dikekang pada satu sudut berikan kebebasan tatkala mereka sudah dewasa mereka mampu menimbang.

Apakah Bapak tidak khawatir dengan isu-isu fundamentalis?
Saya tidak pernah khawatir Islam itu tidak ada fondamintalis, tidak ada teroris, tidak ada apa-apa yang teroris bukan Islam tapi manusianya.

Tapi ada sejarah Bapak dulu terlibat Negara Islam...

Tidak pernah ada sejarah teroris. A.S. Panji Gumilang adalah manusia toleran dan damai dan Anda sendiri sudah saksikan nah itu mesti jadi kunci, bukan teroris. Pendidik dari sejak kecil sampai hari ini.

Jadi Bapak tidak khawatir bahwa santri di sini bisa diinfiltrasi oleh yang di luar?
Orang terdidik seperti AS Panji Gumilang tidak boleh khawatir harus yakin dan mampu menguasai lingkungannya.

Jadi Al-Zaytun apakah ada hubungannya dengan pesantren-pesantren yang lain?

Kalau yang namanya pendidik harus berhubungan dengan berbagai institusi pendidikan.

Walaupun pesantren seperti Ngruki?

Jangan di sebut satu-satu pesantren di sini akan berhubungan dengan pendidikan yang mampu menegakkan toleransi dan perdamaian.

Jadi kalau pesantren seperti Ngruki, pesantren yang mengajar Islam radikal boleh kerja sama?
Anda sudah teliti bahwa itu radikal?

Sedang meneliti...

Silahkan teliti jangan ditanya ke sini.

Waktu sedang teliti apakah Al-Zaytun berhubungan dengan...

Kami berhubungan dengan pendidikan yang menegakkan toleransi dan perdamaian, jangan di sebut satu instuisi namapun jangan disebut siapa saja yang menegakkan toleransi dan perdamaian berkawan.

Bapak kenal dengan Abu Bakar Ba’asyir?


Manusia yang diberitakan begitu tiap hari ya harus dibaca. Siapa yang tak membaca koran.

 

Bapak kenal dia pribadi?

Kalau pribadi dia disana kami di sini 


Bapak sangat akrab dengan Pak Hendro Priyono, apa hubungan Al-Zaytun dengan militer?
Dengan Anda saja akrab baru kenal setengah jam, Hendro Priyono bangsa Indonesia apa salahnya bila kami berkawan.

Apa hubungan militer dengan Al-Zaytun?

Militer itu mempertahankan negara, Al-Zaytun sebagai bangsa dan anggota negara, hubungan seperti bangsa dan pertahanannya.

Pendapat Bapak tentang isu di luar seperti di Poso?

Masalah ya mana ini?

Antara suku dan agama di Poso?


Oh... itu bisa diselesaikan. Kalau pemimpinnya mau menyelesaikan. Pemimpinnya saja belum menyelesaikan mengapa harus tanya ke Panji Gumilang. Kalau Panji Gumilang sudah duduk di atas baru menyelesaikan. Inya-Allah semenit selesai.

Bagaimana caranya?

Sekarang belum jadi. Bagaimana mau menyelesaikan.

Tentang keamanan di sini bagaimana Bapak mengatasi bahwa tidak ada infiltran yang masuk. Sebab di Indonesia seperti Poso dan lain-lainnya mudah dicampuri kelompok militan asing?

Semua saja seluruh penghuni di sini harus toleransi dan perdamaian jika semua sudah bersikap toleransi dan damai tak pandai (bisa) orang mau menginfiltrasi Al-Zaytun.

Kalau Al-Zaytun ke depan apakah nanti ada kerja sama dengan Universitas non muslim dari luar negara?


Sekarang sudah, LCDL itu bukan muslim. Kami punya hubungan dengan Amerika, Texax di London, Australia, New Zeland. Kami hidup beragama bukan harus di kamar sendiri. Kami juga harus berinteraksi, begitu kata Tuhan.

Apakah Bapak puas dengan langkah-langkah yang sudah diambil oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi terorisme di Indonesia?

Itu harus ditingkatkan lagi agar tidak ada  terorisme di Indonesia.

Bagaimana mereka harus meningkatkannya?

Ya kesadaran bersama bangsa ini bersama-sama pemerintah. Dan kalau pemerintah sedang menegakkan hal-hal yang berhubung kait dengan menetralisir terorisme jangan kita komentari puas dan tidak puas. Kita doakan ayo pemerintah cepat selesaikan persoalan teroris, mesti  begitu jadi kita dukung jangan kita komentari harus begini atau begitu.

Terima kasih banyak. Pak Panji Gumilang sungguh hebat.

Terima kasih kembali. Haseenah ini memang luar biasa pertanyaannya. Z. Sapto Raharjo, Awaluddin dan Baihaqi.